Adsense

Showing posts with label Dunia Militer. Show all posts
Showing posts with label Dunia Militer. Show all posts

Sunday, September 7, 2014

Akibat Kekurangan Dana, Markas Kepolisian London Dijual


Tak sanggup membayar biaya perawatan, gedung bersejarah di Inggris ini harus rela masuk lelang.
Keputusan berani dan mengejutkan diambil Kepolisian London, Inggris. Penegak hukum negeri Ratu Elizabeth ini siap melepas salah satu markas terkenal dan bersejarah agen rahasia Inggris Scotland Yard dengan harga US$ 412 juta setara Rp 4,85 triliun.
Kepolisian London beralasan, penjualan salah satu gedung bersejarah ini dipicu biaya perawatan yang mahal. Bangunan ini juga dianggap sudah ketinggalan zaman sehingga kurang praktis dipakai sebagai markas modern.

"Ini adalah sebuah bangunan yang sangat mahal untuk merawat dan mengoperasikannya," kata Craig Mackey, wakil komisaris Kepolisian London seperti dikutip dari laman Emirate247, Minggu, 7 September 2014.
Setiap tahunnya, kepolisian London mengaku harus mengeluarkan tak kurang 50 juta poundsterling untuk perawatan gedung yang telah menjadi latar lusinan film detektif dan spionase selama puluhan tahun itu.

Markas Scotland Yard memiliki luas 56 ribu meter persegi. Gedung ikon berlantai 22 itu terletak tidak jauh dari Gedung Parlemen dan Istana Buckingham di Victoria. Scotland Yard telah menjadi rumah bagi Kepolisian Metropolitan London sejak tahun 1967.
Saat ini para polisi kota London diketahui telah pindah ke bangunan yang lebih modern di dekatnya.
Keputusan menjual bangunan bersejarah itu memang akan menghemat pengeluaran pemeliharaan dan hasilnya bisa bisa diinvestasikan untuk keperluan kepolisian yang lain. Salah satu bentuk investasi adalah pembelian kamera pengintai dan tablet serta smartphone yang memungkinkan petugas di lapangan melaporan tanpa perlu kembali ke markas.

"Sudah ada perusahaan internasional dan Inggris yang tertarik pada Scotland Yard," kata Simon Hodson dari Jones Lang LaSalle, perusahaan yang menangani penjualan.
"The Yard", dinamai demikian karena terletak di jalan jalan bernama Great Scotland Yard. Markas ini menjadi terkenal di dunia karena sering ditampilkan dalam cerita detektif fiksi Sherlock Holmes dan Hercule Poirot.

Sayangnya, ujar Hodson, pemilik baru cenderung kurang tertarik pada bangunan bersejarah sebagai situs bersejarah. "Bangunan ini akan dihancurkan, hampir pasti," katanya.
Bangunan tersebut saat ini bernama New Scotland Yard tapi nama itu akan dipakai untuk rumah barunya di gedung Curtis Green yang terletak di Victoria Embankment. | DREAM.co.id

Tuesday, August 20, 2013

Menelusuri Jejak Sejarah Perang Atjeh dari Media Asing

 
BELANDA mengultimatum Kesultanan Aceh pada 26 Maret 1873. Perang Aceh-Belanda dimulai. Sedikitnya 3.198 prajurit, termasuk 168 perwira KNIL yang dipimpin Jendral JHR Kohler mendarat di Pantai Cermin pada 8 April 1873.

Saat batalion-batalion mendarat di pantai Aceh, Belanda langsung menghadapi sistem perlawanan yang terorganisir dan rapi dari pasukan Kesultanan Aceh. Artileri pasukan Aceh lebih handal dari yang diperkirakan. Bahkan kapal perang Citadel van Antwerpen dihujani 12 tembakan meriam. Kendati bisa memukul mundur pasukan Aceh namun 9 prajurit Belanda tewas, 46 lainnya luka-luka akibat tebasan kelewang.

Sesaat Jenderal Kohler bersama ribuan prajuritnya berhasil menguasai muara Krueng Aceh dan mendirikan pangkalan militer di jalur masuk kerajaan itu. Dia kemudian bergerak menyerbu "Dalam" (Keraton dalam istilah Jawa) sebagai pusat pemerintahan Sultan Aceh di Banda Aceh. Belanda masuk dari jalur Krueng Aceh dan berhasil menduduki Masjid Raya Baiturrahman pada 11 April 1873.

Kohler berpikir bahwa Masjid Baiturrahman merupakan istana kesultanan karena letaknya berada di pusat kota. Belanda merasa sudah menguasai Aceh dan kondisi sudah bisa dikendalikan apalagi saat menyerang sama sekali tidak ada perlawanan.

Kohler mengambil kebijakan mengurangi jumlah prajuritnya dan meninggalkan masjid. Begitu dibiarkan kosong, pasukan Aceh di bawah pimpinan Panglima Polem dan beberapa pasukan dari tiga sagi bergerak menguasai tempat ibadah warga di ibukota tersebut.

Mengetahui hal ini, Kohler kembali mencoba merebut Masjid Baiturrahman. Hari ketiga pertempuran, 14 April 1873, Kohler tertembak oleh sniper Aceh pimpinan Teungku Di Lamnga saat berdiri di bawah pohon geuleumpang di halaman masjid. Sebutir peluru bersarang di kepala Jenderal Belanda itu.

Kematian Kohler membuat serdadu Belanda panik dan kocar-kacir. Posisi Kohler langsung diganti oleh Kolonel van Daalen yang menarik pasukannya ke pesisir pantai. Perang berkecamuk selama 10 hari di Pantai Cermin (Ulee Lheue).

Pasukan Aceh yang datang dari segala penjuru, seperti dari Peukan Aceh, Lambhuek, Lampuuk, Peukan Bada, Lambada, Krueng Raya, dari pelosok Aceh Besar lainnya turut dibantu oleh pasukan dari Teunom, Pidie, Peusangan dan wilayah Aceh lainnya.

Ribuan pasukan Aceh berhasil mendesak Belanda yang membuat prajurit mereka kewalahan dan moral pasukannya luntur. Belanda bisa dipukul mundur keluar dari pantai Aceh pada 25 April 1873.

Kekalahan ini membuat Belanda terkejut dan membuat publik Eropa serta Amerika gempar. Kekalahan Belanda dimuat dalam surat kabar London Times edisi 22 April 1873. Media itu memuat laporan lengkap dari Medan Perang Bandar Atjeh yang antara lain menulis: "Suatu kejadian yang luar biasa dalam sejarah penjajahan yang terjadi di Kepulauan Melayu. Kekuatan pasukan Eropa yang besar dikalahkan oleh tentara pribumi. Tentara Aceh berhasil dengan gemilang meraih kemenangan besar dalam peperangan yang menentukan. Musuh mereka bukan saja sudah kalah tetapi dipaksa berlari."

Dalam laporan itu, London Times juga menulis bahwa Aceh bukanlah tanah penjajahan Belanda, dan Belanda sama sekali tidak berhak menyerang Aceh. Sementara surat kabar Amerika, The New York Times pada edisi 6 Mei 1873 menulis: "Suatu pertempuran berlumuran darah terjadi di Aceh. Serangan Belanda berhasil ditangkis dengan penyembelihan besar-besaran terhadap tentara Belanda. Panglima Belanda dibunuh dan tentaranya lari tunggang langgang."

Di sisi lain Harian The New York Times pada 15 Mei 1873 mengomentari perang Aceh dalam artikel berjudul: Aceh.

"...Segera akan diketahui oleh masyarakat bahwa Aceh itu bukanlah bangsa biadab yang tidak sadar atau tenggang rasa. Mereka adalah bangsa islami yang baik dan menghormati nilai-nilai perjuangan pahlawan-pahlawan mereka..."

"Segera akan terbukti bahwa mereka sebagai musuh sekarang juga memiliki tanah jajahan sendiri pada suatu waktu dan ada waktu ketika mereka begitu kuat hingga dapat mengepung armada Portugis di Malaka. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Sultan Aceh adalah sahabat karib Raja Inggris James I yang memberikan dua buah meriam besar kepada Sultan Aceh. Kini meriam itu turut mempertahankan istana penggantinya di Sumatera."


Berita-berita ini terus mengisi halaman utama media-media di Eropa dan Amerika. Arus informasi mengenai perang Aceh terus mengalir dari koresponden Reuters William Marshal di Penang yang memperoleh berita dari Stuart Herriot, pedagang asal Scotlandia. Herriot dikenal akrab dengan penduduk pribumi dan menjadi penasehat hukum bila berurusan dengan pengadilan atau orang Eropa. Dia juga menjadi anggota Dewan Kota Penang, dan mendukung sejumlah kegiatan serta kepentingan pribumi Melayu.

Herriot menjadi narasumber penting bagi Marshall dalam urusan orang pribumi Melayu dan Aceh. Keduanya dikenal sebagai anti Belanda, pro Melayu, menentang campur tangan Inggris terhadap negeri-negeri Melayu. Mereka tidak senang kepada Gubernur Harry Ord yang terlalu berpihak kepada Belanda dan membiarkan Aceh diserbu hingga merusak perdagangan bebas di Selat Malaka.

Pemberitaan itu sempat memaksa Perdana Menteri William Ewart Gladstone dan Menteri Luar Negeri George Granville untuk mempertimbangkan kembali sikap Inggris mengenai ekspansi Belanda terhadap Aceh. Namun, Den Haag tetap berharap sikap toleran dari London mengenai aksinya di Aceh, setelah keduanya mengikat perjanjian Persahabatan 1871.

Menteri Luar Negeri Belanda Gericke van Herwijnen menginstruksikan kepada Duta Besar Charles van Bijlandt di London untuk mendekati dan meyakinkan pemerintah Inggris agar selalu memperoleh dukungan. Negara kincir angin ini memerlukan peran serta Inggris untuk mengantisipasi tekanan internasional dari Amerika dan negeri-negeri Eropa lainnya.

Dukungan Inggris terhadap Belanda itu membuat mayoritas pedagang Inggris di Singapura membenci pemerintahannya sendiri. Menurut mereka kebijakan yang diambil pimpinan negaranya telah merugikan pedagang Inggris. Opini publik yang menjatuhkan kredibilitas penguasa Inggris kian hari semakin deras akibat perang Aceh. Mereka mencela kebijakan pemerintahan yang hanya berpangku tangan membiarkan Belanda melakukan agresi di Sumatera dan Aceh.

Hal itu mendapat perhatian konservatif pimpinan Perdana Menteri William Gladstone yang mengkhawatirkan bisa mempengaruhi citra kepemimpinannya. Akhirnya pemerintah Inggris menekan pemilik Kantor Berita Reuters yaitu Baron Paul Julius von Reuter untuk meredam pemberitaan tentang perang Aceh. Akibatnya berita-berita Aceh mulai hilang di koran-koran Eropa dan sejak Juni 1874, koresponden Reuters Marshall dilarang meliput serta berhubungan dengan orang-orang Aceh. 
 
Sumber : The Atjeh Post
BELANDA mengultimatum Kesultanan Aceh pada 26 Maret 1873. Perang Aceh-Belanda dimulai. Sedikitnya 3.198 prajurit, termasuk 168 perwira KNIL yang dipimpin Jendral JHR Kohler mendarat di Pantai Cermin pada 8 April 1873.
Saat batalion-batalion mendarat di pantai Aceh, Belanda langsung menghadapi sistem perlawanan yang terorganisir dan rapi dari pasukan Kesultanan Aceh. Artileri pasukan Aceh lebih handal dari yang diperkirakan. Bahkan kapal perang Citadel van Antwerpen dihujani 12 tembakan meriam. Kendati bisa memukul mundur pasukan Aceh namun 9 prajurit Belanda tewas, 46 lainnya luka-luka akibat tebasan kelewang.
Sesaat Jenderal Kohler bersama ribuan prajuritnya berhasil menguasai muara Krueng Aceh dan mendirikan pangkalan militer di jalur masuk kerajaan itu. Dia kemudian bergerak menyerbu "Dalam" (Keraton dalam istilah Jawa) sebagai pusat pemerintahan Sultan Aceh di Banda Aceh. Belanda masuk dari jalur Krueng Aceh dan berhasil menduduki Masjid Raya Baiturrahman pada 11 April 1873.
Kohler berpikir bahwa Masjid Baiturrahman merupakan istana kesultanan karena letaknya berada di pusat kota. Belanda merasa sudah menguasai Aceh dan kondisi sudah bisa dikendalikan apalagi saat menyerang sama sekali tidak ada perlawanan.
Kohler mengambil kebijakan mengurangi jumlah prajuritnya dan meninggalkan masjid. Begitu dibiarkan kosong, pasukan Aceh di bawah pimpinan Panglima Polem dan beberapa pasukan dari tiga sagi bergerak menguasai tempat ibadah warga di ibukota tersebut.
Mengetahui hal ini, Kohler kembali mencoba merebut Masjid Baiturrahman. Hari ketiga pertempuran, 14 April 1873, Kohler tertembak oleh sniper Aceh pimpinan Teungku Di Lamnga saat berdiri di bawah pohon geuleumpang di halaman masjid. Sebutir peluru bersarang di kepala Jenderal Belanda itu.
Kematian Kohler membuat serdadu Belanda panik dan kocar-kacir. Posisi Kohler langsung diganti oleh Kolonel van Daalen yang menarik pasukannya ke pesisir pantai. Perang berkecamuk selama 10 hari di Pantai Cermin (Ulee Lheue).
Pasukan Aceh yang datang dari segala penjuru, seperti dari Peukan Aceh, Lambhuek, Lampuuk, Peukan Bada, Lambada, Krueng Raya, dari pelosok Aceh Besar lainnya turut dibantu oleh pasukan dari Teunom, Pidie, Peusangan dan wilayah Aceh lainnya.
Ribuan pasukan Aceh berhasil mendesak Belanda yang membuat prajurit mereka kewalahan dan moral pasukannya luntur. Belanda bisa dipukul mundur keluar dari pantai Aceh pada 25 April 1873.
Kekalahan ini membuat Belanda terkejut dan membuat publik Eropa serta Amerika gempar. Kekalahan Belanda dimuat dalam surat kabar London Times edisi 22 April 1873. Media itu memuat laporan lengkap dari Medan Perang Bandar Atjeh yang antara lain menulis: "Suatu kejadian yang luar biasa dalam sejarah penjajahan yang terjadi di Kepulauan Melayu. Kekuatan pasukan Eropa yang besar dikalahkan oleh tentara pribumi. Tentara Aceh berhasil dengan gemilang meraih kemenangan besar dalam peperangan yang menentukan. Musuh mereka bukan saja sudah kalah tetapi dipaksa berlari."
Dalam laporan itu, London Times juga menulis bahwa Aceh bukanlah tanah penjajahan Belanda, dan Belanda sama sekali tidak berhak menyerang Aceh. Sementara surat kabar Amerika, The New York Times pada edisi 6 Mei 1873 menulis: "Suatu pertempuran berlumuran darah terjadi di Aceh. Serangan Belanda berhasil ditangkis dengan penyembelihan besar-besaran terhadap tentara Belanda. Panglima Belanda dibunuh dan tentaranya lari tunggang langgang."
Di sisi lain Harian The New York Times pada 15 Mei 1873 mengomentari perang Aceh dalam artikel berjudul: Aceh.
"...Segera akan diketahui oleh masyarakat bahwa Aceh itu bukanlah bangsa biadab yang tidak sadar atau tenggang rasa. Mereka adalah bangsa islami yang baik dan menghormati nilai-nilai perjuangan pahlawan-pahlawan mereka..."
"Segera akan terbukti bahwa mereka sebagai musuh sekarang juga memiliki tanah jajahan sendiri pada suatu waktu dan ada waktu ketika mereka begitu kuat hingga dapat mengepung armada Portugis di Malaka. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Sultan Aceh adalah sahabat karib Raja Inggris James I yang memberikan dua buah meriam besar kepada Sultan Aceh. Kini meriam itu turut mempertahankan istana penggantinya di Sumatera."
Berita-berita ini terus mengisi halaman utama media-media di Eropa dan Amerika. Arus informasi mengenai perang Aceh terus mengalir dari koresponden Reuters William Marshal di Penang yang memperoleh berita dari Stuart Herriot, pedagang asal Scotlandia. Herriot dikenal akrab dengan penduduk pribumi dan menjadi penasehat hukum bila berurusan dengan pengadilan atau orang Eropa. Dia juga menjadi anggota Dewan Kota Penang, dan mendukung sejumlah kegiatan serta kepentingan pribumi Melayu.
Herriot menjadi narasumber penting bagi Marshall dalam urusan orang pribumi Melayu dan Aceh. Keduanya dikenal sebagai anti Belanda, pro Melayu, menentang campur tangan Inggris terhadap negeri-negeri Melayu. Mereka tidak senang kepada Gubernur Harry Ord yang terlalu berpihak kepada Belanda dan membiarkan Aceh diserbu hingga merusak perdagangan bebas di Selat Malaka.
Pemberitaan itu sempat memaksa Perdana Menteri William Ewart Gladstone dan Menteri Luar Negeri George Granville untuk mempertimbangkan kembali sikap Inggris mengenai ekspansi Belanda terhadap Aceh. Namun, Den Haag tetap berharap sikap toleran dari London mengenai aksinya di Aceh, setelah keduanya mengikat perjanjian Persahabatan 1871.
Menteri Luar Negeri Belanda Gericke van Herwijnen menginstruksikan kepada Duta Besar Charles van Bijlandt di London untuk mendekati dan meyakinkan pemerintah Inggris agar selalu memperoleh dukungan. Negara kincir angin ini memerlukan peran serta Inggris untuk mengantisipasi tekanan internasional dari Amerika dan negeri-negeri Eropa lainnya.
Dukungan Inggris terhadap Belanda itu membuat mayoritas pedagang Inggris di Singapura membenci pemerintahannya sendiri. Menurut mereka kebijakan yang diambil pimpinan negaranya telah merugikan pedagang Inggris. Opini publik yang menjatuhkan kredibilitas penguasa Inggris kian hari semakin deras akibat perang Aceh. Mereka mencela kebijakan pemerintahan yang hanya berpangku tangan membiarkan Belanda melakukan agresi di Sumatera dan Aceh.
Hal itu mendapat perhatian konservatif pimpinan Perdana Menteri William Gladstone yang mengkhawatirkan bisa mempengaruhi citra kepemimpinannya. Akhirnya pemerintah Inggris menekan pemilik Kantor Berita Reuters yaitu Baron Paul Julius von Reuter untuk meredam pemberitaan tentang perang Aceh. Akibatnya berita-berita Aceh mulai hilang di koran-koran Eropa dan sejak Juni 1874, koresponden Reuters Marshall dilarang meliput serta berhubungan dengan orang-orang Aceh.
- See more at: http://www.atjehpost.com/sejarah_read/2013/08/20/63176/0/39/Perang-Atjeh-dan-cerita-Reuters#sthash.QJQlDTwp.dpuf
BELANDA mengultimatum Kesultanan Aceh pada 26 Maret 1873. Perang Aceh-Belanda dimulai. Sedikitnya 3.198 prajurit, termasuk 168 perwira KNIL yang dipimpin Jendral JHR Kohler mendarat di Pantai Cermin pada 8 April 1873.
Saat batalion-batalion mendarat di pantai Aceh, Belanda langsung menghadapi sistem perlawanan yang terorganisir dan rapi dari pasukan Kesultanan Aceh. Artileri pasukan Aceh lebih handal dari yang diperkirakan. Bahkan kapal perang Citadel van Antwerpen dihujani 12 tembakan meriam. Kendati bisa memukul mundur pasukan Aceh namun 9 prajurit Belanda tewas, 46 lainnya luka-luka akibat tebasan kelewang.
Sesaat Jenderal Kohler bersama ribuan prajuritnya berhasil menguasai muara Krueng Aceh dan mendirikan pangkalan militer di jalur masuk kerajaan itu. Dia kemudian bergerak menyerbu "Dalam" (Keraton dalam istilah Jawa) sebagai pusat pemerintahan Sultan Aceh di Banda Aceh. Belanda masuk dari jalur Krueng Aceh dan berhasil menduduki Masjid Raya Baiturrahman pada 11 April 1873.
Kohler berpikir bahwa Masjid Baiturrahman merupakan istana kesultanan karena letaknya berada di pusat kota. Belanda merasa sudah menguasai Aceh dan kondisi sudah bisa dikendalikan apalagi saat menyerang sama sekali tidak ada perlawanan.
Kohler mengambil kebijakan mengurangi jumlah prajuritnya dan meninggalkan masjid. Begitu dibiarkan kosong, pasukan Aceh di bawah pimpinan Panglima Polem dan beberapa pasukan dari tiga sagi bergerak menguasai tempat ibadah warga di ibukota tersebut.
Mengetahui hal ini, Kohler kembali mencoba merebut Masjid Baiturrahman. Hari ketiga pertempuran, 14 April 1873, Kohler tertembak oleh sniper Aceh pimpinan Teungku Di Lamnga saat berdiri di bawah pohon geuleumpang di halaman masjid. Sebutir peluru bersarang di kepala Jenderal Belanda itu.
Kematian Kohler membuat serdadu Belanda panik dan kocar-kacir. Posisi Kohler langsung diganti oleh Kolonel van Daalen yang menarik pasukannya ke pesisir pantai. Perang berkecamuk selama 10 hari di Pantai Cermin (Ulee Lheue).
Pasukan Aceh yang datang dari segala penjuru, seperti dari Peukan Aceh, Lambhuek, Lampuuk, Peukan Bada, Lambada, Krueng Raya, dari pelosok Aceh Besar lainnya turut dibantu oleh pasukan dari Teunom, Pidie, Peusangan dan wilayah Aceh lainnya.
Ribuan pasukan Aceh berhasil mendesak Belanda yang membuat prajurit mereka kewalahan dan moral pasukannya luntur. Belanda bisa dipukul mundur keluar dari pantai Aceh pada 25 April 1873.
Kekalahan ini membuat Belanda terkejut dan membuat publik Eropa serta Amerika gempar. Kekalahan Belanda dimuat dalam surat kabar London Times edisi 22 April 1873. Media itu memuat laporan lengkap dari Medan Perang Bandar Atjeh yang antara lain menulis: "Suatu kejadian yang luar biasa dalam sejarah penjajahan yang terjadi di Kepulauan Melayu. Kekuatan pasukan Eropa yang besar dikalahkan oleh tentara pribumi. Tentara Aceh berhasil dengan gemilang meraih kemenangan besar dalam peperangan yang menentukan. Musuh mereka bukan saja sudah kalah tetapi dipaksa berlari."
Dalam laporan itu, London Times juga menulis bahwa Aceh bukanlah tanah penjajahan Belanda, dan Belanda sama sekali tidak berhak menyerang Aceh. Sementara surat kabar Amerika, The New York Times pada edisi 6 Mei 1873 menulis: "Suatu pertempuran berlumuran darah terjadi di Aceh. Serangan Belanda berhasil ditangkis dengan penyembelihan besar-besaran terhadap tentara Belanda. Panglima Belanda dibunuh dan tentaranya lari tunggang langgang."
Di sisi lain Harian The New York Times pada 15 Mei 1873 mengomentari perang Aceh dalam artikel berjudul: Aceh.
"...Segera akan diketahui oleh masyarakat bahwa Aceh itu bukanlah bangsa biadab yang tidak sadar atau tenggang rasa. Mereka adalah bangsa islami yang baik dan menghormati nilai-nilai perjuangan pahlawan-pahlawan mereka..."
"Segera akan terbukti bahwa mereka sebagai musuh sekarang juga memiliki tanah jajahan sendiri pada suatu waktu dan ada waktu ketika mereka begitu kuat hingga dapat mengepung armada Portugis di Malaka. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Sultan Aceh adalah sahabat karib Raja Inggris James I yang memberikan dua buah meriam besar kepada Sultan Aceh. Kini meriam itu turut mempertahankan istana penggantinya di Sumatera."
Berita-berita ini terus mengisi halaman utama media-media di Eropa dan Amerika. Arus informasi mengenai perang Aceh terus mengalir dari koresponden Reuters William Marshal di Penang yang memperoleh berita dari Stuart Herriot, pedagang asal Scotlandia. Herriot dikenal akrab dengan penduduk pribumi dan menjadi penasehat hukum bila berurusan dengan pengadilan atau orang Eropa. Dia juga menjadi anggota Dewan Kota Penang, dan mendukung sejumlah kegiatan serta kepentingan pribumi Melayu.
Herriot menjadi narasumber penting bagi Marshall dalam urusan orang pribumi Melayu dan Aceh. Keduanya dikenal sebagai anti Belanda, pro Melayu, menentang campur tangan Inggris terhadap negeri-negeri Melayu. Mereka tidak senang kepada Gubernur Harry Ord yang terlalu berpihak kepada Belanda dan membiarkan Aceh diserbu hingga merusak perdagangan bebas di Selat Malaka.
Pemberitaan itu sempat memaksa Perdana Menteri William Ewart Gladstone dan Menteri Luar Negeri George Granville untuk mempertimbangkan kembali sikap Inggris mengenai ekspansi Belanda terhadap Aceh. Namun, Den Haag tetap berharap sikap toleran dari London mengenai aksinya di Aceh, setelah keduanya mengikat perjanjian Persahabatan 1871.
Menteri Luar Negeri Belanda Gericke van Herwijnen menginstruksikan kepada Duta Besar Charles van Bijlandt di London untuk mendekati dan meyakinkan pemerintah Inggris agar selalu memperoleh dukungan. Negara kincir angin ini memerlukan peran serta Inggris untuk mengantisipasi tekanan internasional dari Amerika dan negeri-negeri Eropa lainnya.
Dukungan Inggris terhadap Belanda itu membuat mayoritas pedagang Inggris di Singapura membenci pemerintahannya sendiri. Menurut mereka kebijakan yang diambil pimpinan negaranya telah merugikan pedagang Inggris. Opini publik yang menjatuhkan kredibilitas penguasa Inggris kian hari semakin deras akibat perang Aceh. Mereka mencela kebijakan pemerintahan yang hanya berpangku tangan membiarkan Belanda melakukan agresi di Sumatera dan Aceh.
Hal itu mendapat perhatian konservatif pimpinan Perdana Menteri William Gladstone yang mengkhawatirkan bisa mempengaruhi citra kepemimpinannya. Akhirnya pemerintah Inggris menekan pemilik Kantor Berita Reuters yaitu Baron Paul Julius von Reuter untuk meredam pemberitaan tentang perang Aceh. Akibatnya berita-berita Aceh mulai hilang di koran-koran Eropa dan sejak Juni 1874, koresponden Reuters Marshall dilarang meliput serta berhubungan dengan orang-orang Aceh.
- See more at: http://www.atjehpost.com/sejarah_read/2013/08/20/63176/0/39/Perang-Atjeh-dan-cerita-Reuters#sthash.QJQlDTwp.dpuf

Sunday, August 18, 2013

Website Propam Polri disatroni peretas.


Situs di lingkungan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) kembali jadi sasaran serangan peretas setelah beberapa waktu lalu beberapa website juga kena serangan hacker.
Kali ini, yang jadi sasaran peretas adalah situs Propam Polri di alamat www.propam.polri.go.id sejak pagi hingga saat ini pukul 15:42 (18/8). Tidak jelas apa motif dari peretas menyatroni situs tersebut.
Bila situs tersebut dibuka, maka yang tampak hanyalah halaman putih kosong dan dua baris yang berbunyi :

"/Hacked by vYc0d/
Don't panic guys, lets patch your site ;)"


Sebelumnya, Polri juga kecolongan dengan diretasnya situs www.polri.go.id sampai berhari-hari sejak 19 Mei 2013.
Situs tersebut sama sekali tidak bisa diakses hampir sebulan dan yang tampil di laman tersebut adalah "The connection was reset".
Situs-situs Polri lainnya seperti situs Divkum.polri.go.id juga mendapatkan serangan dari hacker yang menamakan dirinya Jember Hacker dan Larcensiels feat WeNNex namun hanya dalam beberapa hari sudah pulih kembali
Ajakan meretas situs Polri secara massal bahkan ditayangkan di Facebook lewat akun milik Pembela Tauhid disertai petunjuk meretasnya, namun petinggi Polri yang dikonfirmasi belum ada yang memberikan tanggapan.


Sumber : Merdeka.com

Wednesday, April 17, 2013

Inilah 7 Badan Intelijen Terhebat di Dunia

 
Badan intelijen adalah badan yang dimiliki negara untuk melakukan tugas-tugas spionase seperti memata-matai musuh atau mengumpulkan informasi. Layaknya film James Bond, para intelijen dituntut untuk punya kecerdasan tinggi, pandai menyamar dan punya fisik yang prima.
Badan intelejen juga tak tanggung-tanggung meminta si agen untuk menjalani profesi macam-macam mulai dari wanita cantik, anak pesantren hingga akademisi.
Tak jarang mereka menemui masalah yang kompleks ketika penyamaran terungkap. Banyak yang menyebutkan jika sudah begini pilihan para mata-mata hanya mati daripada memberi informasi kepada musuh.

Berikut adalah badan atau lembaga intelijen yang terkenal hebat:

1. ISI (Pakistan)

Inter Services Intelligence (ISI) adalah badan intelejen milik Pakistan yang mengikutsertakan para mujahid dan kaum Taliban. Kesuksesan pertama ISI terjadi ketika perang dengan India pada 1947. 
ISI memperbolehkan warga sipil atau militer untuk ikut menjadi anggota ISI. Bahkan dalam masa perekrutannya ISI memasang berbagai iklan. ISI menilai para kandidatnya dari bahasa Inggris, kemampuan analisis dan latar belakang keluarganya.

 2. CIA (AS)

Dibentuk oleh Presiden Harry S Truman pada 1947,?Central Intelligence Agency?(CIA) menjadi badan intelijen terbaik kedua di dunia. Lingkup tugas CIA lebih luas dibanding dengan badan intelijen lainnya. Seperti peredaran narkoba, terorisme, peredaran senjata gelap dan kejahatan internasional lainnya.
Selain agennya lihai menyamar dan pintar, para spionase CIA juga dipersenjatai peralatan canggih. Peralatan yang sudah dipakai biasanya ditaruh di museum di Virginia.
Operasi senyap yang dilakukan CIA bermacam-macam, sampai dikabarkan CIA sebagai dalang kudeta Soekarno.

3. MOSSAD (Israel)

MOSSAD adalah badan intelijen yang tugas utamanya untuk mempertahankan kedaulatan dan keberadaan negara Israel. Selain itu, agen MOSSAD juga bertanggung jawab melawan teroris Islam dan menyelamatkan orang-orang Yahudi.?
Agen-agen MOSSAD dikenal dengan kecepatan dan agresif dalam melakukan misinya. Sebagai contoh, menculik pemimpin Argentina NAZI Adolf Eichmann pada tahun 1960. Bahkan untuk melindungi kedaulatan mereka, beberapa pemimpin Hamas dibunuh MOSSAD dengan tidak wajar.

4. M16 (Inggris)


Bermarkas di London, badan intelejen Inggris ini merupakan salah satu badan intelejen yang terkenal lewat film sekuel James Bond 007.
Dulu untuk merekrut para intelejen, SIS (sekarang M16) mendekati mahasiswa-mahasiswa potensial dari Oxford dan Cambridge. Kini seribu orang lebih telah bergabung dengan agen rahasia ini.?
Bersama CIA, tujuan utama M16 tak lain memberantas teroris. Kendati demikian, banyak yang beropini M16 tidak sehebat dulu sebelum perang dingin pecah

5. MSS (Cina)

MSS (Ministry of State Security) adalah badan intelijen yang dibuat khusus untuk hal-hal intelijen luar negeri. Di samping MMS, ada juga dua badan intelejen lain yaitu MPS (Ministry of Public Security), untuk urusan intelejen dalam negeri dan MID (Military Intelligence Department) untuk urusan intelijen militer taktis.?
MSS menempatkan para agennya ke semua negara di dunia. Meski beberapa bisa mengidentifikasi keberadaan mereka dari warna kulit. Ada 170 kota di 50 negara yang diawasi MMS dengan menyamar sebagai pengusaha, akademisi dan wartawan.
Di lain pihak, menurut Undang-undang Cina, MMS berhak menangkap seperti polisi terhadap penjahat yang dianggap membahayakan keamanan negara.

6. FSB (Rusia)

Federal Security Service (FSB) adalah badan intelijen Rusia yang bermarkas di Lubyanca Square, Moscow. Badan yang bergerak di bawah menteri Kehakiman ini semula bernama Federal?Counterintelligence?Service (FCS) yang tadinya hanya bertugas sebagai penjaga perbatasan.?
Namun Presiden Boris Yeltsin mengubah lembaga itu dan memperluas tanggung jawab mereka. Sewaktu Uni Soviet runtuh mereka juga bertugas menjaga kestabilan di Rusia. Badan intelejen ini dikenal dekat dengan badan intelijen dari India.

7. DGSE (Prancis)

Direction Generale de la securite Exterieure atau DGSE adalah badan intelijen milik Prancis ini bergerak dengan pola yang berbeda dari badan intelijen lainnya. Jika mata-mata lain bertugas hanya sebagai pencari informasi, DGSE juga bertanggung jawab untuk melindungi warga negaranya di tempat dia bertugas.?
Diketahui sebanyak setengah juta orang ikut tergabung dalam DGSE. Beberapa warga Prancis juga ikut berpartisipasi sebagai agen sukarela bagi DGSE. Mereka hanya menyandang sebagai honorable correspondent.

 Sumber : Merdeka

Friday, March 22, 2013

Aceh Gandeng TNI Angkatan Udara

Gubernur Aceh Zaini Abdullah disaksikan Wali Nanggroe Malik Mahmud menyerahkan cinderamata kepada Kepala Staf TNI AU Marskel TNI Ida Bagus Putu Dunia, di Mabesau, Cilangkap, Jakarta, Kamis (21/3).
 * Bangun Pendidikan Kedirgantaraan

JAKARTA | Pemerintah Aceh mengajak  Markas Besar TNI Angkatan Udara (Mabes AU)  membangun pendidikan kedirgantaraan di Aceh. Ajakan tersebut diutarakan Gubernur dr Zaini Abdullah dalam pertemuan dengan Kepala Staf TNI AU (KASAU) Marskal TNI Ida Bagus Putu Dunia, di Mabes TNI AU, Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (21/3).

Pemerintah Aceh saat ini sedang menyiapkan pembangunan Kampus Dirgantara Aceh di Kawasan Aceh Besar. Kampus tersebut, kata gubernur, mengintegrasikan sekolah menengah kejuruan (SMK) Penerbangan, Sekolah Pilot, dan Institute Aeronautica.

“Untuk mewujudkan pendidikan kedirgantaraan itu, kami membutuhkan kerja sama dengan TNI AU,” kata Gubernur. Kelak, Pemerintah Aceh juga akan  mengembangkan industri penerbangan yang dinilai sangat prosfektus secara ekonomi.

KASAU  Marskal TNI Ida Bagus Putu Dunia menyambut baik gagasan pembangunan pendidikan kedirgantaraan Aceh. “Kami setuju dengan rencana kerja sama ini,” kata Ida Bagus yang pernah bertugas di Aceh. Pertemuan itu juga dihadiri Wali Nanggroe Malik Mahmud, dan Kepala Lembaga Dirgantara Aceh Marsda TNI Purn. HT. Syahril.

Pada hari yang sama, bertempat di Mess Aceh, Gubernur Zaini Abdullah dan Wali Nanggroe Malik Mahmud bertemu dengan 10 mahasiswa Aceh yang menempuh pendidikan manajemen transportasi udara di Sekolah Tinggi Penerbangan Aviasi Jakarta. “Kami adalah angkatan II dari Aceh. Kami semua akan diwisuda pada Oktober nanti,” kata M Ilham, mahasiswa asal Banda Aceh.

Gubernur Zaini dan Wali Nanggroe Malik Mahmud menyebutkan bahwa masa depan kedirgantaraan Aceh ada pada mereka. Gubernur mempersilakan mereka melanjutkan pendidikan ke jenjang S1. “Tapi nanti kalau dibutuhkan, Pemerintah Aceh akan memanggil kalian untuk pulang membangun Aceh,” ujar Gubernur.

Kepala Lembaga Dirgantara Aceh Marsda TNI Purn. HT. Syahril, mengatakan, mahasiswa penerbangan asal Aceh itu nanti akan dipekerjakan di banda-bandara di Aceh dan menjadi tenaga pengajar di Kampus Dirgantara Aceh.(fik)

Kontrol Udara Seharusnya di Aceh

WALI Nanggroe Malik Mahmud mengusulkan kepada KASAU untuk melakukan kontrol udara dari Aceh, sebagai kawasan yang sangat starategis karena langsung berhubungan dengan negara luar. “Seharusnya kontrol udara ada di Aceh, bukan di Singapura dan Malaysia,” katanya.

Malik Mahmud juga menyampaikan agar dibangun pangkalan penyelamatan di Lhokseumawe apabila sewaktu-waktu terjadi musibah kapal tanker di Selat Malaka.

“Mudah-mudahan tidak ada kecelakaan tanker di sana, tapi kalau terjadi maka bantuan yang paling mudah adalah dari Lhokseumawe,” kata Malik Mahmud yang baru kembali dari Yogyakarta bertemu Sultan Hamengkubuwono X dan meninjau sekolah penerbangan di Yogyakarta.


Sumber : Serambinews

Friday, March 15, 2013

Aceh Bisa Gugat Belanda Terkait Kejahatan Perang 2 Abad Silam

Naskah Proklamasi Pernyataan Perang Belanda Terhadap Aceh
BANDA ACEH | Ketua Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB) Batara R Hutagalung mengatakan rakyat Aceh dapat menggugat dan menuntut Pemerintah Belanda ke Mahkamah Internasional atas agresi Belanda terhadap Aceh pada 1873. Akibat agresi itu sekitar 70 ribu rakyat Aceh meninggal, dan menyisakan kesengsaraaan meskipun Aceh tidak pernah takluk dari Belanda.

“Belanda menyatakan perang terhadap Aceh pada 1873 dan sejak itulah terjadi kejahatan dan penindasan yang membuat banyak terjadi pembantaian penduduk sipil. Belanda harus resmi minta maaf kepada rakyat Aceh atas agresi militer tersebut,” kata Batara seusai menjadi pembicara pada Seminar Kejanggalan dalam Hubungan Diplomatik RI-Belanda dalam Perspektif Nasional dan Lokal yang diselenggarakan Prodi Sejarah FKIP Unsyiah di aula kampus setempat, Kamis (14/3).

Acara dibuka Dekan FKIP Unsyiah Prof M Yusuf Aziz MPd dengan menampilkan dua pemateri yakni Batara R Hutagalung dan sejarawan senior Aceh Rusdi Sufi. Acara yang dimoderatori oleh sejarawan Unsyiah, Dr Husaini Ibrahim MA ini, diikuti oleh ratusan mahasiswa Prodi Sejarah, Prodi Bahasa dan FISIP Unsyiah. Turut hadir, Pembantu Dekan I Drs Salasih R MPd, Pembantu Dekan III Dr Jufri MSi dan Pembantu Dekan IV Dr Wildan MPd.

Menurut Batara pengajuan gugatan tersebut dinilai penting sebagai bagian dari upaya mengangkat martabat rakyat Aceh yang secara langsung mengalami penindasan dari Belanda selama masa penjajahan.

Dia sebutkan Belanda secara jelas telah melakukan pelanggaran teritorial dimana saat itu Aceh merupakan satu negara yang berdaulat, yang ditandai dengan adanya hubungan diplomatik yang intens dengan Belanda dan negara lainnya.
Tentara Penjajah Belanda berdiri diantara jenazah para pejuang Aceh
Bahkan, kata Batara, Aceh adalah sebuah negara berdaulat yang pertama mengakui kemerdekaan Belanda pada tahun 1602 sebagai satu entitas politik. Namun pengakuan tersebut dibalas Belanda dengan menyatakan maklumat perang terhadap Aceh pada 1873 yang hingga kini belum pernah dicabut Belanda.

“Tidak penting ada atau tidaknya pencabutan maklumat perang, tapi sekarang Aceh dapat menuntut Belanda untuk minta maaf atas kejahatan perang yang mereka lakukan kepada rakyat Aceh selama agresi berlangsung,” ujarnya.

Menurut Batara pengajuan gugatan dilatarbelakangi karena Belanda harus mengembalikan dan memulihkan martabat rakyat Aceh yang pernah dirampas hak, harta, dan bahkan jiwa serta menyisikan kepedihan terhadap keluarga korban. “Bukan soal menang, tapi gugatan dilakukan untuk sebuah martabat dan keadilan rakyat Aceh. Membangkitkan semangat rakyat bahwa kita bangsa yang besar,” ujarnya.(sar)

Prosesnya Bisa Belajar dari Kenya
KETUA Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB) Batara R Hutagalung menyatakan, gugatan rakyat Aceh terhadap Pemerintah Belanda bukan hal yang mustahil untuk dilakukan. Proses pengajuan gugatan ini dapat dilakukan dengan membentuk Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB) Perwakilan Aceh. Sementara proses pengadilannya dapat dilakukan di Mahkamah Internasional.

Ia menyebutkan, kasus penuntutan terhadap sebuah negara jajahan terhadap negara penjajah pernah terjadi di Kenya. Saat itu empat orang Kenya, Afrika menuntut pemerintah Inggris atas penindasan terhadap etnis Mao Mao di Kenya yang melakukan pemberontakan sekitar tahun 1950.

Di antara mereka yang dibunuh, ada empat orang yang masih hidup dan jadi saksi mata. Keempat orang ini lalu mengajukan gugatan ke Pengadilan Inggris setelah Kenya memperoleh kemerdekaan dari Inggris pada 1963. “Tanggal 3 oktober 2012, Pengadilan Inggris memenangkan gugatan mereka. Tapi sekarang bukan soal kompensasi lagi yang dicari. Tapi yang kita tuntutan walau satu rupiah adalah dilakukan secara simbolis. Belanda harus resmi minta maaf kepada rakyat Aceh atas agresi militer tersebut,” tegas Batara.

Menurut Batara, KUKB merupakan sebuah gerakan nasional yang menuntut pemerintah Belanda untuk mengakui de jure kemerdekaan Republik Indonesia adalah 17 Agustus 1945.

Oleh karena itu, pada 20 Mei 2005, seperti sebelumnya juga tuntutan Komite Nasional Pembela Martabat Bangsa Indonesia (KNPMBI), KUKB menyampaikan tuntutan kepada Pemerintah Belanda untuk, pertama, mengakui de jure kemerdekaan Republik Indonesia adalah 17.8.1945. Kedua, meminta maaf atas penjajahan perbudakan, kejahatan perang dan berbagai pelanggaran HAM terutama yang dilakukan oleh tentara Belanda di Indonesia antara tahun 1945-1950.(sar)

Siap Mendukung
SAYA setuju saja kalau ada orang Aceh yang mau peduli dengan gugatan ini. Sebab perang Belanda ini telah menyebabkan kerugian yang besar bagi rakyat Aceh. Kita lihat saja banyak batu nisan yang membuktikan banyak orang Aceh meninggal saat agresi Belanda terjadi.

Dengan kata lain melihat banyaknya kerugian dan korban nyawa rakyat Aceh yang mencapai 70 ribu orang, maka bisa saja Aceh membentuk komite untuk menuntut Belanda. Termasuk juga pampasan perang (pembayaran yang secara paksa ditarik oleh negeri pemenang perang kepada negeri yang kalah perang sebagai ganti atas kerugian material).

Sampai saat ini maklumat perang belanda terhadap Aceh belum dicabut. Sejak awal memang Aceh sudah banyak berjasa kepada Belanda, karena Aceh yang pertama mengakui kemerdekaan Belanda. Tapi air susu dibalas air tuba.

Belanda tetap memaksa kehendak untuk memerangi Aceh untuk sebuah prestise. Sebab Aceh saat itu menjadi wilayah strategis masuk Nusantara, dan Belanda takut ada negara lain yang mencaplok. Maka Belanda tetap bersikeras untuk memerangi Aceh untuk menjadikannya bagian dari Hindia-Belanda.

* Rusdi Sufi, Sejarawan Aceh.


Friday, March 8, 2013

Inilah Laksamana Keumala Hayati yang Memimpin 2000 Pasukan Inoeng Balee

 
...LIRIH terdengar suara itu memanggil jiwa untuk maju//Dari tanah mu hai Aceh lahir perempuan perkasa bukan hanya untuk dikenang//Tapi dia panglima Laksamana Jaya memanggil kembali untuk berjuang//Dia perempuan Keumala//Alam semesta restui//Lahir jaya berjiwa baja Laksamana Malahayati perempuan ksatria negeri...//

Lirik lagu tersebut dilantunkan Sang Maestro, Iwan Fals mengenang perjuangan Laksamana Malahayati. Keumala merupakan wanita Aceh yang memimpin armada laut kerajaan dan 2 ribu pasukan Inong Balee. Pasukan ini terdiri dari wanita-wanita Aceh yang suaminya tewas dalam perempuan Teluk Haru melawan Portugis.

Berdasarkan catatan Ali Hasjmy dalam bukunya Wanita Aceh menceritakan, pembentukan pasukan Inong Balee ini dilakukan Laksamana Malahayati setelah meminta izin dari Sultan Aceh, Sultan Al Mukamil. Permohonan itu dilakukan Keumala setelah suaminya ikut tewas dalam peperangan meski armada Kerajaan Aceh memperoleh kemenangan melawan Portugis.

Permintaan ini dikabulkan Sultan Al Mukamil dan Laksamana Malahayati diangkat menjadi panglimanya. Armada ini ditugaskan menjaga Teluk Krueng Raya, Aceh Besar dari gangguan bangsa asing.
Konon diceritakan Keumala Hayati awalnya mendapat pendidikan militer di pusat pendidikan tentara Aceh Asykar Baital Makdis. Dia mendapat pelatihan langsung dari instruktur perwira Turki Utsmaniyah.

Di kamp militer inilah Malahayati berkenalan dengan suaminya yang kelak diangkat menjadi Panglima Armada Selat Malaka Aceh. Usai menjalani pendidikan di Baital Makdis, Keumala Hayati diangkat menjadi Komandan Protokol Istana Darud Dunia oleh Sultan Aceh.
Nama Keumala Hayati menjadi populer setelah berhasil menyerbu kapal-kapal perang Belanda yang menyamar jadi kapal dagang. Armada kapal Belanda itu dipimpin Houtman bersaudara yang mengkhianati kepercayaan Sultan Aceh.

Pengkhianatan yang dilakukan dua Zeelander ini setelah berhasil masuk ke Aceh pada 21 Juni 1599 Masehi. Mereka melakukan manipulasi dagang, mengacau, dan menghasut sehingga membuat Sultan Aceh gerah.
Sultan Aceh kemudian memerintahkan Armada Inong Balee menyerbu kapal De Houtman bersaudara pada 11 September 1599. Pertempuran sengit berlangsung di atas geladak kapal Belanda. Cornelis de Houtman berhasil ditikam dan mati di tangan Laksamana Keumala Hayati sementara saudaranya, Frederick de Houtman ditawan.

"Di kapal Van Leeuw telah dibunuh Cornelis de Houtman dan anak buahnya oleh Laksamana Malahayati sendiri, sementara sekretaris rahasianya menyerang Frederick de Houtman dan ditawannya serta dibawa ke darat. Davis dan Tomkins menderita luka..." tulis Marie van C. Zeggelen dalam bukunya berjudul Oude Glorie.

Keberhasilan Malahayati dalam menumpas pengkhianatan de Houtman bersaudara ini membuat karirnya meningkat. Dia dipercaya menjabat sebagai panglima perang angkatan laut kerajaan.
Ketangguhan Laksamana Malahayati menjaga gerbang masuk ke Aceh membuat Kerajaan Belanda yang dipimpin Prince Maurits terpaksa mengambil langkah damai. Belanda mengirimkan utusan yang berangkat dengan empat buah kapal dagang, yaitu Zeelandia, Middleborg, Lange dan Sonne.
Laksamana Malahayati ditugaskan untuk memeriksa kapal-kapal utusan Belanda ini. Setelah mendapat rekomendasi dari panglima armada laut perempuan itu, utusan Belanda baru dapat menemui Sultan Aceh.

Bukti peninggalan sejarah armada Laksamana Malahayati kini bisa dijumpai di Desa Lamreh, Krueng Raya. Di desa itu terdapat Benteng Kuta Inong Balee, markas pasukan Keumala Hayati di Teluk Krueng Raya.
 
 
Sumber : The Atjeh Post

Srikandi Aceh itu Bernama "Cut Nyak Dhien"

 
"Sebagai perempuan Aceh, kita tidak boleh menumpahkan air mata pada orang yang sudah syahid," ujar Cut Nyak Dhien usai menampar buah hatinya Cut Gambang yang menangis saat mengetahui Teuku Umar syahid ditembak Belanda,  11 Februari 1899. Cut Nyak kemudian memeluk Cut Gambang.
Setelah kepergian Teuku Umar, pimpinan perang di pantai barat Aceh diambil alih Cut Nyak Dhien. Bersama sisa pasukan suaminya, Cut Nyak bergerilya dari satu medan ke medan pertempuran lainnya.

Dua tahun sejak kematian Teuku Umar, akhirnya perjuangan Cut Nyak bersama pasukan Aceh mulai terdesak akibat tentara Belanda sudah terbiasa berperang di daerah ini. Cut Nyak pun semakin renta.
Matanya sudah mulai rabun dan dia diserang encok. Jumlah pasukannya pun terus berkurang serta sulit sekali memperoleh makanan.

Kondisi Cut Nyak mendatangkan rasa iba bagi sisa pasukannya. Salah satu anak buahnya bernama Pang Laot melaporkan lokasi markas Cut Nyak kepada Belanda karena iba. Akibatnya, Belanda menyerang markas Cut Nyak Dhien di Beutong Le Sageu.

Serangan ini mengejutkan pejuang Aceh. Begitu pula dengan Cut Nyak Dhien yang menyambar rencong untuk melawan musuh. Perlawanan Cut Nyak Dhien berhasil dihentikan Belanda. Dia ditangkap sementara putrinya Cut Gambang, berhasil melarikan diri ke hutan belantara. Cut Gambang kemudian meneruskan perlawanan yang sudah dilakukan oleh ayah dan ibunya.

Cut Nyak Dhien kemudian diboyong ke Kutaradja (Banda Aceh) dan mendapat perawatan medis untuk penyakit yang dideritanya. Penyakitnya seperti rabun dan encok berangsur-angsur sembuh.
Tak lama kemudian, Cut Nyak Dien dibuang ke Sumedang, Jawa Barat. Pengasingan ini dilakukan Belanda karena ketakutan kompeni terhadap semangat yang bisa diciptakan Cut Nyak dalam memicu perlawanan pejuang Aceh kepada mereka. Apalagi saat itu, Cut Nyak Dhien masih terus berhubungan dengan pejuang yang belum tunduk.

Ia kemudian dibawa ke Sumedang bersama dengan tahanan politik Aceh lainnya. Di dalam tahanan, Cut Nyak mendapat julukan Ibu Perbu karena wawasan dan pemahamannya terhadap Islam sangat kental.

Pada tanggal 6 November 1908, Cut Nyak Dhien meninggal karena usianya yang sudah tua.
Makamnya baru ditemukan pada tahun 1959 berdasarkan permintaan Gubernur Aceh saat itu, Ali Hasan. Cut Nyak diakui oleh Presiden Soekarno sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui SK Presiden RI No.106 Tahun 1964 pada tanggal 2 Mei 1964.

Kisah perjuangan Cut Nyak  diinterpretasi dalam film drama epos berjudul Tjoet Nja' Dhien pada tahun 1988 yang disutradarai oleh Eros Djarot dan dibintangi Christine Hakim sebagai Tjoet Nja' Dhien, Piet Burnama sebagai Pang Laot, Slamet Rahardjo sebagai Teuku Umar dan juga didukung Rudy Wowor. Film ini memenangkan Piala Citra sebagai film terbaik, dan merupakan film Indonesia pertama yang ditayangkan di Festival Film Cannes (tahun 1989).

Sementara peninggalan Cut Nyak di Aceh yaitu Rumoh Cut Nyak Dhien di Lampisang, Peukan Bada. Rumah itu merupakan benda cagar budaya yang dilestarikan dan mengundang minat wisatawan pecinta sejarah Aceh. Perjuangan Cut Nyak melawan Belanda menjadikan namanya bersanding dengan tokoh-tokoh wanita dunia.
 
 
Source : The Atjeh Post

Thursday, February 28, 2013

Kisah Serangan Umum 1 Maret | Suara Merdeka dari Aceh

Tugu yg didirikan diatas lahan tempat berdirinya Radio Rimba Raya di kampung Rimba Raya, Bener Meriah, Aceh (Foto: Harian Detik)
Jakarta | Jangan salah memahami judul di atas. Bukan, kami bukan membicarakan konflik bersenjata yang pernah terjadi di provinsi tersebut. Kami justru sedang membicarakan sebuah fakta sejarah yang pernah terjadi di Aceh. Sejarah yang kini agak terlupakan.

Inilah kisah tentang radio perjuangan yang dirintis Divisi X Komandemen Sumatera Utara, Langkat dan Tanah Karo. Radio ini kelak dikenal dalam sejarah dengan nama Radio Rimba Raya. Radio ini berjasa sebagai corong Republik untuk menangkal propaganda sesat Belanda. Termasuk, yang fenomenal, menyiarkan serangan besar selama enam jam di Yogyakarta pada 1 Maret 1949.

Radio ini didirikan untuk melakukan kontrapropaganda atas siaran radio Belanda ataupun radio lokal yang dikuasai Belanda. Pasca-agresi militer Belanda yang kedua pada 19 Desember 1948, penjajah selalu mempropagandakan bahwa RI sudah mati sehingga kedaulatan Republik belum diakui.

Tapi tentara di Divisi X tak mau diam saja. Panglima Divisi X saat itu, Kolonel Husein Yusuf, diam-diam merancang pembelian seperangkat stasiun radio dan pemancarnya dari Malaya. Dengan bantuan penyelundup kondang pada zaman itu, radio pun dibeli dengan barter hasil bumi dan emas.

Studionya dibangun di salah satu ruangan di rumah Kolonel Husein di Bireuen, kota kecil yang pernah dikunjungi Presiden Sukarno pada 1948. Mereka melakukan siaran dari sore sampai dini hari untuk menyemangati para pejuang dan menangkis berbagai propaganda Belanda.

Siaran berita dan informasinya mengudara dalam bahasa China, Inggris, Belanda, Urdu, dan Arab, selain bahasa Indonesia serta Aceh. Siarannya ditangkap sampai India, Singapura, Filipina, dan direlai ke Eropa.

Sampai suatu ketika, radio dan pemancarnya harus dipindahkan ke Kutaraja, Banda Aceh. Lalu, setelah agresi Belanda kedua, stasiun radio itu diungsikan ke belantara bernama Rimba Raya di jalan raya Bireuen-Takengon, Aceh Tengah.

"Tanpa Radio Rimba Raya, mungkin sejarah jadi lain," kata Ikmal Husin, seorang sutradara lulusan Institut Kesenian Jakarta, yang telah membuat film dokumenter tentang radio tersebut.

Mungkin menimbulkan kesan jemawa, mengingat Serangan Umum 1 Maret dalam buku-buku sejarah selalu tentang kisah para pejuang di Yogyakarta. Serta, tentu saja, nama-nama besar di balik serangan itu, seperti Letnan Kolonel Soeharto, Sultan Hamengku Buwono IX, dan Panglima Besar Jenderal Soedirman.

Padahal, bisa jadi, tanpa Radio Rimba Raya, Serangan Umum 1 Maret 1949 hanyalah sebuah aksi sporadis di wilayah kecil yang pernah menjadi ibu kota Republik Indonesia. Suara bedil, dan pengorbanan nyawa, meledak tak lebih jauh dari batas-batas Kota Yogya.

Siapa pernah mengira, dari hutan lebat itu pernah memancar suara-suara kemerdekaan Indonesia. Dari balik pepohonan pinus dan sawah yang sekarang tak terurus pernah tersiar kabar bahwa Republik Indonesia masih ada!.
 
 
Sumber : Detik

Tuesday, December 4, 2012

Airbus Military Pindahkan Pabrik dari Spanyol ke Bandung


JAKARTA | Airbus Military tengah dalam proses memindahkan aktivitas produksi pesawat transpor menengah C295 dari Sevilla, Spanyol, ke PT Dirgantara Indonesia (Persero) di Bandung.

"Selain tingginya faktor kepercayaan Airbus Military kepada kami, ke depan mereka memang hanya akan memusatkan perhatian pada produksi pesawat transpor militer berbadan lebar A400M," kata IP Windu Nugroho, staf senior Divisi Komunikasi PTDI kepada media di kantornya, di Bandung, Rabu.

Dalam proses pemindahan itu, PTDI kini sedang membangun pusat pengiriman (delivery center) untuk pesawat CN295, sebutan selanjutnya bagi C295 setelah produksi bersama dilaksanakan.

Kegiatan ini salah satu bentuk perwujudan program revitalisasidi di tubuh PTDI, kata Windu.

Proses pembangunan "delivery center", kata Windu, disertai pula dengan proses pembangunan lini perakitan akhir (final assembly line) CN295, yang pengerjaannya dibantu oleh tim ahli dari Airbus Military sebagai mitra bisnis. Delivery Center CN295 diharapkan selesai pada kuartal pertama 2013.

Setelah fasilitas itu siap, PTDI akan mampu mengirimkan pesawat hasil produksinya empat unit per tahun ke seluruh customernya, khususnya untuk pesawat ke tiga hingga ke tujuh pesanan TNI AU dari sembilan pesawat yang dipesannya, dengan dua sudah diserahkan ke TNI-AU bulan lalu.

Windu menjelaskan, Kementerian Pertahanan RI memutuskan pembelian sembilan CN295 pengganti pesawat-pesawat Fokker F-27 yang sudah dioperasikan TNI-AU sejak pertengahan 2970-an. Pengadaan CN295 untuk TNI-AU itu ditandatangani saat pameran kedirgantaraan Singapore Airshow, Februari 2012.

PTDI dan Airbus Military memiliki sejarah kerja sama panjang di berbagai bidang industri penerbangan sejak tahun 1976.

Dalam kurun waktu tersebut, PTDI telah memproduksi 102 unit NC212-200, 10 unit NC212-400, 60 unit CN235 dalam berbagai varian dan misi, 200 unit CN235 sharing component untuk Airbus Military, 2 unit CN295, dan 88 unit C295 sharing component untuk Airbus Military.

Sebagai mitra, PTDI dan Airbus Military akan terus terlibat bersama dalam berbagai hal, diantaranya dalam pendistribusian teknologi dan pengetahuan seputar area manufaktur, manajemen proyek, teknologi informatika dan pengembangan komersil, yang tentunya akan menguntungkan ke dua belah pihak.

Terkait dengan proyek bersama itu, pesawat CN295 pertamakali diluncurkan oleh Airbus Military pada tahun 1996. Pesawat ini merupakan versi pengembangan dari CN235 yang sudah populer, dengan menawarkan kapasitas dan jangkauan lebih besar. Keduanya telah menjadi pesawat terlaris dalam segmen pasar masing-masing.

CN295 memiliki tingkat keandalan dan dukungan operasional tinggi seperti CN235, dan terbukti di medan pertempuran dan sukses dalam misi berkondisi panas, padang pasir, maritim serta kondisi dingin/es.

Pesawat ini dilengkapi "highly integrated avionics system (HIAS), sistem avionik terpadu modern berdasarkan Thales Topdeck Avionics.

Konsep arsitektur pesawat yang fleksibel dan penggunaan peralatan sipil/militer teknologi ganda memastikan kesuksesan misi taktis, potensi pertumbuhan untuk peralatan di masa depan, serta kesesuaian dengan lingkungan dirgantara sipil dewasa ini.

Ciri lain CN295 adalah avionik kokpit kaca pesawat terdiri dari empat matriks liquid crystal display berukuran besar (6x8 inci), kompatibel dengan kacamata malam hari. Sistem avioniknya terintegrasi dengan layar multifungsi untuk memperbaiki kesadaran situasional bagi pilot serta mengurangi beban kerja pilot dan meningkatkan efektivitas misi.

Pesawat ini juga memiliki alat perlindungan diri di lingkungan berbahaya seperti Irak dan Afghanistan, berupa pelindung kokpit, perangkat untuk mendeteksi radar (RWR), misil (MAWS) dan laser (LWS) serta memberitahukannya pada pilot, serta penglepas bunga api (flare dispenser).

CN295 juga mempunyai pilihan kapabilitas mengisi bahan bakar di tengah penerbangan. Pesawat CN295 memberikan tingkat multifungsi dan fleksibilitas yang luas, memenuhi kebutuhan kinerja dengan biaya rendah, dari lapangan udara yang kecil dan tidak beraspal, dengan layanan dukungan sepanjang usia pesawat.

CN295 pesawat segala misi, transportasi personel dan kargo hingga evakuasi, komunikasi dan logistik, ataupun kapabilitas air-dropping tersertifikasi. Semua ini dijalankan dengan waktu pengubahan konfigurasi tercepat, sehingga menurunkan risiko ketika beroperasi di lingkungan berbahaya.


Sumber : Bisnisaceh

Monday, November 26, 2012

Inilah Para Kapolres Baru di Sumatera


JAKARTA | Mutasi besar-besaran di tubuh Polri dilakukan bulan November 2012 ini.
 
Inilah sebagian nama perwira menengah Polri yang dimutasi di Polda-polda di wilayah Pulau Sumatera, sebagian di antaranya Kapolres dan Direktur di Polda.

Polda Aceh
1) AKBP Gunawan Eko Susilo, Pamen Itwasum Polri, menjabat Kapolres Nangan Raya Polda Aceh
2) AKBP Muhajir, Kaden I Satbrimob Polda Aceh, menjabat Kapolres Aceh Timur Polda Aceh
3)AKBP Djadjuli, Kaden A Sat III Pelopor Korbrimob Polri, menjabat Kapolres Aceh Besar Polda Aceh
4) AKBP Dicky Sondani, Kapolres Aceh Tengah Polda Aceh, menjabat Kapolres Aceh Tamiang Polda Aceh
5)AKBP Artanto, Kapolres Aceh Barat Polda Aceh, menjabat Kapolres Aceh Tengah Polda Aceh
6)AKBP Faisal, Kasubditdalmas Ditsabhara Polda Aceh, menjabat Kapolres Aceh Barat Polda Aceh
7) AKBP Heri Heryandi, Kapolres Nangan Raya, menjabat Wakil Kasat Brimob Polda Aceh

Polda Sumatera Utara
1) AKBP Dicky Patria Negara, Kapolres Tapanuli Tengah, menjabat Kapolres Deli Serdang, Polda Sumut
2) AKBP Misnan, Kabagnbinkar Biro SDM Polda Sumut, menjabat Kapolres Tapanuli Tengah, Polda Sumut
3) AKBP Andi Syahriful Taufik, Kapolres Padang Sidempuan Polda Sumut, menjabat Kapolres Simalungun, Polda Sumut
4) AKBP Budi Hariyanto, Kanit III Subdit III Dittipidter Bareskrim Polri, menjabat Kapolres Padang Sidempuan, Polda Sumut
5) AKBP Marthin L Hutagaol, Kabaggadik Pusdik Reskrim Lemdikpol, menjabat Kapolres Tanjung Balai, Polda Sumut
6) AKBP Abdul Rizal A Engahu, Kasbudit IV Ditreskrimsus Polda Sumut, menjabat Kapolres Tapanuli Selatan, Polda Sumut
7) Kombes Toga Habinsaran Panjaitan, Kasubdit I Dittipidnarkoba Bareskrim Polri, menjabat Dirreskrim Narkoba, Polda Sumut
8) Kombes Marsauli Siregar, Analis Kebijakan Madya Bidang Pidter Bareskrim Polri, menjabat Dirreskrimum, Polda Sumut
9) AKBP Wawan Munawar, Kapolres Deli Serdang, menjabat Wakil Direskriminum, Polda Sumut
10) Kombes Budi Siswanto, Analis Kebnijakan Madya Bidang Jakstra Srena Polri, menjabat Karo SDM, Polda Sumut

Polda Riau
1) AKPB Eri Safari, Wadirlantas Polda Sumut, menjabat Dirlantas, Polda Riau
2) AKBP Ulung Sampurna Jaya, Kasubdit IV Ditreskrimsus Polda Riau, menjabat Kapolres Bengkalis, Polda Riau
3) AKBP Auliansyah Lubis, Kapolres Rokan Hilir Polda Riau, menjabat Kapolres Kampar Polda Riau Kapolres Inderagiri Hulu, Polda Riau
4) AKBP Tonny Hermawan, Kabagbinkar Rosdm Polda Riau, menjabat Kapolres Rokan Hilir, Polda Riau
5) AKBP Hermansyah, Kapolres Inderagiri Hulu Polda Riau, menjabat Kabidhumas, Polda Riau
6) AKBP Aris Prasetyo Indaryanto, Kasubdit II Ditientelkam Polda Riau, menjabat Kapolres Inderagiri Hulu, Polda Riau

Polda Kepulauan Riau
1) AKBP Totto Wibowo, Kapolres Musi Banyuasing, menjabat Wakil Direskrimum, Polda Kepri
2) AKBP Patar Gunawan Aritonang, Kasubditregindent Ditlantas Polda Riau, menjabat Kapolres Tanjungpinang, Polda Kepri
3) AKBP Anton Setiyawan, Kasubdit II Ditreskrimsus Polda Kepri, menjabat Kapolres Natuna, Polda Kepri
4) AKBP Benyamin Sapta, Kapolres Karimun Polda Kepri, menjabat Wakil Dirpolair, Polda Kepri
5) AKBP Dwi Suryo Cahyono, Kasubdit IV Ditintelkam Polda Kepri, menjabat Kapolres Karimun, Polda Kepri

Polda Sumatera Barat
1) AKBP Lutfi Martadian, Kapolres Solok Polda Sumbar, menjabat Kapolres Tanah Datar, Polda Sumbar
2) AKBP Guntur Hindarsyah Kabagbinkar RoSDM Polda Bengkulu, menjabat Kapolres Solok, Polda Sumbar
3) AKBP Ghiri Prawijaya, Kapolres Sikka Polda NTT, menjabat Wakil Dirintelkam, Polda Sumbar

Polda Sumatera Selatan
1) AKBP Iskandar Fitriana Sutisna, Kasubdit II Ditintelkam Polda Sumsel, menjabat Kapolres Musi Banyuasin, Polda Sumsel
2) Kombes Budi Dermawan, Kabagsumda Rorenmin Baintelkam Polri, menjabat Dirintelkam, Polda Sumsel
3) Kombes Abadan Bangko, Karo SDM Sulteng, menjabat Karo SDM, Polda Sumsel
4) AKBP Budi Suryanto, Kapolres Muara Enim Polda Sumsel, menjabat Kapolres Lahat, Polda Sumsel
5) AKBP Mohamad Aris, Kapolres Ogan Komering Ulu, menjabat Kapolres Muara Enim, Polda Sumsel
6) AKBP Wira Satya Triputra, Kasubditgakkum Ditpolair Polda Sumsel, menjabat Kapolres Ogan Komering Ulu, Polda Sumsel
7) AKBP Abi Darrin, Kapolres Pagaralam Polda Sumsel, menjabat Wakil Dirsabhara, Polda Sumsel
8) AKBP Raden Hendrawan, Kasitrans VIP Subdit Trans Ditpolairudra Baharkam Polri, menjabat Kapolres Pagaralam, Polda Sumsel
9) AKBP Muhammad Barly Ramdhany, Kasubdit IV Ditreskrimsus Polda Sumsel, menjabat Kapolres Musi Rawas, Polda Sumsel

Polda Jambi
1) Kombes Wahyu Triwidodo, Kasubdit I Dittipidum Bareskrim Polri, menjabat Direktur Reskrtimsus, Polda Jambi
2) AKBP Ayi Supardan, pamen Lemdikpol, menjabat Kapolres Muaro Bungo, Polda Jambi
3) AKBP Bambang Hery, Kabag RBP Rorena Polda Jambi, menjabat Kapolres Tanjab Timur, Polda Jambi
4) AKBP Adi Affandi, Kasubditreskrimum Polda Jambi, menjabat Kapolres Bungo, Polda Jambi

Polda Bengkulu
1) AKBP Roh Hadi, Kasubdit III Ditreskrimsus Polda Bengkulu, menjabat Kapolres Lebong, Polda Bengkulu
2) AKBP Supriyadi, Kapolres Lebong Polda Bengkulu, menjabat Wakil Diresnarkoba, Polda Bengkulu
3) Kombes Pudji Prasetijanto, Assesor Bagpenkompeten Robinkar SSDM Polri, menjabat Karo SDM, Polda Bengkulu
4) AKBP Yudi Hermawan, Kapolres Melawi Polda Kalbar, menjabat Wakil Dirintelkam Polda Bengkulu

Polda Lampung

1) AKBP Febriyant Wachidin, Kapolres Natuna Polda Kepri, menjabat Wakil Direnintelkam, Polda Lampung
2) AKBP Bayu Aji, Kapolres Tanggamus Polda Lampung, menjabat Kapolres Lampung Selatan, Polda Lampung
3) AKBP A Djoko Widiyanto, Kasubdit I Ditreskrimsus Polda Lampung, menjabat Kapolres Tanggamus, Polda Lampung
4) AKBP Yani Sudarto, Kapolres Kulon Progo, Polda DIY, menjabat Wakil Diresnarkoba, Polda Lampung

Polda Bangka Belitung

1) AKBP Rajendra Sumihar, Kapolres Pangkal Pinang Polda Babel, menjabat Wakil Dirintelkam, Polda Babel
2) AKBP Barza Sulfi, Kabagdalpres Rosdm Polda Metro Jaya, menjabat Kapolres Pangkal Pinang, Polda Babel
3) AKBP Djoko Purnomo, Kabagbinkar Risdm Polda Babel, menjabat Kapolres Bangka Barat, Polda Babel.


Sumber : Kompas

Sunday, October 7, 2012

Benarkah Exxon Membayar Pelaku Penyiksaan ?


Orang ini, yang tewas dua tahun setelah gugatan diajukan, mengklaim bahwa serangan oleh aparat keamanan ExxonMobil mengakibatkan hilangnya tangan dan mata.
Orang ini, yang tewas dua tahun setelah gugatan diajukan, mengklaim bahwa serangan oleh aparat keamanan ExxonMobil mengakibatkan hilangnya tangan dan mata. Foto: Terry Collingsworth
Washington, DC | Pada tahun 2000, TNI menahannya saat ia mengunjungi sebuah kamp pengungsi. Mereka menembaknya "di tiga tempat di kakinya," kemudian "menyiksanya selama beberapa jam." Para prajurit " memecahkan tempurung lutut-nya, menghancurkan tengkoraknya, dan menyundutnya dengan rokok." Setelah ia dibawa ke rumah sakit untuk diobati luka-lukanya, ia kembali ke penyiksanya, yang menahannya selama sekitar satu bulan dan "menyiksanya secara teratur."

Peristiwa ini terjadi di Provinsi Aceh, pada puncak perang sipil berdarah. Menurut pengaduan korban, penculiknya bukan sembarang tentara. Mereka adalah "personel keamanan ExxonMobil." Dan sekarang, lebih dari satu dekade kemudian, ExxonMobil telah diadili dalam gugatan hak asasi manusia.

Pada bulan Juni 2001, John Doe III dan 10 warga sipil di sekitar ladang gas ExxonMobil mengajukan gugatan terhadap ExxonMobil di pengadilan distrik federal Washington, DC. Dalam tuntutannya, masyarakat menuntut perusahaan bertanggung jawab atas keterlibatan dalam penyiksaan, penahanan sewenang-wenang, dan pembunuhan yang diduga dilakukan oleh tentara Indonesia yang disewa untuk keamanan ExxonMobil.

ExxonMobil bersikeras menyatakan diri tidak bersalah dalam kasus ini.

"Kami telah berjuang selama bertahun-tahun menyatakan klaim tak berdasar," kata juru bicara ExxonMobil, David Eglinton. Selama beroperasi di di Indonesia, ExxonMobil telah bekerja selama beberapa generasi untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui rekrutmen pekerja lokal, penyediaan layanan kesehatan dan investasi masyarakat luas. Perusahaan mengutuk keras pelanggaran  HAM dalam bentuk apapun.

Namun dalam putusan 2008, hakim federal pengadilan distrik, Louis Oberdorfer memerintahkan Exxon untuk menghadapi persidangan. "Seorang pencari fakta yang wajar," tulis hakim, mengutip korespondensi internal dari Exxon dan anak perusahaannya di Indonesia, EMOI, "bisa menyimpulkan bahwa pasukan keamanan yang dibayar perusahaan melakukan tindakan kekerasan dan bahwa EMOI dan Exxon Mobil bertanggung jawab." Exxon mengajukan banding, namun panel pengadilan federal menguatkan putusan pada bulan Juli 2011.
Diharapkan pada awal Desember, putusan pengadilan hampir pasti menetapkan preseden- yang memungkinkan orang di seluruh dunia untuk menggugat perusahaan di pengadilan federal AS untuk pelanggaran seperti tenaga kerja budak, pembunuhan di luar hukum, dan penyiksaan, atau pemecatan. Lebih dari selusin kasus sejenis Tort melibatkan ratusan penggugat sudah pada tahap keputusan.  
Terry Collingsworth, seorang pengacara hak asasi manusia yang awalnya mengajukan kasus Aceh dan tetap menjadi penasehat dalam kasus ExxonMobil menjelaskan karena mereka (ExxonMobile-red) melarang pelanggaran yang sama dalam kode mereka sendiri secara sukarela maka  mereka juga harus siap untuk berdiri di pengadilan "dan bertanggung jawab atas pembunuhan dan penyiksaan."


Pada pagi hari tanggal 21 Maret 2001, bel pintu berbunyi di lantai sembilan gedung di Washington, DC, pada Forum International Labor Rights, sebuah kelompok advokasi bagi pekerja yang terkena dampak globalisasi ekonomi. Dari muka pintu seorang asing muda muncul berbicara tidak dalam bahasa Inggris tetapi bahasa Indonesia.

Namanya adalah Mohammed Saleh, dan dia adalah seorang aktivis mahasiswa yang mewakili sebuah kelompok hak asasi manusia yang kecil di Aceh, Indonesia. Pemerintah Indonesia memenjarakan pemimpin kelompok itu, Muhammad Nazar, untuk advokasi referendum kemerdekaan Aceh. Jadi Nazar mengatur Saleh ke Washington, DC, untuk memberitahu orang Amerika tentang krisis Aceh.

Salah satu staf Forum ini, Bama Athreya, yang kebetulan bisa berbahasa Indonesia saat bekerja di Jakarta, menyambut Saleh. Dia pernah bertemu dengannya sebelumnya dan ia menceritakan kisah disampaikan oleh penduduk desa yang tinggal dekat ExxonMobil.  
Sampai di lantai 9, Athreya memperkenalkan Saleh kepada Collingsworth, putra seorang penjaga toko di sebuah pabrik tembaga di Cleveland dan mantan operator mesin di pabrik. Collingsworth tumbuh menjadi pengacara perburuhan. Di sekolah hukum ia mengembangkan minat dalam isu-isu hak asasi manusia. Kasus UNOCAL adalah salah satu kasus besar pertamanya.

Ketika Saleh tiba, Collingsworth membawanya ke ruang konferensi. Dengan Athreya sebaga penerjemah, ia mendengarkan pemuda itu bercerita tentang kekejaman yang terjadi di Aceh, dan dugaan peran pasukan keamanan ExxonMobil. Dalam waktu seminggu, Collingsworth berada di pesawat terbang ke Indonesia.

sumber :motherjones.com/theglobejournal.com

Saturday, September 29, 2012

Cerita di Balik Penghentian Pemutaran Film G30S PKI


Jakarta  | Masih ingatkah Anda kapan terakhir kali menyaksikan pemutaran film ‘Pengkhianatan G30S’? Film berdurasi 4 jam yang wajib disiarkan saban malam tanggal 30 September itu tak lagi tayang di televisi mulai tahun 1998.

Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Asvi Warman Adam mengatakan ada cerita di balik distopnya penyiaran film yang mendiskreditkan PKI itu. “Waktu itu ada permintaan dari Perhimpunan Purnawirawan Angkatan Udara Republik Indonesia (PP AURI),” kata Asvi saat dihubungi Tempo, Kamis, 27 September 2012.

Tokoh dari angkatan udara saat itu, Marsekal Udara Saleh Basarah menelepon Menteri Pendidikan Juwono Sudarsono dan Menteri Penerangan Yunus Yosfiah.”Pak Saleh minta supaya film itu tidak diputar lagi,” kata Asvi.

Alasannya, lanjut Asvi, sejumlah anggota TNI Angkatan Udara menilai film tersebut mendiskreditkan pangkalan AURI di Halim Perdanakusumah. "Halim PK dianggap sebagai sarang PKI," kata dia.

Mantan Menteri Pendidikan, Juwono Sudarsono membenarkan adanya hubungan per telepon dengan Saleh Basarah. “Beliau menghubungi saya sekitar bulan Juni-Juli 1998,” kata Juwono, kemarin. Permintaan tersebut, lanjut dia, disampaikan secara lisan saja.

Sementara itu, Menteri Penerangan saat itu, Yunus Yosfiah mengatakan pemutaran film yang bernuansa pengkultusan tokoh, seperti film Pengkhianatan G30S/PKI, Janur Kuning, Serangan Fajar tidak sesuai lagi dengan dinamika reformasi. "Karena itu, tanggal 30 September mendatang TVRI dan TV swasta tidak akan menayangkan lagi film Pengkhianatan G30S/PKI," ujar Yunus seperti dikutip dari Kompas edisi 24 September 1998.

Sebagai gantinya, lanjut Yunus, Departemen Penerangan bekerja sama dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mempersiapkan sebuah film yang terdiri dari tiga episode. Film berjudul Bukan Sekadar Kenangan itu disutradarai Tatiek Mulyati Sihombing. 


Sumber : Tempo

Arwah korban Perang Dunia Kedua terekam di hutan Borneo

Barisan arwah diyakini tentara sekutu terekam kamera saat melintasi Jalan Kematian Sandakan. dailymail.co.uk
SANDAKAN | Sebuah foto memperlihatkan barisan hantu tentara Inggris menjadi tahanan pada Perang Dunia II. Gambar itu diambil di wilayah Sandakan-Ranau, Kalimantan, dikenal jalan kematian bagi 2.400 anggota militer Britania.

Surat kabar the Daily Mail melaporkan, Jumat 28 September 2012, foto diabadikan oleh mantan tentara Mayor John Tulloch. Dia tengah mengingat dan napak tilas peristiwa terjadi pada 1945 itu.
Lelaki 66 tahun itu kaget saat melihat gambar diambil dari kamera digital miliknya. Terlihat bayangan samar diyakini arwah tentara sekutu tengah melintas di jalan menuju Ranau.

"Sekitar 18 hantu prajurit itu nampak keluar dari hutan," kata Tulloch.
Gambar diambil dua tahun lalu ini mengembalikan ingatan Tulloch atas pembantaian dilakukan tentara Jepang pada pasukan sekutu. Jalan kematian Sandakan menjadi saksi ribuan tahanan militer terseok melintasi rute sejauh 257,4 kilometer, tanpa alas kaki dan kondisi lapar.

Sejarah menyebutkan, hanya enam orang selamat dari peristiwa itu sebab mereka mendapat kesempatan kabur.
Saat foto ditunjukkan pada orang lain, mereka menolak melihatnya sebab dinilai menakutkan. Dari 200 gambar diambil, hanya satu menunjukkan adanya barisan arwah ini.
 
Sumber : Merdeka

Tuesday, September 18, 2012

4 Pemimpin Negara Terkejam di Dunia


Seorang pemimpin negara sedianya mengabdikan diri sebagai pelindung bagi rakyatnya. Namun ada beberapa orang yang menyalahgunakan amanah demi kepentingannya sendiri sehingga tega berbuat kejam kepada sebagian rakyatnya.

1. Pol Pot

Pol Pot atau Saloth Sar lahir pada 19 Mei 1928 di Prek Sbauv di Indochina Prancis. Dia dikenal sebagai salah satu pemimpin negara yang kejam lantaran dianggap bertanggung jawab atas kematias sekitar dua juta warga Kamboja.

Pada April 1975, Khmer Merah atau Khmer Rouge yang dipimpin Pol Pot berhasil menggulingkan kekuasaan Pangeran Shihanouk dan Jendral Lon Nol. Khmer saat itu memiliki basis para petani.

Suatu kali, Pol Pot pernah memerintahkan para penduduk di kota agar segera meninggalkan kota lantaran pesawat Amerika akan menyerang dalam tiga hari. Para tentara petani pun menggelar sweeping di rumah-rumah penduduk kota untuk menjalankan perintah Pol Pot. Perintah lainnya, siapa yang berani menolak akan dibunuh.

Setelah Kamboja menjadi republik komunis dengan nama Kamboja Demokratis atau  Democratic Kampuchea, Khieu Samphan menduduki kursi sebagai presiden pertama. Nah, pada 13 Mei 1976 Pol Pot dilantik sebagai Perdana Menteri Kamboja.

Dalam kekuasaan Khmer Merah, rakyat dari perkotaan dievakuasi ke pedesaan. Kemudian rakyat harus hidup bersama di ladang-ladang yang ada. Pol Pot tak segan membunuh siapapun yang berseberangan dengan ide dan langkah politiknya.

Para intelektual dan biksu disiksa dan dibunuh karena dianggap tak sejalan dengan doktrinnya. Cara mengeksekusi 'lawan'-nya pun dikenal begitu kejam. Pacul dan kantong plastik untuk membekap kepala 'lawan' menjadi alat eksekusi Pol Pot. Bagi Pol Pot, 'cut the grass must dig the root also'.

Para korban kemudian dikubur secara massal di wilayah Choen Ek. Tempat itu pun diberi nama 'Killing Field'.

Kamboja begitu terisolasi di masa Pol Pot berkuasa. Saat itu rakyat Phnom Penh pun banyak yang meninggal karena kelaparan, penyakit, maupun karena dieksekusi.

Pol Pot meninggal pada 15 April 1998. Dikabarkan, Pol Pot meregang nyawa karena serangan jantung. Jasadnya lantas dibakar dengan disaksikan beberapa bekas anggota Khmer Merah.

2. Adolf Hitler
 
Pria dengan sepotong kumis ini wajahnya tak terkesan angker, namun dia diingat sebagai orang yang tega membunuh jutaan Yahudi. Dia dikenal sebagai sosok yang melansir eugenetika yang merujuk pada perbaikan ras manusia dengan memperbanyak orang sehat serta membuang orang-orang yang berpenyakit dan cacat.

Hitler lahir pada 20 April 1889. Di tahun 1933, Hitler menjadi Kanselir Jerman. Saat berkuasa, dia menggabungkan jabatan kanselir dan presiden menjadi Fuhrer. Dia pun menjadikan Nazi sebagai partai tunggal di Jerman.

Nazi sebelumnya bernama Deutsche Arbeiterpartei/DAP atau Partai Buruh Jerman. Hitler mulai terjun dan menjadi pengurus di partai tersebut pada Juli 1921. DAP lalu diubah namanya oleh Hitler menjadi Nationalsozialistische Deutsche Arbeiterpartei (NSDAP) atau Partai Nazi.

Dikutip dari Wikipedia, pemerataan ekonomi, peningkatan lapangan kerja dan sarana sarana umum serta proyek-proyek umum dilakukan oleh Hitler saat memerintah sebelum Perang Dunia II. Keberadaan mobil Volkswagen (VW) adalah atas prakarsa Hitler yang mengusulkan kendaraan murah untuk rakyat.

Hitler tak segan membunuh semua penentangnya di Partai Nazi pada Juni 1934. Peristiwa itu dikenal sebagai Nacht der langen Messer alias Malam Pisau Panjang. Komunisme dan Yahudi dituding Hitler sebagai pihak di balik memburuknya situasi ekonomi. Atas dendam pada orang orang komunis dan Yahudi, Hitler menyerang dan membunuh mereka.

Secara terbuka dia mengumumkan untuk membunuh orang Yahudi yang ada di dunia. Dia bahkan membangun kamp-kamp besar yang dilengkapi kamar gas untuk orang Yahudi. Hanya beberapa tahun, sekitar 6.000.000 Yahudi tewas di kamp tersebut.

"Bisa saja saya musnahkan semua Yahudi di dunia ini, tapi saya sisakan sedikit yang hidup, agar kamu nantinya dapat mengetahui mengapa saya membunuh mereka," begitu ucapan Hitler yang terkenal soal Yahudi.

Tak hanya Yahudi, orang-orang Rusia dan Gypsy juga menjadi korban pemusnahan Hitler. Termasuk juga orang-orang yang dianggap sebagai ras rendah atau musuh-musuh negara.

Hitler juga menjadi pemicu pecahnya Perang Dunia II. Hal itu dimulai pada September 1939, saat Hitler menyerang Polandia. Akibat serangan itu, Inggris dan Prancis menyatakan perang terhadap Jerman, sehingga pecahlah Perang Dunia II.

Saat menyadari dirinya akan jatuh dan kalah, Hitler bunuh diri bersama Eva Braun yang belum lama dinikahinya pada 30 April 1945. Jasadnya lantas dibakar.

  
3. Benito Mussolini
 
Arogan, kejam, dan jahat. Itulah sifat yang dilekatkan pada sahabat Rudolf Hitler, Benito Mussolini. Pria bernama lengkap Benito Amilcare Andrea Mussolini ini juga dikenal sebagai orang suka memaksakan kehendak.

Mussolini lahir pada 29 Juli 1883 di Predappio, Forli (Emilia-Romagna), Italia.  Ayahnya, Alessandro, merupakan seorang pandai besi dan ibunya Rosa seorang guru sekolah.

Sempat menjadi editor di beberapa koran, Mussolini kemudian menjadikan fasisme sebagai suatu gerakan politik pada Maret 1919. Dia membentuk Kelompok untuk Bertempur yang dikenal sebagai baju hitam, yang merupakan kumpulan penjahat, kriminal, dan preman yang bertindak sebagai tukang pukul para cukong.

Karena kaum fasis menolak parlemen dan mengedepankan kekerasan fisik, anarki pun terjadi di mana-mana. Karena takut pada kelompok tersebut, Raja Vittorio Emanuele III pun memberi kursi pemimpin kepada Mussolini. Pada Oktober 1922, Raja meminta Mussolini untuk membentuk pemerintahan baru sehingga pemerintahan fasis berdiri di Italia.

Sejalan dengan pemikiran Adolf Hitler, Mussolini setuju bahwa manusia yang tidak berkualitas harus dimusnahkan. Itu makanya dia menginvasi Ethiopia dan meyakini bahwa ras unggul seperti Italia sudah seharusnya memerintah karena merupakan akibat alami dari evolusi. 30.000 Orang Ethiopia tewas dalam invasi tersebut.

Italia kemudian terseret dalam Perang Dunia II pada 1940. Namun kemudian Italia kalah, dengan pengorbanan 400.000 orang Italia. Mussolini kemudian diturunkan dari jabatannya oleh Raja Victor Emmanuele III. Mussolini pun ditahan di Campo Imperatore.

Dia dibebaskan pasukan khusus Jerman dan bisa berkuasa kembali di Italia Utara. Namun cerita sudah berubah, Mussolini hanya duduk di kursi sebagai simbol karena sebenarnya yang berkuasa adalah orang-orang Nazi Jerman.

Tahun 1945 adalah era jatuhnya pemerintahan Fasis Italia. Mussolini ditangkap dan ditembak mati kelompok perlawanan di Italia.

4. Idi Amin Dada
 
Idi Amin Dada merupakan pemimpin diktator militer di Uganda yang memerintah pada 25 Januari 1971- 13 April 1979. Pria bernama lengkap Idi Amin Dada Oumee dikenal sebagai salah satu pemimpin negara yang kejam yang pernah ada.

Saat berkuasa, Idi Amin kerap menggunakan pendekatan kekerasan jika ada sesuatu yang membahayakan kekuasaannya. Misalnya saja saat Idi Amin mendengar ada upaya invasi orang-orang Uganda di pengasingan, dia pun mengkampanyekan penganiayaan terhadap suku saingannya dan pendukung mantan Presiden Milton Obote. Obote adalah presiden yang berhasil digulingkannya pada 25 Januari 1971 dalam kudeta militer.

Mayoritas pendukung Obote adalah etnis Acholi dan Lango. Nah, serdadu dari etnis ini dibantai di Barak Jinja dan Mbarara pada Juni 1971. Lalu di awal 1972, sekitar 5.000 tentara dan tak kurang dari 10.000 warga sipil dari kedua etnis tersebut menghilang secara misterius. Banyak yang meyakini rezim Idi Amin berada di balik peristiwa itu.

Korban tewas di Uganda meluas. Tak hanya etnis Acholi dan Lango saja yang tewas tetapi juga ada etnis lain yang turut menjadi korban. Mereka berasal dari berbagai latar belakang seperti wartawan, hakim, artis, mahasiswa, kaum homo, pemimpin agama, dan lainnya.

Idi Amin dituding melakukan pembantaian massal dengan latar belakang politik, etnis, dan finansial selama delapan tahun dia berkuasa di Uganda. Konon, Idi Amin juga dikenal sebagai kanibal karena tak jarang memakan para korbannya, juga menjadikan para korban sebagai santapan buaya.

The International Commision of Jurists menyebut orang yang dibantai pria yang pernah menjadi juara tinju kelas dunia itu sekitar 300.000 orang. Sedang Amnesty International menyebutkan korban tewas mencapai 500.000 jiwa.

Kekacauan di Uganda dan ambisinya menganeksasi Provinsi Kagera di Tanzania pada 1978, memicu Perang Uganda-Tanzania. Rezima Idi Amin kemudian berhasil digulingkan rakyat. Saat kekacauan meluas, pengagum Adolf Hitler ini melarikan diri ke Libia dan Arab Saudi. Akibat gagal ginjal, Idi Amin meninggal di RS Jeddah, Arab Saudi, pada 16 Agustus 2003.

Sumber : Detik

Thursday, September 6, 2012

Tak Cukup Buku Menulis Jasa Munir untuk Aceh



BANDA ACEH | Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Munir Said Thalib alias Munir mempunyai jasa yang besar untuk Aceh masa Darurat Militer diberlakukan.
Bahkan, menurut Maimun Saleh selaku Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Banda Aceh, mengatakan jika ingin mengukur jasa Munir terhadap Aceh cukup banyak.

“Kita tidak cukup buku untuk menulisnya,” kata Maimun dalam diskusi mengenang 8 tahun meninggalnya Munir di Kantor Garda Pemuda Nasdem Aceh, Banda Aceh pada Kamis sore, 6 September 2012.

Maimun menceritakan, pada dekade tahun 2000-an ketika Aceh berstatus Darurat Militer, Munir bahkan setiap saat menghubungi petinggi aparat militer di Aceh ketika ada orang-orang yang ditangkap, tanpa ada alasan hukum yang jelas.

“Munir adalah peluru aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) pada waktu itu, banyak aktivis LSM yang berani bersuara lantang karena berlindung di balik tameng Munir,” jelas Maimun.

Sementar itu, M. Fauzan Febriansyah, Sekjen Garda Pemuda Nasdem Aceh menyatakan bahwa Munir termasuk barisan pertama dari orang-orang yang menggugat pemerintah Soeharto karena memberlakukan Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh pada dekade 1990-an.

“Pada tahun 1995, ketika Munir masih bertugas di LBH Malang, dia sudah melawan Pemerintah untuk mencabut DOM di Aceh. Yang kemudian, setelah reformasi diikuti oleh para aktivis dan tokoh Aceh lainnya,” jelas Fauzan.

Diskusi yang diinisiasi oleh Garda Pemuda Nasdem Aceh tersebut juga dihadiri oleh beberapa aktivis HAM dan juga para mahasiswa yang selama ini konsen di jalur perjuangan HAM