Adsense

Showing posts with label Aceh. Show all posts
Showing posts with label Aceh. Show all posts

Friday, September 5, 2014

Malaysia Ingin Belajar Cara Penerapan Syariat Islam di Aceh

Gubernur Aceh Zaini Abdullah berbincang dengan Menteri di Jabatan Perdana Menteri Malaysia, Mejar Jeneral Dato Seri Jamil Khir bin Baharom (B), yang melakukan kunjungan silaturahmi di Pendapa Gubernur Aceh, Rabu (3/9). SERAMBI/M ANSHAR

BANDA ACEH | Menteri Agama Malaysia, Dato Seri Jamil Khir bin Baharom bersama istri dan rombongan yang berjumlah lebih dari 20 orang melakukan pertemuan dengan Gubernur dr Zaini Abdullah di Pendapa Gubernur Aceh, Rabu (3/9) siang.
Dalam pertemuan itu, Menteri Agama Malaysia menyatakan, kunjungannya ke Aceh kemarin merupakan yang kedua kalinya. Delapan tahun lalu Dato Seri Jamil datang saat Aceh dalam masa rehab-rekons pascatsunami. Kali ini ia datang untuk melihat kemajuan pembangunan, terutama pelaksanaan syariat Islam, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat Aceh.
“Kami ingin mendengar langsung dari Gubernur Aceh dan pajabat terkait mengenai hal tersebut, sebagaimana kami sampaikan di awal pertemuan,” kata Menteri Agama Malaysia itu dalam pertemuan silaturahmi dengan gubernur dan pejabat teknis di jajaran Pemerintah Aceh.
Gubernur Zaini Abdullah pun dengan penuh semangat menerangkan bahwa perkembangan pembangunan Aceh di berbagai bidang pascakonflik dan tsunami, sudah banyak kemajuannya. Apakah itu pembangunan infrastruktur, pendidikan, ekonomi, maupun agama, terutama dalam penerapan pelaksanaan syariat Islam.
“Fokus yang kita kedepankan dalam pelaksanaan syariat Islam di Aceh, tidak hanya hukuman bagi yang melanggarnya, tapi juga upaya memajukan pendidikan, pelayanan kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat yang harus mengacu kepada asas islami,” kata Zaini Abdullah.
Menurutnya, negara-negara donatur yang pernah membantu Aceh pada fase rehab-rekons delapan tahun lalu, banyak yang terkejut melihat perkembangan pembangunan infrastruktur Aceh yang sangat pesat.
Bahkan, beberapa di antara mereka datang kembali ke Aceh untuk belajar dan ingin mengetahui kebijakan dan kiat apa yang dilakukan Pemerintah Aceh bersama elemen masyarakatnya untuk membuat Aceh cepat bangkit dan terlihat lebih maju. Apakah itu di bidang perdamaian dan reintegrasi, maupun percepatan pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan lainnya.
Kemajuan Aceh yang sangat pesat ini, ulas Gubernur Zaini, berkat bantuan dari berbagai negara di belahan dunia, termasuk Malaysia.
Meski Aceh sudah mengalami perubahan dan kemajuan yang sangat pesat, kata Zaini, tapi kemajuan yang dicapai saat ini masih perlu terus ditingkatkan lagi. “Pemerintah Aceh bersama masyarakatnya, perlu bekerja lebih keras lagi, untuk mengatasi ketertinggalan pembangunannya dari daerah lainnya di Indonesia. Sebagai contoh, ketertinggalan Aceh dari provinsi tetangganya, Sumut, saja masih sangat jauh,” kata gubernur.
Menanggapi penjelasan Gubernur Aceh tersebut, Menteri Agama Malaysia, Dato Seri Jamil Khir bin Baharom mengatakan, kendati Aceh masih tertinggal dari daerah tetangganya, tapi untuk beberapa hal pihak luar harus belajar dari Aceh.
Alasannya, karena kemajuan yang dicapai masyarakat Aceh dalam pelaksanaan penegakan syariat Islam, cukup pesat. “Ini yang membuat daerah lain harus belajar pada Aceh, termasuk kami dari Malaysia.
Orang Malaysia, banyak belajar ke Aceh, terutama ke UIN Ar-Raniry,” kata Menteri Dato Seri Jamil.
Secara spesifik Dato Seri Jamil menyebut bahwa kedatangannya ke Aceh bersama rombongan besar adalah untuk belajar banyak tentang penegakan syariat Islam di Aceh.
Setelah bersilaturahmi dengan Gubernur Aceh di pendapa, Dato Seri Jamil dan rombongan akan melanjutkan pertemuan pada hari kedua dengan Kakanwil Kemenag Aceh, kemudian Mahkamah Syar’iyah Aceh.
Setelah itu, rombongan ini akan menunaikan shalat Asar berjamaah di Masjid Raya Baiturahman, sekalian menyerahkan bantuan.   Selanjutnya akan dilakukan jamuan makan bersama di Hotel Hermes dengan Persatuan Kebangsaan Pelajar Malaysia yang sedang menuntut ilmu di Banda Aceh.
Pertemuan silaturrahmi antara Menteri Agama Malaysia dengan Gubernur Aceh itu berjalan singkat. Kehadiran Menteri Agama Malaysia itu disambut hangat oleh Pemerintah Aceh. Gubernur Zaini memerintahkan jajarannya untuk melayani tamu penting dari Malaysia itu dengan prima. “Layani tamu kita ini dengan baik karena itu merupakan adat kita di Aceh. Setiap tamu yang datang harus dimuliakan,” kata Zaini Abdullah.
Di akhir pertemuan, kedua belah pihak saling memberikan sejumlah cenderamata yang telah dipersiapkan. Gubernur Aceh memberikan plakat lambang Aceh yang bergambar Masjid Raya Baiturrahman, sedangkan Menteri Agama Malaysia memberikan tiga tanda mata. Di antaranya, kitab suci Alquran dalam kotak berukir dan kain sutra. (her) | Serambi Indonesia

Sunday, July 6, 2014

Tingkat Demokrasi di Aceh Tertinggi Se-Indonesia

Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) tahun 2013, Jumat 4 Juli 2014. Dari hasil penghitungan indeks, demokrasi di Indonesia tahun 2013 mengalami peningkatan dari tahun 2012. IDI nasional tahun 2013 sebesar 63,68 dari skala 0-100, naik 1,05 poin dibandingkan tahun 2012 sebesar 62,63.

"Meski mengalami peningkatan, tingkat demokrasi Indonesia masih tetap berada pada kategori sedang," kata Kepala BPS Suryamin di Jakarta.

BPS menggambarkan capaian tingkat demokrasi dalam IDI dengan skala 0-100. Dimana 0 adalah tingkat terendah dan 100 adalah tingkat tertinggi. Kemudian dari skala 0-100 dibagi ke dalam tiga kategori tingkat demokrasi, yakni 'baik' (di atas indeks 80), 'sedang' (indeks 60-80), dan 'buruk' (di bawah indeks 60).

Angka IDI 2013 merupakan indeks komposit yang disusun dari skor yang merujuk pada tiga aspek, yakni aspek kebebasan sipil terdiri dari variabel kebebasan berkumpul dan berserikat, kebebasan berpendapat, kebebasan berkeyakinan, kebebasan dari diskriminasi dengan rata-rata nasional 79,00, angka tersebut naik jika dibandingkan tahun 2012 sebesar 77,94.

Aspek hak-hak politik terdiri dari variabel hak memilih dan dipilih, partisipasi politik dalam pengambilan keputusan pengawasan pemerintah dengan rata-rata nasional 46,25, angka tersebut turun dibandingkan tahun 2012 sebesar 46,33.

Dan, aspek lembaga demokrasi terdiri dari variabel pemilu yang bebas dan adil, peran DPRD, peran partai politik peran birokrasi pemerintah daerah, peradilan yang independen dengan rata-rata nasional 72,11, angka tersebut naik bila dibandingkan tahun 2012 sebesar 69,28.

Suryamin mengatakan, angka dalam IDI tahun 2013 menunjukkan Indonesia saat ini berada dalam transisi demokrasi pasca reformasi. Di mana, hak kebebasan sipil dan lembaga demokrasi mengalami peningkatan. Namun di sisi lain, nilai indeks hak-hak politik cenderung tidak mengalami peningkatan, bahkan masuk kategori buruk.

"Dari data IDI 2013 diperoleh informasi pada aspek hak-hak politik masih terdapat kecenderungan penyampaian aspirasi dalam bentuk demonstrasi dengan cara kekerasan, seperti merusak, memblokir, membakar dan melakukan penyegelan kantor-kantor pemerintah," paparnya.

Dari aspek kebebasan sipil, Suryamin mengakui jika aspek ini selalu mendapatkan angka paling tinggi. Kondisi ini menunjukkan semakin rendahnya hambatan kebebasan berserikat dan berkumpul, kebebasan berpendapat sampai kebebasan dari diskriminasi.

Aspek lembaga demokrasi juga ikut mengalami peningkatan. Namun harus diakui sejumlah persoalan masih banyak ditemui, di antaranya keputusan hakim yang kontroversial, penghentian penyidikan yang kontroversial oleh jaksa atau polisi, dan tidak adanya inisiatif DPRD dalam menyusun dan mengajukan perda, serta kurangnya rekomendasi DPRD kepada eksekutif.

"Oleh karena itu, indikator tersebut memerlukan perhatian khusus agar nilainya dapat membaik," ujar Suryamin.

Dalam pengukuran IDI tahun 2013 ini, BPS melibatkan stakeholder lain seperti Kementerian Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Kementerian Dalam Negeri, United Nations Development Programme (UNDP) dan para tim ahli.

Pengolahan data indeks demokrasi ini berdasarkan coding data dari berita koran 33 provinsi, coding data kementerian dan dokumen Pemda, informasi lain dari LSM dan tokoh masyarakat.

Aceh Tertinggi

Terkait perkembangan IDI berdasarkan aspek dan provinsi pada tahun 2012-2013, terdapat 15 provinsi yang IDI-nya mengalami kenaikan indeks, sedangkan 18 provinsi turun. "Provinsi yang naik tertinggi itu Aceh, Jawa Barat, dan Gorontalo. Sedangkan indeks yang turun itu Lampung, Sumatera Barat, dan DKI Jakarta," kata Suryamin.

Tiga provinsi yang mengalami kenaikan terbesar diantaranya pertama, provinsi Aceh yang naik 9,54 poin dari 54,02 pada 2012 , menjadi 63,56 pada 2013.

Kedua, Jawa Barat mengalami peningkatan 8,13 poin dari 57,05 pada 2012 menjadi 65,18 pada 2013. Ketiga, Gorontalo yang indeksnya juga mengalami peningkatan dari 59,87 pada 2012 menjadi 67,21 pada 2013 atau naik 7,84 poin.

Di lain sisi pada 2013 terdapat 18 provinsi yang mengalami perubahan indeks menjadi lebih rendah, di antaranya terjadi pada provinsi Lampung yang turun 9,13 poin dari 72,26 menjadi 63,13 Sumatera Barat turun 6,17 poin dari 60,82 menjadi 54,11 dan DKI Jakarta turun 6,54 poin dari 77,72 menjadi 71,18.

Sejak dirilis pada 2009, IDI mengalami pola fluktuatif dan cenderung menurun selama lima tahun. Dia menyebutkan, indeks 2009 67,3, lalu 2010 tercatat 63,17. Pada tahun 2011 indeks naik tipis jadi 65,48, kemudian 2012 indeksnya turun jadi 62,63, dan 2013 naik lagi jadi 63,68.

"Pola fluktuatif IDI dengan tendensi menurun selama lima tahun sejak 2009 menandakan belum matangnya perilaku dan sikap masyarakat serta pelaku politik dalam berdemokrasi," ucapnya. Dia menambahkan pemerintah dan masyarakat perlu berperan untuk meningkatkan level IDI, agar demokrasi di Indonesia menjadi semakin baik.
Acuan Investasi

United Nations Development Programme (UNDP) berpendapat indeks demokrasi yang dikeluarkan BPS bisa menjadi acuan investor dalam menanam modal di Indonesia. Sebab, dalam penentuan indeks demokrasi ada indikator keamanan negara.

Head Democratic Governance Poverty Reduction Unit UNDP, Nurina Widagdo, mengatakan, salah satu penanda yang menjadi penilaian investor asing adalah masalah demonstrasi dan mogok kerja yang bersifat kekerasan. Indikatornya pada 2013 masih bernilai sangat buruk, yaitu masih 18,71. Turun dari 2012 yang tercatat 19,12.

"Investor bisa saja melihat hasil indeks demokrasi provinsi mana yang tinggi. Mereka mencari (daerah) berdasarkan indeks yang aman," kata Nurina di kantor BPS, Jakarta, Jumat 4 Juli 2014.

Menurut data BPS, ada 28 indikator yang menjadi penilaian dalam perhitungan indeks demokrasi Indonesia, antara lain: demonstrasi dan mogok kerja.

Investor bisa saja melihat indikator lain, seperti pengaduan masyarakat mengenai penyelenggaraan pemerintah yang nilainya pada 2013 mencapai 72,51. Nilainya ini naik dari 2012 yang hanya 69,91.

"Sebenarnya, utilisasi atau kegunaan indeks ini bermacam-macam. Kami belum sepenuhnya mengeksploitasi ini. Kadin (Kamar Dagang) Industri bisa memberi masukan kepada investor tentang stabilisasi dengan membawa indikator-indikator itu," kata dia.

Suryamin membenarkan pernyataan Nurina. Demonstrasi dan mogok kerja bisa mempengaruhi dunia usaha. "Kalau demo di jalan, di situ terblokir. Kalau tutup sehari, (dunia usaha) akan stop output berapa dan ini bisa berpengaruh pada produksinya," kata Suryamin.

Rating Ekonomi Naik

Di tempat terpisah, Anggota Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat Achsanul Qosasih berpendapat, naiknya Indeks Demokrasi Indonesia itu bisa meningkatkan rating ekonomi Indonesia di dunia. Menurutnya, kenaikan IDI menandakan secara total masyarakat Indonesia memiliki kesadaran berdemokrasi.

"Naiknya Indeks Demokrasi Indonesia bisa meningkatkan rating ekonomi kita di dunia dan menarik para investor untuk berinvestasi di Indonesia," kata Achsanul.

Ke depan, politisi Partai Demokrat itu mengatakan, perlu dilakukan percepatan perizinan dan pemberian insentif fiskal agar para investor luar semakin melirik Indonesia. "Misalnya dengan memberikan keringanan pajak bagi investor," jelas dia.

Dari sisi politik, Achsanul menilai naiknya indeks tersebut mengindikasikan proses politik berjalan dengan baik secara demokratis. Bahkan demokrasi juga berjalan sampai ke level paling bawah masyarakat.

"Sampai tingkat lurah demokrasi itu berjalan karena pemilihan berdasarkan suara terbanyak," ucapnya

Hal tersebut lanjut Achsanul, bisa terjadi karena potensi konflik dalam pemilu di daerah semakin berkurang, sehingga masyarakat menjadi penentu dalam kehidupan berdemokrasi. "Disitulah pentingnya suara rakyat. Dengan naiknya indeks demokrasi ini mereka akan memilih yang terbaik," tegasnya.

Sumber : Vivanews

Thursday, November 14, 2013

Menggugat Sejarah Asal-usul Pulau Sumatra


Apa yang sudah diketahui tentang Sumatera, bumi tempat cerita Malin Kundang lahir?
Kita sudah tahu bahwa pulau terbesar keenam di dunia itu rawan gempa. Ada patahan sepanjang lebih dari 1.000 km yang aktivitasnya siap mengguncang wilayah sekitarnya. Di lepas pantai, terdapat zona subduksi pemicu gempa dahsyat bermagnitudo 9,1 yang mengakibatkan tsunami mematikan di Aceh pada tahun 2004.
Namun, tak banyak orang yang tahu tentang bagaimana Sumatera terbentuk. Apakah kampung halaman orang Batak dan Minang itu dari dulu memang cuma satu keping daratan saja?
Sebelumnya, Sumatera dianggap tepian benua Eurasia. Di lepas pantai bagian barat Sumatera, terdapat zona subduksi tempat bertemunya lempeng samudra Indo-Australia dengan lempeng benua Eurasia. Berdasarkan anggapan tersebut, Sumatera pun dianggap sejak dahulu merupakan satu pulau.
Tetapi, riset terbaru meragukan pandangan lama itu. Menurut data geokimia yang dikumpulkan oleh peneliti geologi dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Iskandar Zulkarnain, Sumatera dulu pulau-pulau yang terpisah, setidaknya ibarat dua bagian daratan yang menyatu.
"Sumatera bukan sepenuhnya bagian dari lempeng benua Eurasia," kata Iskandar dalam orasi pengukuhan dirinya sebagai guru besar riset Agustus 2013 lalu.
Berdasarkan hasil analisis geokimia, wilayah Sumatera terbagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian barat yang merupakan busur kepulauan, bagian timur yang merupakan zona tepian lempeng Eurasia serta wilayah antarlempeng benua.
Di Bengkulu, wilayah yang merupakan bagian dari busur kepulauan adalah kota Bengkulu. Sementara, wilayah yang merupakan tepian Eurasia antara lain Lebok Tambang, dekat Muara Aman.
Kota lain di Sumatera yang diduga merupakan bagian dari busur kepulauan adalah Padang. Sementara, kota yang diduga merupakan bagian tepian Eurasia adalah Jambi, Pekanbaru, dan Palembang.
"Batasnya adalah sesar Sumatera,"  ucap Iskandar.
siaga.org Patahan Sumatera dan gempa-gempa yang pernah diakibatkan oleh aktivitasnya. Patahan Sumatera diangga sebagai batas antara wilayah Sumatera yang masuk lempeng Eurasia dengan busur kepulauan.

Untuk mengungkap asal-usul Sumatera itu, Iskandar mengumpulkan batuan volkanik dan intrusif di sepanjang Sumatera, diantaranya dari wilayah Lampung, Bengkulu, dan Madina, Sumatera Utara.
Puluhan batuan didapatkan, diantaranya 30 batu volkanik dari Lampung dan 40 batu volkanik dari Bengkulu. Kandungan kimia batuan, termasuk unsur utama (major elements), unsur jejak (trace elements), dan unsur jarang (rare elements) kemudian dilihat.
"Yang kita lihat terutama adalah unsur jejak dan unsur jarang. Kandungan unsur jejak dan unsur jarang pada batuan di busur kepulauan dan lempeng benua berbeda," jelas Iskandar.
Kandungan unsur batuan memang bisa menjadi indikasi asal-usul batuan tersebut, pada lingkungan seperti apa batuan terbentuk. Batu volkanik yang berasal dari lingkungan busur kepulauan memiliki kandungan Potassium, Ytterbium, dan Tantalum lebih tinggi namun Fosfat, Titanium, dan Strontium lebih rendah.
Data unsur dalam batuan yang didapatkan kemudian disusun dalam beberapa diagram, antara lain dalam diagram unsur Tantalum/Ytterbium vs Cerium/Fosfat dan Tantalum/Ytterbium vs Ytterbium. Plot dalam diagram akan menunjukkan sebuah pola.
"Pola yang terlihat menunjukkan asal-usul batuan," kata Iskandar.
Di Lampung , wilayah busur kepulauan ditandai dengan rasio Tantalum/Ytterbium kurang dari 2 dan Cerium/Fosfat kurang dari 1,8. Sementara, wilayah tepian benua punya rasio Tantalum/Ytterbium antara 2 hingga 4 dan Cerium/Fosfat lebih dari 1,8. Wilayah antarlempeng memiliki tasium Tantalum/Ytterbium lebh besar dari 6 dan Cerium/Fosfat lebih bersar dari 1.
Iskandar belum mengetahui asal busur kepulauan tersebut dan kapan busur kepulauan menyatu dengan Sumatera. Namun, ia memerkirakan, bersatunya busur kepulauan dengan lempeng benua Eurasia terjadi lebih dari 25 juta tahun lalu, lebih tua dari masa Miocene.
Tiga versi sejarah Sumatera
Geolog Awang Harun Satyana mengungkapkan, pandangan bahwa Sumatera tidak sepenuhnya merupakan bagian dari Eurasia sudah berkembang lama. Pada tahun 1984, N.R. Cameroon dari British Geological Survey A. Pulunggono dari Pertamina pernah menyampaikan gagasan itu.
Awang mengatakan, berdasarkan gagasan itu, bagian barat Sumatera disusun oleh busur Woyla. Busur lautan itu sekitar 150 juta tahun lalu berlokasi di dekat Australia, bersama daratan India dan Banda. Karena pergerakan tektonik, busur itu kemudian menyatu dengan Sumatera.
"Itu terjadi pada zaman Kapur tengah, sekitar 100 - 80 juta tahun lalu," kata Awang saat dihubungi Kompas.com beberapa waktu lalu.
Makalah yang ditulis oleh Robert Hall, pakar tektonik Asia Tenggara ternama dari University of London, berjudul "Late Jurassic–Cenozoic reconstructions of the Indonesian region and the Indian Ocean" sedikit membahas gagasan tentang bersatu atau naiknya busur Woyla dengan atau ke atas daratan Sumatera.
Pulunggono dan Cameroon, seperti dikutip Hall dalam makalahnya yang diterbitkan Elseveir tahun 2012, mengungkapkan bahwa busur Woyla yang naik ke Sumatera mencakup mikro-kontinen.
Geolog lain, M.R. Wajzer dan A.J. Barber, juga dari University of London, mengatakan bahwa busur Woyla merupakan busur intra-lautan yang terbentuk pada zaman Kapur Awal dan kemudian menumbuk Sumatera.
Hall sendiri menganggap bahwa terdapat mikro kontinen yang menabrak Sumatera pada zaman Kapur itu, yang ditandai dengan naiknya busur Woyla ke atas Sumatera. Mikro kontinen terus bergerak ke timur sehingga menghentikan sistem penunjaman yang ada dan akibatnya hampir tak ada aktivitas vulkanik pada saat itu.
Robert Hall Rekonstruksi Asia Tenggara 150 juta tahun lalu. Di dekat Australia, terdapat Busur Woyla yang kemudian akan menyatu dengan Sumatera.

Namun, menurut Iskandar, apa yang diungkapkan oleh Pulunggono, Cameroon, Barber, dan Hall sama sekali tidak menyebut adanya bagian Sumatera yang merupakan busur kepulauan.
"Mereka bicara pada Zaman Kapur (sekitar 100 juta tahun yang lalu) karena Woyla Group itu memang usianya sangat tua, sedangkan data saya berasal dari batuan volkanik berusia Miosen (kurang dari 25 juta tahun yang lalu)."
Rovicky Dwi Putrohari dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) mengungkapkan, gagasan bahwa Sumatera terdiri atas busur kepulauan pernah berkembang sebelumnya. Namun, penelitian Iskandar adalah salah satu yang paling awal memberi bukti ilmiah.
"Penelitian ini memberi bukti geokimia bahwa memang bagian barat Sumatera adalah busur kepulauan," katanya.
Menurut Rovicky, ada tiga versi sejarah geologi pembentukan Sumatera yang berkembang saat ini. Versi pertama mengungkapkan bahwa pulau Sumatera sepenuhnya bagian dari tepi lempeng benua Eurasia. Versi kedua, seperti yang diyakini Pulunggono, Cameroon, dan Hall, Sumatera terbagi atas lempeng benua Eurasia di bagian timur dan mikro-kontinen di bagian barat.
Sementara, dengan tambahan gagasan Iskandar, ada versi ketiga, dimana Sumatera terdiri dari tepi lempeng benua di bagian timur dan busur kepulauan di bagian barat.
Mana yang benar?
Rovicky mengungkapkan, banyak geolog saat ini memandang bahwa Sumatera merupakan lempeng benua Eurasia hanya untuk mempermudah saja.
Pada dasarnya, geolog setuju bahwa Sumatera tidak sepenuhnya merupakan bagian dari Eurasia. Namun, komponen lain Sumatera dan pembentukannya masih menjadi perdebatan.
Apa pentingnya sejarah Sumatera?
Iskandar mengungkapkan, pengetahuan tentang asal-usul Sumatera penting baik bagi kebencanaan maupun dalam bidang mineralogi.
Menurut Iskandar, bila Sumatera memang terdiri atas busur kepulauan dan lempeng benua Eurasia, gagasan itu juga harus diadaptasi dalam kebencanaan.
"Kalau berasal dari busur kepulauan yang merupakan samudera dan lempeng benua atau kontinen, maka pergerakan lempeng lebih fleksibel sehingga potensi gempa lebih besar," katanya.
Rovicky menuturkan, potensi gempa juga akan lebih besar bila bagian barat Sumatera tersusun atas mikro-kontinen.
"Akan lebih rapuh," paparnya.
Dalam bidang mineralogi, Iskandar mengatakan,  gagasan baru pembentukan Sumatera ini juga akan memengaruhi pengetahuan tentang penyebaran logam di Sumatera. "Wilayah timur Sumatera mungkin juga menyimpan logam berharga," kata Iskandar. 

Sumber : Kompas

Tuesday, October 29, 2013

dr. H. Zaini Abdullah Terima Anugerah Tertinggi Tun Perak.

Gubernur Aceh, dr H Zaini Abdullah (kiri) menerima anugerah tertinggi Tun Perak yang disematkan oleh Ketua Menteri Melaka, Datuk Seri Ir H Idris bin Harun pada acara puncak Konvensyen DMDI ke-14 di Hotel Hatten, Melaka, Senin (28/10) malam. DOK TIM DMDI ACEH

MELAKA - Gubernur Aceh Zaini Abdullah menerima anugerah tertinggi Tun Perak dari Ketua Menteri Melaka, Senin (28/10) malam. Anugerah Tun Perak ini berupa bintang jasa diberikan kepada pemimpin atau tokoh melayu yang telah berjasa memperjuangkan kemajuan tamaddun melayu dan Islam di negara masing-masing.
Anugerah Tun Perak disematkan oleh Ketua Menteri Melaka, Datuk Seri Ir H Idris bin Harun pada acara puncak Konvensyen DMDI ke-14 di Hotel Hatten Melaka. Acara tersebut juga dihadiri Tun Datuk Seri Utama Mohd Khalil bin Yakob selaku Yang Dipertuan Negeri Melaka, Presiden DMDI Senator Datuk Seri H Mohd Ali bin Rustam serta pimpinan DMDI 18 negara anggota DMDI sedunia.
Menurut Ketua Tim Penilai Anugerah Tun Perak, Prof Dr Datuk H Mohd Jamil Mukmin yang juga Wakil Presiden DMDI Melaka, sebagaimana dikutip Tim DMDI Aceh, penganugerahan Tun Perak pada Konvensyen DMDI ke-14 tahun ini selain untuk Gubernur Aceh juga kepada tiga tokoh Dunia Melayu Dunia Islam lainnya, yaitu Wakil Perdana Menteri Kamboja Datuk Okhna Othman Hassan, Wakil Gubernur Riau Drs HR Bambang Mit, dan Wakil Gubernur Sumatera Utara Tengku Ery Nuradi.
Datuk Mohd Jamil menambahkan, penganugerahan Tun Perak kepada Gubernur Aceh dilandasi pada hubungan historis antara Melaka dengan Aceh yang telah terjalin sejak abad 12. Hubungan tersebut terlihat dari peran para ulama Aceh dalam menyebarkan Islam ke Negeri Melayu Melaka dan akhirnya Sultan Iskandarsyah pimpinan negeri Melaka pada waktu itu masuk Islam dan pada tahun 1414 kawin dengan Putri Pase.  Bukti sejarah lainnya seperti adanya makam Syamsuddin Sumaterani dan Panglima Pidie di Negeri Melaka yang syahid dalam pertempuran mengusir Portugis dari Negeri Melaka pada abad 16.
Selain dilandasi hubungan historis, lanjut Datuk Mohd Jamil, penganugerahan tersebut juga dinilai dari segi upaya Gubernur Aceh dalam menegakkan syariat Islam secara sungguh-sungguh di Bumi Serambi Mekkah. Di samping itu juga penilaian ini dilakukan atas perhatian Gubernur Aceh dalam melakukan kerja sama terhadap program-program DMDI seperti pendidikan, ekonomi, sosial dan budaya.
Pengurus DMDI Aceh, Drs Aidi Kamal yang turut hadir dalam Konvensyen DMDI ke-14 di Melaka kepada Serambi melaporkan, ketika menerima Penganugerahan Tun Perak, Gubernur Aceh didampingi istrinya, Hj Niazah A Hamid dan Sekretaris Umum DMDI Aceh, Drs Bakhtiar Ishak.
Aidi Kamal menambahkan, Konvensyen DMDI ke-14 di Melaka kali ini dihadiri 1.000 peserta dari Indonesia, Singapura, Kamboja, Filipina, Brunei Darussalam, Thailand, Seri Langka, Australia, Afrika Selatan, Cina, dan tuan rumah Malaysia.
 
 
Sumber : Serambinews

Tuesday, August 20, 2013

Menelusuri Jejak Sejarah Perang Atjeh dari Media Asing

 
BELANDA mengultimatum Kesultanan Aceh pada 26 Maret 1873. Perang Aceh-Belanda dimulai. Sedikitnya 3.198 prajurit, termasuk 168 perwira KNIL yang dipimpin Jendral JHR Kohler mendarat di Pantai Cermin pada 8 April 1873.

Saat batalion-batalion mendarat di pantai Aceh, Belanda langsung menghadapi sistem perlawanan yang terorganisir dan rapi dari pasukan Kesultanan Aceh. Artileri pasukan Aceh lebih handal dari yang diperkirakan. Bahkan kapal perang Citadel van Antwerpen dihujani 12 tembakan meriam. Kendati bisa memukul mundur pasukan Aceh namun 9 prajurit Belanda tewas, 46 lainnya luka-luka akibat tebasan kelewang.

Sesaat Jenderal Kohler bersama ribuan prajuritnya berhasil menguasai muara Krueng Aceh dan mendirikan pangkalan militer di jalur masuk kerajaan itu. Dia kemudian bergerak menyerbu "Dalam" (Keraton dalam istilah Jawa) sebagai pusat pemerintahan Sultan Aceh di Banda Aceh. Belanda masuk dari jalur Krueng Aceh dan berhasil menduduki Masjid Raya Baiturrahman pada 11 April 1873.

Kohler berpikir bahwa Masjid Baiturrahman merupakan istana kesultanan karena letaknya berada di pusat kota. Belanda merasa sudah menguasai Aceh dan kondisi sudah bisa dikendalikan apalagi saat menyerang sama sekali tidak ada perlawanan.

Kohler mengambil kebijakan mengurangi jumlah prajuritnya dan meninggalkan masjid. Begitu dibiarkan kosong, pasukan Aceh di bawah pimpinan Panglima Polem dan beberapa pasukan dari tiga sagi bergerak menguasai tempat ibadah warga di ibukota tersebut.

Mengetahui hal ini, Kohler kembali mencoba merebut Masjid Baiturrahman. Hari ketiga pertempuran, 14 April 1873, Kohler tertembak oleh sniper Aceh pimpinan Teungku Di Lamnga saat berdiri di bawah pohon geuleumpang di halaman masjid. Sebutir peluru bersarang di kepala Jenderal Belanda itu.

Kematian Kohler membuat serdadu Belanda panik dan kocar-kacir. Posisi Kohler langsung diganti oleh Kolonel van Daalen yang menarik pasukannya ke pesisir pantai. Perang berkecamuk selama 10 hari di Pantai Cermin (Ulee Lheue).

Pasukan Aceh yang datang dari segala penjuru, seperti dari Peukan Aceh, Lambhuek, Lampuuk, Peukan Bada, Lambada, Krueng Raya, dari pelosok Aceh Besar lainnya turut dibantu oleh pasukan dari Teunom, Pidie, Peusangan dan wilayah Aceh lainnya.

Ribuan pasukan Aceh berhasil mendesak Belanda yang membuat prajurit mereka kewalahan dan moral pasukannya luntur. Belanda bisa dipukul mundur keluar dari pantai Aceh pada 25 April 1873.

Kekalahan ini membuat Belanda terkejut dan membuat publik Eropa serta Amerika gempar. Kekalahan Belanda dimuat dalam surat kabar London Times edisi 22 April 1873. Media itu memuat laporan lengkap dari Medan Perang Bandar Atjeh yang antara lain menulis: "Suatu kejadian yang luar biasa dalam sejarah penjajahan yang terjadi di Kepulauan Melayu. Kekuatan pasukan Eropa yang besar dikalahkan oleh tentara pribumi. Tentara Aceh berhasil dengan gemilang meraih kemenangan besar dalam peperangan yang menentukan. Musuh mereka bukan saja sudah kalah tetapi dipaksa berlari."

Dalam laporan itu, London Times juga menulis bahwa Aceh bukanlah tanah penjajahan Belanda, dan Belanda sama sekali tidak berhak menyerang Aceh. Sementara surat kabar Amerika, The New York Times pada edisi 6 Mei 1873 menulis: "Suatu pertempuran berlumuran darah terjadi di Aceh. Serangan Belanda berhasil ditangkis dengan penyembelihan besar-besaran terhadap tentara Belanda. Panglima Belanda dibunuh dan tentaranya lari tunggang langgang."

Di sisi lain Harian The New York Times pada 15 Mei 1873 mengomentari perang Aceh dalam artikel berjudul: Aceh.

"...Segera akan diketahui oleh masyarakat bahwa Aceh itu bukanlah bangsa biadab yang tidak sadar atau tenggang rasa. Mereka adalah bangsa islami yang baik dan menghormati nilai-nilai perjuangan pahlawan-pahlawan mereka..."

"Segera akan terbukti bahwa mereka sebagai musuh sekarang juga memiliki tanah jajahan sendiri pada suatu waktu dan ada waktu ketika mereka begitu kuat hingga dapat mengepung armada Portugis di Malaka. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Sultan Aceh adalah sahabat karib Raja Inggris James I yang memberikan dua buah meriam besar kepada Sultan Aceh. Kini meriam itu turut mempertahankan istana penggantinya di Sumatera."


Berita-berita ini terus mengisi halaman utama media-media di Eropa dan Amerika. Arus informasi mengenai perang Aceh terus mengalir dari koresponden Reuters William Marshal di Penang yang memperoleh berita dari Stuart Herriot, pedagang asal Scotlandia. Herriot dikenal akrab dengan penduduk pribumi dan menjadi penasehat hukum bila berurusan dengan pengadilan atau orang Eropa. Dia juga menjadi anggota Dewan Kota Penang, dan mendukung sejumlah kegiatan serta kepentingan pribumi Melayu.

Herriot menjadi narasumber penting bagi Marshall dalam urusan orang pribumi Melayu dan Aceh. Keduanya dikenal sebagai anti Belanda, pro Melayu, menentang campur tangan Inggris terhadap negeri-negeri Melayu. Mereka tidak senang kepada Gubernur Harry Ord yang terlalu berpihak kepada Belanda dan membiarkan Aceh diserbu hingga merusak perdagangan bebas di Selat Malaka.

Pemberitaan itu sempat memaksa Perdana Menteri William Ewart Gladstone dan Menteri Luar Negeri George Granville untuk mempertimbangkan kembali sikap Inggris mengenai ekspansi Belanda terhadap Aceh. Namun, Den Haag tetap berharap sikap toleran dari London mengenai aksinya di Aceh, setelah keduanya mengikat perjanjian Persahabatan 1871.

Menteri Luar Negeri Belanda Gericke van Herwijnen menginstruksikan kepada Duta Besar Charles van Bijlandt di London untuk mendekati dan meyakinkan pemerintah Inggris agar selalu memperoleh dukungan. Negara kincir angin ini memerlukan peran serta Inggris untuk mengantisipasi tekanan internasional dari Amerika dan negeri-negeri Eropa lainnya.

Dukungan Inggris terhadap Belanda itu membuat mayoritas pedagang Inggris di Singapura membenci pemerintahannya sendiri. Menurut mereka kebijakan yang diambil pimpinan negaranya telah merugikan pedagang Inggris. Opini publik yang menjatuhkan kredibilitas penguasa Inggris kian hari semakin deras akibat perang Aceh. Mereka mencela kebijakan pemerintahan yang hanya berpangku tangan membiarkan Belanda melakukan agresi di Sumatera dan Aceh.

Hal itu mendapat perhatian konservatif pimpinan Perdana Menteri William Gladstone yang mengkhawatirkan bisa mempengaruhi citra kepemimpinannya. Akhirnya pemerintah Inggris menekan pemilik Kantor Berita Reuters yaitu Baron Paul Julius von Reuter untuk meredam pemberitaan tentang perang Aceh. Akibatnya berita-berita Aceh mulai hilang di koran-koran Eropa dan sejak Juni 1874, koresponden Reuters Marshall dilarang meliput serta berhubungan dengan orang-orang Aceh. 
 
Sumber : The Atjeh Post
BELANDA mengultimatum Kesultanan Aceh pada 26 Maret 1873. Perang Aceh-Belanda dimulai. Sedikitnya 3.198 prajurit, termasuk 168 perwira KNIL yang dipimpin Jendral JHR Kohler mendarat di Pantai Cermin pada 8 April 1873.
Saat batalion-batalion mendarat di pantai Aceh, Belanda langsung menghadapi sistem perlawanan yang terorganisir dan rapi dari pasukan Kesultanan Aceh. Artileri pasukan Aceh lebih handal dari yang diperkirakan. Bahkan kapal perang Citadel van Antwerpen dihujani 12 tembakan meriam. Kendati bisa memukul mundur pasukan Aceh namun 9 prajurit Belanda tewas, 46 lainnya luka-luka akibat tebasan kelewang.
Sesaat Jenderal Kohler bersama ribuan prajuritnya berhasil menguasai muara Krueng Aceh dan mendirikan pangkalan militer di jalur masuk kerajaan itu. Dia kemudian bergerak menyerbu "Dalam" (Keraton dalam istilah Jawa) sebagai pusat pemerintahan Sultan Aceh di Banda Aceh. Belanda masuk dari jalur Krueng Aceh dan berhasil menduduki Masjid Raya Baiturrahman pada 11 April 1873.
Kohler berpikir bahwa Masjid Baiturrahman merupakan istana kesultanan karena letaknya berada di pusat kota. Belanda merasa sudah menguasai Aceh dan kondisi sudah bisa dikendalikan apalagi saat menyerang sama sekali tidak ada perlawanan.
Kohler mengambil kebijakan mengurangi jumlah prajuritnya dan meninggalkan masjid. Begitu dibiarkan kosong, pasukan Aceh di bawah pimpinan Panglima Polem dan beberapa pasukan dari tiga sagi bergerak menguasai tempat ibadah warga di ibukota tersebut.
Mengetahui hal ini, Kohler kembali mencoba merebut Masjid Baiturrahman. Hari ketiga pertempuran, 14 April 1873, Kohler tertembak oleh sniper Aceh pimpinan Teungku Di Lamnga saat berdiri di bawah pohon geuleumpang di halaman masjid. Sebutir peluru bersarang di kepala Jenderal Belanda itu.
Kematian Kohler membuat serdadu Belanda panik dan kocar-kacir. Posisi Kohler langsung diganti oleh Kolonel van Daalen yang menarik pasukannya ke pesisir pantai. Perang berkecamuk selama 10 hari di Pantai Cermin (Ulee Lheue).
Pasukan Aceh yang datang dari segala penjuru, seperti dari Peukan Aceh, Lambhuek, Lampuuk, Peukan Bada, Lambada, Krueng Raya, dari pelosok Aceh Besar lainnya turut dibantu oleh pasukan dari Teunom, Pidie, Peusangan dan wilayah Aceh lainnya.
Ribuan pasukan Aceh berhasil mendesak Belanda yang membuat prajurit mereka kewalahan dan moral pasukannya luntur. Belanda bisa dipukul mundur keluar dari pantai Aceh pada 25 April 1873.
Kekalahan ini membuat Belanda terkejut dan membuat publik Eropa serta Amerika gempar. Kekalahan Belanda dimuat dalam surat kabar London Times edisi 22 April 1873. Media itu memuat laporan lengkap dari Medan Perang Bandar Atjeh yang antara lain menulis: "Suatu kejadian yang luar biasa dalam sejarah penjajahan yang terjadi di Kepulauan Melayu. Kekuatan pasukan Eropa yang besar dikalahkan oleh tentara pribumi. Tentara Aceh berhasil dengan gemilang meraih kemenangan besar dalam peperangan yang menentukan. Musuh mereka bukan saja sudah kalah tetapi dipaksa berlari."
Dalam laporan itu, London Times juga menulis bahwa Aceh bukanlah tanah penjajahan Belanda, dan Belanda sama sekali tidak berhak menyerang Aceh. Sementara surat kabar Amerika, The New York Times pada edisi 6 Mei 1873 menulis: "Suatu pertempuran berlumuran darah terjadi di Aceh. Serangan Belanda berhasil ditangkis dengan penyembelihan besar-besaran terhadap tentara Belanda. Panglima Belanda dibunuh dan tentaranya lari tunggang langgang."
Di sisi lain Harian The New York Times pada 15 Mei 1873 mengomentari perang Aceh dalam artikel berjudul: Aceh.
"...Segera akan diketahui oleh masyarakat bahwa Aceh itu bukanlah bangsa biadab yang tidak sadar atau tenggang rasa. Mereka adalah bangsa islami yang baik dan menghormati nilai-nilai perjuangan pahlawan-pahlawan mereka..."
"Segera akan terbukti bahwa mereka sebagai musuh sekarang juga memiliki tanah jajahan sendiri pada suatu waktu dan ada waktu ketika mereka begitu kuat hingga dapat mengepung armada Portugis di Malaka. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Sultan Aceh adalah sahabat karib Raja Inggris James I yang memberikan dua buah meriam besar kepada Sultan Aceh. Kini meriam itu turut mempertahankan istana penggantinya di Sumatera."
Berita-berita ini terus mengisi halaman utama media-media di Eropa dan Amerika. Arus informasi mengenai perang Aceh terus mengalir dari koresponden Reuters William Marshal di Penang yang memperoleh berita dari Stuart Herriot, pedagang asal Scotlandia. Herriot dikenal akrab dengan penduduk pribumi dan menjadi penasehat hukum bila berurusan dengan pengadilan atau orang Eropa. Dia juga menjadi anggota Dewan Kota Penang, dan mendukung sejumlah kegiatan serta kepentingan pribumi Melayu.
Herriot menjadi narasumber penting bagi Marshall dalam urusan orang pribumi Melayu dan Aceh. Keduanya dikenal sebagai anti Belanda, pro Melayu, menentang campur tangan Inggris terhadap negeri-negeri Melayu. Mereka tidak senang kepada Gubernur Harry Ord yang terlalu berpihak kepada Belanda dan membiarkan Aceh diserbu hingga merusak perdagangan bebas di Selat Malaka.
Pemberitaan itu sempat memaksa Perdana Menteri William Ewart Gladstone dan Menteri Luar Negeri George Granville untuk mempertimbangkan kembali sikap Inggris mengenai ekspansi Belanda terhadap Aceh. Namun, Den Haag tetap berharap sikap toleran dari London mengenai aksinya di Aceh, setelah keduanya mengikat perjanjian Persahabatan 1871.
Menteri Luar Negeri Belanda Gericke van Herwijnen menginstruksikan kepada Duta Besar Charles van Bijlandt di London untuk mendekati dan meyakinkan pemerintah Inggris agar selalu memperoleh dukungan. Negara kincir angin ini memerlukan peran serta Inggris untuk mengantisipasi tekanan internasional dari Amerika dan negeri-negeri Eropa lainnya.
Dukungan Inggris terhadap Belanda itu membuat mayoritas pedagang Inggris di Singapura membenci pemerintahannya sendiri. Menurut mereka kebijakan yang diambil pimpinan negaranya telah merugikan pedagang Inggris. Opini publik yang menjatuhkan kredibilitas penguasa Inggris kian hari semakin deras akibat perang Aceh. Mereka mencela kebijakan pemerintahan yang hanya berpangku tangan membiarkan Belanda melakukan agresi di Sumatera dan Aceh.
Hal itu mendapat perhatian konservatif pimpinan Perdana Menteri William Gladstone yang mengkhawatirkan bisa mempengaruhi citra kepemimpinannya. Akhirnya pemerintah Inggris menekan pemilik Kantor Berita Reuters yaitu Baron Paul Julius von Reuter untuk meredam pemberitaan tentang perang Aceh. Akibatnya berita-berita Aceh mulai hilang di koran-koran Eropa dan sejak Juni 1874, koresponden Reuters Marshall dilarang meliput serta berhubungan dengan orang-orang Aceh.
- See more at: http://www.atjehpost.com/sejarah_read/2013/08/20/63176/0/39/Perang-Atjeh-dan-cerita-Reuters#sthash.QJQlDTwp.dpuf
BELANDA mengultimatum Kesultanan Aceh pada 26 Maret 1873. Perang Aceh-Belanda dimulai. Sedikitnya 3.198 prajurit, termasuk 168 perwira KNIL yang dipimpin Jendral JHR Kohler mendarat di Pantai Cermin pada 8 April 1873.
Saat batalion-batalion mendarat di pantai Aceh, Belanda langsung menghadapi sistem perlawanan yang terorganisir dan rapi dari pasukan Kesultanan Aceh. Artileri pasukan Aceh lebih handal dari yang diperkirakan. Bahkan kapal perang Citadel van Antwerpen dihujani 12 tembakan meriam. Kendati bisa memukul mundur pasukan Aceh namun 9 prajurit Belanda tewas, 46 lainnya luka-luka akibat tebasan kelewang.
Sesaat Jenderal Kohler bersama ribuan prajuritnya berhasil menguasai muara Krueng Aceh dan mendirikan pangkalan militer di jalur masuk kerajaan itu. Dia kemudian bergerak menyerbu "Dalam" (Keraton dalam istilah Jawa) sebagai pusat pemerintahan Sultan Aceh di Banda Aceh. Belanda masuk dari jalur Krueng Aceh dan berhasil menduduki Masjid Raya Baiturrahman pada 11 April 1873.
Kohler berpikir bahwa Masjid Baiturrahman merupakan istana kesultanan karena letaknya berada di pusat kota. Belanda merasa sudah menguasai Aceh dan kondisi sudah bisa dikendalikan apalagi saat menyerang sama sekali tidak ada perlawanan.
Kohler mengambil kebijakan mengurangi jumlah prajuritnya dan meninggalkan masjid. Begitu dibiarkan kosong, pasukan Aceh di bawah pimpinan Panglima Polem dan beberapa pasukan dari tiga sagi bergerak menguasai tempat ibadah warga di ibukota tersebut.
Mengetahui hal ini, Kohler kembali mencoba merebut Masjid Baiturrahman. Hari ketiga pertempuran, 14 April 1873, Kohler tertembak oleh sniper Aceh pimpinan Teungku Di Lamnga saat berdiri di bawah pohon geuleumpang di halaman masjid. Sebutir peluru bersarang di kepala Jenderal Belanda itu.
Kematian Kohler membuat serdadu Belanda panik dan kocar-kacir. Posisi Kohler langsung diganti oleh Kolonel van Daalen yang menarik pasukannya ke pesisir pantai. Perang berkecamuk selama 10 hari di Pantai Cermin (Ulee Lheue).
Pasukan Aceh yang datang dari segala penjuru, seperti dari Peukan Aceh, Lambhuek, Lampuuk, Peukan Bada, Lambada, Krueng Raya, dari pelosok Aceh Besar lainnya turut dibantu oleh pasukan dari Teunom, Pidie, Peusangan dan wilayah Aceh lainnya.
Ribuan pasukan Aceh berhasil mendesak Belanda yang membuat prajurit mereka kewalahan dan moral pasukannya luntur. Belanda bisa dipukul mundur keluar dari pantai Aceh pada 25 April 1873.
Kekalahan ini membuat Belanda terkejut dan membuat publik Eropa serta Amerika gempar. Kekalahan Belanda dimuat dalam surat kabar London Times edisi 22 April 1873. Media itu memuat laporan lengkap dari Medan Perang Bandar Atjeh yang antara lain menulis: "Suatu kejadian yang luar biasa dalam sejarah penjajahan yang terjadi di Kepulauan Melayu. Kekuatan pasukan Eropa yang besar dikalahkan oleh tentara pribumi. Tentara Aceh berhasil dengan gemilang meraih kemenangan besar dalam peperangan yang menentukan. Musuh mereka bukan saja sudah kalah tetapi dipaksa berlari."
Dalam laporan itu, London Times juga menulis bahwa Aceh bukanlah tanah penjajahan Belanda, dan Belanda sama sekali tidak berhak menyerang Aceh. Sementara surat kabar Amerika, The New York Times pada edisi 6 Mei 1873 menulis: "Suatu pertempuran berlumuran darah terjadi di Aceh. Serangan Belanda berhasil ditangkis dengan penyembelihan besar-besaran terhadap tentara Belanda. Panglima Belanda dibunuh dan tentaranya lari tunggang langgang."
Di sisi lain Harian The New York Times pada 15 Mei 1873 mengomentari perang Aceh dalam artikel berjudul: Aceh.
"...Segera akan diketahui oleh masyarakat bahwa Aceh itu bukanlah bangsa biadab yang tidak sadar atau tenggang rasa. Mereka adalah bangsa islami yang baik dan menghormati nilai-nilai perjuangan pahlawan-pahlawan mereka..."
"Segera akan terbukti bahwa mereka sebagai musuh sekarang juga memiliki tanah jajahan sendiri pada suatu waktu dan ada waktu ketika mereka begitu kuat hingga dapat mengepung armada Portugis di Malaka. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Sultan Aceh adalah sahabat karib Raja Inggris James I yang memberikan dua buah meriam besar kepada Sultan Aceh. Kini meriam itu turut mempertahankan istana penggantinya di Sumatera."
Berita-berita ini terus mengisi halaman utama media-media di Eropa dan Amerika. Arus informasi mengenai perang Aceh terus mengalir dari koresponden Reuters William Marshal di Penang yang memperoleh berita dari Stuart Herriot, pedagang asal Scotlandia. Herriot dikenal akrab dengan penduduk pribumi dan menjadi penasehat hukum bila berurusan dengan pengadilan atau orang Eropa. Dia juga menjadi anggota Dewan Kota Penang, dan mendukung sejumlah kegiatan serta kepentingan pribumi Melayu.
Herriot menjadi narasumber penting bagi Marshall dalam urusan orang pribumi Melayu dan Aceh. Keduanya dikenal sebagai anti Belanda, pro Melayu, menentang campur tangan Inggris terhadap negeri-negeri Melayu. Mereka tidak senang kepada Gubernur Harry Ord yang terlalu berpihak kepada Belanda dan membiarkan Aceh diserbu hingga merusak perdagangan bebas di Selat Malaka.
Pemberitaan itu sempat memaksa Perdana Menteri William Ewart Gladstone dan Menteri Luar Negeri George Granville untuk mempertimbangkan kembali sikap Inggris mengenai ekspansi Belanda terhadap Aceh. Namun, Den Haag tetap berharap sikap toleran dari London mengenai aksinya di Aceh, setelah keduanya mengikat perjanjian Persahabatan 1871.
Menteri Luar Negeri Belanda Gericke van Herwijnen menginstruksikan kepada Duta Besar Charles van Bijlandt di London untuk mendekati dan meyakinkan pemerintah Inggris agar selalu memperoleh dukungan. Negara kincir angin ini memerlukan peran serta Inggris untuk mengantisipasi tekanan internasional dari Amerika dan negeri-negeri Eropa lainnya.
Dukungan Inggris terhadap Belanda itu membuat mayoritas pedagang Inggris di Singapura membenci pemerintahannya sendiri. Menurut mereka kebijakan yang diambil pimpinan negaranya telah merugikan pedagang Inggris. Opini publik yang menjatuhkan kredibilitas penguasa Inggris kian hari semakin deras akibat perang Aceh. Mereka mencela kebijakan pemerintahan yang hanya berpangku tangan membiarkan Belanda melakukan agresi di Sumatera dan Aceh.
Hal itu mendapat perhatian konservatif pimpinan Perdana Menteri William Gladstone yang mengkhawatirkan bisa mempengaruhi citra kepemimpinannya. Akhirnya pemerintah Inggris menekan pemilik Kantor Berita Reuters yaitu Baron Paul Julius von Reuter untuk meredam pemberitaan tentang perang Aceh. Akibatnya berita-berita Aceh mulai hilang di koran-koran Eropa dan sejak Juni 1874, koresponden Reuters Marshall dilarang meliput serta berhubungan dengan orang-orang Aceh.
- See more at: http://www.atjehpost.com/sejarah_read/2013/08/20/63176/0/39/Perang-Atjeh-dan-cerita-Reuters#sthash.QJQlDTwp.dpuf

Friday, August 2, 2013

Pemerintah Aceh dan Pusat Bahas Soal PP Pengelolaan Minyak di ZEE

 
JAKARTA - Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) sedang menyiapkan dua peraturan pemerintah (PP) dan satu peraturan presiden (Perpres) sebagai penjabaran dari Perjanjian Helsinki pada 15 Agustus 2005.
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Gamawan Fauzi mengatakan pembahasan PP dan Perpres itu dilakukan serentak dan sudah dibahas interdepartemen di Pemerintah atas usulan masyarakat dan Pemda Aceh pada saat itu.
"PP itu antara lain soal minyak lepas pantai yang masuk ZEE (Zona Ekonomi Ekslusif), kewenangan pertanahan yang mereka minta, menyangkut masalah pendidikan agama di Aceh dan Gunung Leuser," kata Mendagri di Jakarta, Jumat (2/8).
Peraturan tersebut dibuat dengan mengacu pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh pascaperdamaian antara Pemerintah pusat dan kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang sempat menuntut pemisahan diri dari NKRI.
Mendagri menambahkan selain pembahasan PP dan Perpres tersebut, tim gabungan dari kedua belah pihak juga membahas mengenai penetapan bendera daerah yang masih menjadi polemik karena menggunakan simbol dan lambang menyerupai bendera GAM.
"Sekarang draf-nya sudah di tangan Pemda Aceh dan tadi malam di Surabaya saya sudah lapor ke Presiden (Susilo Bambang Yudhoyono)," kata Mendagri.
Sebelumnya, Gubernur Aceh Zaini Abdullah bersama perwakilan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) berada di Jakarta untuk melakukan perundingan dengan Kemendagri mengenai Qanun (Perda) Nomor 3 Tahun 2013.
Dalam perundingan tersebut, Zaini Abdullah mendesak Pemerintah untuk segera menyelesaikan dan mengimplementasikan isi perjanjian Helsinki tersebut.Tuntaskan apa yang dicantumkan dalam MoU Helsinki dan UU Aceh.
Selesaikan apa yang jadi janji pemerintah pusat, seperti wewenang Pemerintah Aceh, PP soal Migas, tanah, dan lainnya," kata Zaini usai perundingan di Gedung Kemendagri, Rabu (31/7/2013).
Sumber : Suara Karya / The Globe Journal

Thursday, June 27, 2013

Ketika Cristiano Ronaldo dan Martunis Reunian di Bali



Cristiano Ronaldo dan Martunis di Bali


MUNGKIN Martunis tak pernah menyangka. Di usianya yang menginjak 16 tahun ia kembali bertemu bintang Real Madrid, Cristiano Ronaldo. Dulu, Martunis berjumpa Ronaldo pada 2005. Kala itu, Ronaldo masih berseragam Manchester United. Usia Martunis pun sekitar 8 tahun.

Ronaldo menyambangi Aceh dan bertemu Martunis ketika ia melihat tayangan di televisi seorang bocah tersangkut di pohon bakau usai dihanyutkan gelombang tsunami. Tubuh cungkring Martunis berbalut seragam tim nasional Portugal, yang juga dibela Ronaldo.

Saat peristiwa itu terjadi, Martunis masih duduk di kelas III SD. Pagi itu, 24 Desember 2004, Martunis bermaksud bermain bola bersama rekannya. Ia yang sangat mengidolakan Ronaldo memakai baju Portugal. Sayangnya, tsunami datang tanpa diundang. Martunis pun berlari menyelamatkan diri bersama ibu dan adiknya dengan menumpang sebuah mobil pikap.

Menurut cerita ayah Martunis, Sarbini, pikap yang ditumpangi terbawa arus tsunami. Martunis pun terpisah dengan adik dan orang tuanya. Ia terseret gelombang laut. Martunis selamat setelah meraih sepotong kayu yang membuatnya bisa mengapung. Ia selamat setelah memanjat pohon bakau di kawasan rawa-rawa dekat makam Teungku Syiah Kuala.

Warga menemukannya dalam kondisi lemas setelah 19 hari kemudian. Pada 15 Juni 2005, televisi Inggris menyiarkan kabar tentang Martunis. Di Portugal, pelatih dan para pemain sepakbola negara itu langsung bersimpati pada Martunis yang memakai kaos tim nasional negara itu. Selain kunjungan Ronaldo ke Aceh, Martunis pun diundang ke Eropa. Oprah Winfrey menjulukinya sebagai bocah ajaib abad ini. Itu lantaran Martunis bisa selamat dari bencana mahadahsyat yang meluluhlantakkan sepertiga wilayah Aceh. 

Pertemuan dengan Martunis ternyata begitu membekas di hati Ronaldo. Ketika menjadi Duta Save The Children belum lama ini, Ronaldo mengatakan kisah Martunis begitu membekas dalam dirinya. Kepada The Sun, Ronaldo mengatakan, “Aku ada di sana (Aceh) untuk mengunjungi tempat-tempat bencana dan mendengar cerita rakyat. Begitu banyak orang mati itu luar biasa. Lebih dari 200 ribu. “
***
KINI, delapan tahun berlalu. Di Tanjung Benoa, Bali, Martunis kembali bertemu idolanya itu. Ronaldo datang ke Bali sebagai Duta Mangrove.
Di Bali, Ronaldo diterima langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Ibu Ani di Tanjung Benoa, Nusa Dua, Bali.
Sebelum menanam mangrove, seperti dilansir merdeka.com, Ronaldo memberikan jersey Real Madrid warna putih kepada SBY dan Ibu Ani. Kedua jersey tersebut bernomor 7, sama seperti Ronaldo gunakan saat merumput bersama Los Blancos, julukan Real Madrid.
Jersey yang diberikan kepada SBY dan Ibu Ani juga terdapat tanda tangan pacar supermodel Irina Shayk itu di belakang kiri bawah jersey tersebut. Ronaldo, SBY dan Ibu Ani.
Ke Bali, Ronaldo juga memboyong kekasihnya yang berasal dari Rusia itu. Ia memboyong Irina ke Bali dengan sebuah jet pribadi nanmewah.
Karena menggunakan pesawat jet pribadi, Ronaldo menghabiskan waktu perjalanannya dengan santai.
Ronaldo mendokumentasikan foto perjalanannya dan mengunggah di akun twitternya @cristiano. Dalam foto yang diberi title "Enjoying the vacation" itu, Ronaldo berpose dengan Irina di dalam jet.
Ronaldo benar-benar terlihat santai hanya dengan celana pendek dan singlet putih. Sebuah kaca mata menggantung di bajunya. Sementara  Irina memakai dress hitam polos dengan rambut tergerai.
Setibanya di Bali dan menginap di kawasan Nusa Dua, menurut panitia, CR7-julukan Ronaldo, tidak rewel urusan makanan.
"Tidak ada permintaan khusus. Jamuan makannya seperti kepada tamu kami. Menunya ada ikan, daging, salad, ya seperti itu," kata pengusaha nasional Tomy Winata di Denpasar, Selasa malam, saat menyambut kedatangan Ronaldo.
Sebagai pihak yang terlibat mendatangkan pemain terbaik dunia tahun 2008 bernomor punggung 7 tersebut, Tomy berusaha menjamu tamunya sebaik-baiknya.
"Waktu ketemu di Madrid bulan Maret 2013, saya dijamu makan oleh Ronaldo. Kini giliran saya yang menjamu Ronaldo," kata Tomy yang didampingi Direktur Artha Graha Networks Wisnu Tjandra. Seperti dikutip dari Antara, Selasa 25 Juni 2013.
***
RONALDO lahir di Funchal, Madeira, Portugal pada 5 Februari 1985. Pemain bernama lengkap Cristiano Ronaldo dos Santos Aveiro itu memegang rekor sebagai pemain termahal di dunia ketika ditransfer Real Madrid dari Manchester United pada musim panas 2009 senilai 132 juta dolar atau lebih dari 1,3 triliun rupiah.
Dia mulai terkenal sejak bergabung dengan United sejak 2003. Awalnya, Ronaldo memilih nomor punggung 28 kala pertama bergabung dengan Setan Merah. Namun dia diberikan nomor 7 oleh Sir Alex Ferguson.
Debut pertamanya bersama Manchester United meraih kesuksesan saat berhasil mencetak gol perdana di Inggris saat mengalahkan Portsmouth 3-0 pada 1 November 2003.
Dua tahun usai bergabung dengan MU, Ronaldo dinobatkan sebagai pemain muda terbaik tahun 2005. Karirnya di Old Trafford terus berkembang. Pada bulan November dan Desember 2006, The Rocket--julukan lain Ronaldo yang mengacu kepada gerakan Ronaldo yang tak terhentikan seperti rocket--berturut-turut menerima penghargaan sebagai pemai terbaik Premiership.
Bersama Manchester United, Ronaldo berhasil merebut gelar juara Premiership pertama mereka dalam empat tahun terakhir. Saat itu dia juga berhasil menyarangkan gol ke 50 nya saat menghadapi rival satu kota mereka, Manchester City.
Pada 2 Desember 2008, Ronaldo menerima penghargaan Pemain Terbaik Eropa (Ballon d'Or) sebagai pemain pertama Manchester United yang menerimanya setelah George Best tahun 1968.
Pada bulan Juni 2009, Manchester United menerima tawaran sebesar 80 juta pounds dari Real Madrid setelah Ronaldo menyatakan keinginannya untuk meninggalkan klub.
***
SETELAH acara pemberian jersey untuk SBY dan Ibu Ani, Ronaldo menuju tempat penanaman mangrove. Di lokasi itulah, Martunis kembali bertemu idolanya itu.
Camat Syiah Kuala, Mustafa, yang mendampingi Martunis ke Bali mengatakan, saat bertemu keduanya berpelukan.
"Ya, Martunis bertemu saat Ronaldo turun dari mobil di tempat acara. Ronaldo berbicara dengan bahasa Inggris kepada Martunis yang dibantu penerjemah," ujar Mustafa.
Isi pembicaraannya Mustafa tidak tahu, karena ia berada jauh dari posisi mobil. "Saya tidak bisa mendekat ke sana, pengamanan ketat sekali. Apalagi Presiden SBY juga datang ke acara itu," ujarnya.
Yang ia lihat dari jauh, kata Mustafa, Ronaldo dan Martunis berpelukan lama sekali, seperti kakak adik yang lama berpisah.
Ronaldo juga sempat menanyakan beberapa hal kepada Martunis dalam bahasa Inggris lewat penerjemah. "Ronaldo bertanya apa Martunis masih suka main bola, dan apa ia masih sekolah," ujar Mustafa.
Sedangkan Martunis seperti dikuti Republika Online mengaku senang dapat kembali bertemu idolanya itu. "Senang bisa bertemu kembali dengan Ronaldo," kata Martunis.
***
PERTEMUAN Martunis kembali dengan Cristiano Ronaldo di Bali ternyata melewati beberapa persiapan. Camat Syiah Kuala Mustafa kepada ATJEHPOSTcom bercerita, sekitar sebulan sebelum ke Bali, ia dipanggil Wali Kota Banda Aceh Mawardy Nurdin.
"Pak Wali bilang tolong jemput Martunis," ujarnya, Rabu 26 Juni 2013. Mustafa tak menanyakan lebih lanjut apa maksud wali kota.
Ia pun menjemput Martunis di Sekolah Menengah Atas Adidharma, kawasan Kampung Mulia, Banda Aceh. Tahun ini, Martunis naik kelas tiga.
Dengan seragam sekolahnya, Martunis diajak Mustafa ke ruang kerja Mawardy Nurdin. Di sana, wali kota mengeluarkan telepon selulernya dan menjepret Martunis beberapa kali.
Mustafa tak berani menanyakan apa maksud Pak Wali. Hanya saja, kata dia, Mawardy mengatakan kepada Martunis, foto itu akan dikirim ke Cristiano Ronaldo. "Mungkin gambar itu dikirim agar Ronaldo mengenali Martunis," ujar Mustafa.
Usai menjepret Martunis, Mawardy hanya mengatakan kemungkinan Juni ini Ronaldo akan ke Indonesia, dan Martunis bisa bertemu. Namun tempat pertemuan belum jelas.
Beberapa hari lalu, Mustafa baru mendapat kabar. "Kajeut berangkat u Bali," ujar Mustafa menirukan perkataan Mawardy. Ia pun berkemas untuk membawa Martunis ke Bali dan bertemu Ronaldo.
Setelah akomodasi diberikan, berangkatlah ia membawa Martunis lewat Bandara Sultan Iskandar Muda. Tak lupa, Mustafa juga berpamitan dengan orang tua Martunis. "Saat itu orang tua dan saudaranya sedang sibuk, jadi tidak mungkin saya ajak," ujar Mustafa. Wali Kota Mawardy Nurdin pun tak ikut karena sedang umrah.
Entah foto Martunis sudah sampai di tangan Ronaldo. Tadi pagi, saat turun dari mobil di acara penanaman pohon bakau di Tanjung Benoa, Nusa Dua, Bali, Ronaldo ternyata masih mengenali remaja asal Tibang, Banda Aceh, itu.
***
SELAIN bertemu Ronaldo, Martunis juga sempat bersalaman dengan Presiden SBY. Bahkan, SBY langsung menulis Martunis dalam twitter pribadinya.
Dalam tweet tersebut, SBY menyatakan Ronaldo terinpirasi dari Martunis untuk menjadi duta mangrove.
"Martunis, warga Aceh yg selamat dr tsunami krn tersangkut Mangrove. Ia menginspirasi C. Ronaldo sbg Duta Mangrove," tulis SBY dalam akun twitternya @SBYudhoyono.
Bahkan, twitter pribadi orang nomor satu di Indonesia tersebut juga memasukkan foto Martunis bersama Presiden SBY dan ibu negara Ani Yudhoyono.
Camat Syiah Kuala, Banda Aceh, Mustafa, mengatakan, sebelum penanaman pohon, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan  memberikan kata sambutan.
"Saat itu menteri sempat menceritakan tentang tsunami Aceh lalu mengenalkan Martunis, sebagai salah satu korban yang selamat dari tsunami," ujar Mustafa.
Saat SBY memberikan kata sambutan, Mustafa yang berdiri jauh dari panggung sempat mendengar presiden menanyakan tentang sekolah Martunis. "Martunis diajak ke panggung dan SBY menanyakan 'apa masih sekolah?' dan 'sekolah di mana?'."
***
DI lokasi, Ronaldo yang terus menebarkan senyum terlihat antusias. Ia juga disambut tarian khas Bali dan juga sejumlah anak kecil yang memakai jersey Real Madrid.
Sementara Ronaldo mengenakan kaos biru gelap dengan garis-garis merah, putih dan hijau serta mengenakan celana jeans dan sepatu kets.
Setelah mendengarkan sambutan dari Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan dan Presiden SBY kurang lebih 30 menit, Ronaldo kemudian menuju panggung yang disediakan untuk penanaman pohon bakau.
Dengan santai dan sesekali menebar senyum, Ronaldo kemudian mengambil tanah dengan sekop yang dimasukkan ke dalam pot serta menyiramnya. Ia pun tampak ramah menyambut bidikan kamera fotografer sambil melambaikan tangannya. Sebelum Ronaldo, SBY lebih dulu melakukan seremoni serupa.
Sekitar pukul 11.00 WITA, ia kemudian meninggalkan tempat acara dan dikabarkan menuju hotel tempatnya menginap.
***
RABU malam, 26 Juni 2013, Ronaldo mengundang Martunis untuk makan malam. "Tadi panitia sempat mengabarkan makan malam sekitar pukul 18.00 (waktu indonesia tengah) di Hotel Kartika. Tapi  sekarang diundur lagi," ujarnya kepada ATJEHPOSTcom lewat telepon seluler, Rabu sore.
Sebelum makan malam itu, Martunis juga sempat diwawancara oleh beberapa stasiun televisi nasional seperti Metro TV dan RCTI. Wawancara berlangsung secara bergantian di dalam kamar tempat Martunis dan Mustafa menginap di Hotel  Kartika, Denpasar, Bali.
Martunis, kata dia, ditanyakan para wartawan soal perasaannya usai bertemu Ronaldo dan kondisinya di Aceh sekarang. "Mereka juga menanyakan apa cita-citanya. Martunis menjawab ingin menjadi pemain bola," ujar Mustafa.


Source : Atjeh Post