Anonymous Aceh

Pages

  • Home
  • Facebook
  • Twitter
  • Aceh
  • Unique
  • Techno
  • Komputer
  • Download
  • Software
  • Movie
  • Musik
  • Game

Adsense

Showing posts with label Seni. Show all posts
Showing posts with label Seni. Show all posts

Sunday, June 23, 2013

Merekonstruksi Hikayat Aceh

Salah satu hikayat yang memiliki peran besar dalam pengembangan Islam di Aceh adalah Malem Diwa.



DALAM masyarakat Aceh ada kesenian yang disebut haba jameun dan hikayat Aceh. Keduanya sangat sulit dibedakan, namun dapat diklasifikasikan ke dalam cerita rakyat.  Bila kita lihat dari segi isinya, haba jameun lebih kepada cerita-cerita yang diwarisi dari masa lampau baik dari Aceh maupun dari luar Aceh tapi tidak memiliki unsur historis.

Sedangkan hikayat dilihat dari segi isinya mengandung cerita-cerita yang pernah terjadi di Aceh serta memiliki nilai historis yang sangat berharga. Sejarah mencatat ada sekitar seratus jumlah hikayat pernah hidup di Aceh. Oleh karena sifat hikayat yang demikian, maka kajian mengenai hikayat sangat membantu untuk menggambarkan sejarah masyarakat Aceh di masa  silam.

Hikayat merupakan sebuah karya sastra Aceh berbentuk puisi atau syair. Istilah hikayat diambil dari bahasa Arab, 'hikayah' yang bermakna cerita.

Hikayat pertama kali muncul pada abad ke-19 yang ditulis oleh Tgk Muhammad Pante Kulu, atau yang lebih dikenal dengan Teungku Chiek Pante Kulu.

Kriteria penulisan hikayat diawali dengan mukadimah, puji syukur kepada Allah dan selawat salam kepada Rasulullah. Kemudian diiringi dengan pesan-pesan nasehat dan diakhiri dengan penutup.

Secara garis besar hikayat Aceh dapat diklasifikasikan kedalam dua kolompok, yaitu hikayat Epik dan non-Epik.

Bila kita berbicara tentang sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Aceh, hikayat Aceh merupakan satu hal yang tidak boleh dinafikan. Hal ini menunjukkan peran hikayat cukuplah besar dalam menjembatani masuk dan berkembangnya Islam di Aceh.

Sejarah mencatat sebelum Islam masuk ke Aceh, mayoritas rakyat Aceh saat itu menganut Agama Hindu. Pada saat itu pengaruh Agama Hindu hanya dikokohkan dengan menceritakan cerita rakyat dengan cara berhikayat. Maka timbullah inisiatif dari para penyiar Agama Islam saat itu untuk mempengaruhi rakyat Aceh yang sedang menganut paham Hindu supaya mencintai agama baru ini (Islam).

Adalah satu cara efektif yang mereka lakukan saat itu dengan menyelipkan unsur Islamisasi dalam hikayat tersebut. Upaya penyelipan unsur Islamisasi dalam hikayat kala itu tidaklah mudah. Karena dalam menyelipkan unsur Islam harus memperhatikan dua unsur yang lain. Pertama menjaga jalan cerita sehingga tidak merusak nilai-nilai seninya, dan yang kedua sisipan tersebut harus sehemat mungkin sehingga alur cerita tetap terjaga.

Di sisi lain masyarakat yang sedang menganut paham Hindu tidak merasa terkejut saat mendengarnya. Tapi bisa menjadi semacam suguhan bagi mereka. Ternyata menyiarkan Islam melalui hikayat sangat membantu mereka saat itu. Salah satu hikayat yang memiliki peran besar dalam pengembangan Islam di Aceh adalah hikayat Malem Diwa.

Hikayat Malem Diwa adalah sebuah hikayat yang pernah dipandang sakti oleh penganut paham Hindu saat itu. Karena hampir semua isinya diwarnai unsur Hindu. Tapi dalam masa yang sangat singkat hikayat Malem Diwa mampu diadopsi menjadi hikayat Islami.

Setelah Islam tersebar dan dikenal luas di Aceh melalui hikayat Malem Diwa, barulah lahir hikayat Kanca Mara. Nama hikayat ini diambil dari nama seorang pemuda yang mampu mengalahkan Ratu Hindu dalam perdebatan kebenaran aAgama Hindu dan Islam.

Setelah Islam memiliki tempat berpijak yang kokoh. Para generasi Islam selanjutnya sudah dengan tegas menolak pemahaman Hindu. Pada masa ini lahirlah hikayat Poetroe Peurekison. Nama hikayat ini diambil dari nama seorang putri yang berani menentang ajakan ayahnya untuk memeluk Hindu.

Langkah seperti ini ternyata masih memerlukan tindak lanjut berupa satu usaha mendirikan masyarakat Islam yang kokoh di bawah satu ikatan yang kuat. Dalam hal ini kontribusi raja-raja Aceh yang sudah memeluk Islam sangatlah dibutuhkan. Sehingga para raja pun bersedia untuk menulis hikayat yang diwarnai dengan paham Islam yang kemudian diberikan kepada keturunannya.

Di samping berperan sebagai jembatan dalam mengembangkan Islam, hikayat Aceh saat itu juga difungsikan sebagai pembangkit semangat peperangan, seperti hikayat Perang Sabi. Hikayat ini telah mendorong pejuang-pejuang Aceh untuk memilih mati syahid dari pada hidup berdampingan dengan Kafir Belanda.

Hatta Srikandi Aceh sendiri Tjut Nyak Dhien telah menidurkan anaknya dengan nafas hikayat jihad ini. Di antara bait hikayat yang pernah beliau dendangkan untuk menidurkan anaknya adalah:

Dô dô idé
Jantông até beu rijang raya
Beu jeuët aneuk kamat beudé
Jak prang kaphé cang Beulanda.
Do do da idi
Bijèh sawi dalam kaca
Beu rijang rayek banta cut di
Gantoë abi parôh Beulanda

Oleh karena pengaruh hikayat yang sangat tajam dalam pengembangan Islam sudah membuat mayoritas rakyat Aceh saat itu mampu membaca dan menciptakan hikayat. Mulai dari anak-anak, pemuda, orang tua, bahkan kaum wanita pun ikut andil dalam berhikayat. Ruh hikayat ini sudah menyatu dengan jiwa mereka.

Adapun cara yang mereka lakukan untuk melestarikan hikayat ini antara lain; membiasakan diri untuk berhikayat, menjadikan hikayat sebagai bentuk hiburan, budaya berhikayat selalu dihadirkan pada even-even tertentu, seperti Meurukoen dan Preh Lintoe Baroe.. Sehingga hikayat ini terus saja terwarisi kepada generasi berikutnya.

Namun akibat perkembangan zaman yang telah melahirkan berbagai macam sastra modern seperti novel dan cerpen telah membuat hikayat ini terabaikan. Kemajuan di bidang industri film, radio, televisi dan media cetak yang telah memberi berbagai macam hiburan dan bahan bacaan semakin membuat kepopuleran sastra Aceh ini berdebu.

Sejarah juga menyebutkan hikayat Aceh mulai terabaikan sebelum tahun 90- an. Tapi di awal tahun 1991 - 1995 bau hikayat ini kembali bisa dirasakan oleh masyarakat Aceh. Pada saat ini telah lahir kembali beberapa putra Aceh yang punya andil dalam berhikayat seperti Teungku Andan PM Toh.

Akan tetapi sastra hikayat pada abad ini sangat jarang dipublikasikan, paling hanya pada acara-acara besar saja. Seperti acara yang dihadiri pejabat-pejabat tinggi. Ruh serta kepribadian rakyat Aceh pada abad ini sudah jarang kita dapatkan yang bisa berhikayat apa lagi menciptakannya.

Adapun faktor yang membuat sastra hikayat ini kian memudar antara lain; lahirnya sastra melayu yang ditulis dengan tulisan yang moderat. Kurangnya media yang mau mempublikasikannya, tidak ada mata pelajaran khusus tentang hikayat yang diajarkan di sekolah SD, SMP, SMA, bahkan di perguruan tinggi sekalipun.

Upaya Rekonstruksi

Literatur sejarah menyebutkan bahwa indatu kita  telah menjadikan hikayat sebagai harta warisan.  Mereka juga telah berhasil mengembangkan Islam di bumi Aceh dengan meggunakan hikayat sebagai media dakwah. Bahkan kejayaan Aceh di abad yang silam terindikasi dengan hikayat ini (UU Hamidy 1982).

Krisis atau resesi hikayat yang sudah sampai pada taraf darurat seperti saat ini perlu ditabur penawarnya. Salah satu penawar yang sangat ampuh bila dilihat dari kemajuan zaman sekarang ini adalah media. Kesediaan media untuk mempublikasi hikayat Aceh merupakan salah satu cara ampuh untuk memperlambat terhadap kepunahannya.

Upaya rekonstruksi hikayat Aceh juga merupakan salah satu cara untuk membuka kembali pemikiran orang Aceh yang berasumsi bahasa Aceh hanya bahasa pergaulan semata. Sehingga mereka tahu bahasa Aceh sejak dulu sudah lahir dalam bentuk tulisan.

Para generasi muda Aceh postmodern yang sudah larut dalam bahasa Indonesia pun mengetahui cara penulisan bahasanya sendiri. Suatu saat nanti kita harapkan bahasa Aceh selalu terwarisi baik dari segi pengucapan maupun tulisan kepada generasi selanjutnya.

Di lihat dari segi isinya hikayat mengandung nilai moral, adat, dan agama perlu untuk dipublikasikan. Kita berharap kepada media-media di Aceh  agar menyediakan rubrik khusus untuk menulis hikayat. Sehingga sastra hikayat ini selalu terpelihara dan tidak berdebu. Bagi generasi yang akan hidup pada masa setelah kita pun bisa mengetahui akan budaya-budaya nenek moyangnya. Semoga!


* Mahasiswa Universitas Al-Azhar Cairo, Berprofesi sebagai pemerhati sastra hikayat Aceh di KMA (Keluarga Mahasiswa Aceh) Mesir, email: mmd_jhon@yahoo.co.id

Source : The Atjeh Post
Author Niel di Sunday, June 23, 2013 0 komentar
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: Aceh, ASEAN, Culture, Sejarah, Seni, Sumatera

Wednesday, January 23, 2013

Keren, Sanggar Cut Nyak Dhien Pecahkan Rekor MURI


“Kak!, pesawat kita delay sampai jam 15.30 Wib, hujan lebat mengguyur Jakarta."
Begitu bunyi satu sms yang masuk ke hp saya dari salah satu teman yang akan berangkat ke Jakarta guna menggelar acara “Prosesi Adat Intat Linto dan Pagelaran Tari Seni Multikultur Aceh. Even ini akan dicatat oleh Museum Rekor Indonesia (MURI) dengan katageri Penampilan Terbanyak Oleh Satu Sanggar.

Ketika membaca sms tersebut, saya langsung ciut. Bagaimana tidak, Jakarta sedang dinyatakan sebagai daerah darurat banjir, penduduk Jakarta sedang diungsikan. Pikiran ini langsung saja menerawang, membayangkan hal paling buruk yang tidak pernah kami harapkan, berfikir bagaimana cara mendatangkan penonton untuk menyaksikan piasan raya ini. Bukankah sebuah piasan akan terasa hambar tanpa tepuk tangan dan sorak sorai para penonton?
Setelah menunggu  lebih kurang empat jam, akhirnya si burung besi itu pun menerbangkan saya dan Rombongan tari Sanggar Cut Nyak Dhien (CND) yang berjumlah enam puluh lima personil menuju Jakarta. Ketika pesawat mendarat, hujan masih saja mengguyur Jakarta.
Satu bus pengangkut dan dua unit mobil kijang innova sudah menanti kedatangan kami. Dari bandara Soekarno-Hatta, tanpa hambatan yang berarti rombongan langsung menuju Mes Perwakilan Aceh di Jln  Suroso no 14 Gondangdia Lama.

Saya begitu bersyukur, ternyata kabar Jakarta yang akan tenggelam seperti yang saya dengar dan saya lihat di media elektronik dan cetak tidak 100% benar adanya. Saya baru tahu ternyata dunia tidak selebar ukuran televisi. Melihat daerah Cikini dan sekitarnya yang kering menjadikan energi saya bertambah berlipat-lipat. Saya yakin sekali piasan luar biasa ini akan berjalan dengan sukses.
Keesokan harinya teman-teman Sanggar Cut Nyak Dhien mulai berkemas, mempersiapkan dekorasi panggung, lampu, taman, kostum dan segalanya yang berhubungan dengan acara pencacatan MURI ini.
Tiga jam sebelum acara dimulai, para juri dari MURI pun tiba di Gedung Graha Bakti  Budaya Taman Ismail Marzuki tempat acara akan digelar. Setelah berbincang-bincang  sebentar dengan saya, mereka mohon pamit untuk memeriksa kelengkapan para penari dan kostum yang akan dipakai oleh penari.

Melihat penari masih sibuk dengan dekorasi panggung mereka pun bertanya, “EO (Even Organizer) nya siapa?”. Dengan senyum simpul salah satu penari menjawab ”Kami sendiri pak!"

Antara percaya dan tidak mereka kembali mengawasi dekorasi panggung dan tiga set pelaminan yang sudah tegak berdiri sebagai latar panggung.”Luar biasa, siapkan stamina kalian untuk menari,” ujar salah satu juri sambil berlalu meninggalkan panggung.
Kalian tahu? Satu jam sebelum piasan  dimulai, ketenangan saya kembali terusik, tiba-tiba hujan lebat mengguyur Cikini, membasahi gedung Graha Bakti Budaya, membasahi mobil yang terparkir berjejer di halaman gedung. Derasnya hujan juga terlihat membasahai dinding kaca gedung Graha Bakti Budaya.

Hujan yang membuat saya kembali mengurut dada. Selain para juri dari MURI Para tetamu belum ada yang hadir. Kami para pengurus sanggar saling bertatap. Bermacam doa kami hantarkan agar tetamu bisa hadir dan hujan bisa berbaik hati sejenak demi kami. Tapi yang anehnya para penari kelihatan begitu santai, mereka tidak terusik sedikitpun dengan guyuran hujan. “Kak, ada penonton atau tidak kami tetap akan menari!” Begitulah kalimat yang keluar dari mulut seorang rekan dari sanggar CND yang nantinya akan ikut menari.
Alhamdulillah doa itupun dikabulkan oleh yang kuasa, dengan tiba-tiba hujan berhenti total, saya dan pengurus CND kembali tersenyum. Ucapan syukur tak yang terkira terus keluar dari mulut kami.
Pukul 19.00 WIB satu persatu tetamu mulai berdatangan. Terlihat beberapa anggota  DPR RI dari Aceh, seperti Farhan Hamid, Nasir Jamil, Abdurrahman BTN, tokoh masyarakat Aceh di Jakarta, Atase Kebudayaan, tetamu dari Kedutaan dan para mahasiswa, jurnalis, teman-teman dari komunitas tari di Jakarta, aktivis dan tentunya masyarakat Aceh di Jakarta.

Acara dibuka oleh Bapak Gubernur Aceh Dr Zaini Abdullah pada jam 20.00 WIB, meleset satu jam dari jadwal yang telah ditetapkan. Lalu, dilanjutkan dengan kata sambutan oleh Ibu  Gubernur, Niazah A. Hamid selaku Ketua Sanggar Cut  Nyak Dhien. Kemudian, giliran perwakilan dari Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia menyampaikan kata sambutan.
Setelah memberi sambutan acara puncak pun dimulai dengan melakukan prosesi adat intat linto. Tepuk tangan bergemuruh menyambut pembukaan acara puncak. Setelah prosesi adat selesai para penonton disuguhi tarian perdana yaitu Ranup Lampuan atau secara harfian berarti sirih di dalam cerana. Tarian yang diciptakan oleh Yuslizar pada tahun 1959 ini diangkat dari adat istiadat aceh khususnya adat menerima dan menghormati tamu. Tarian ini dilakukan selama 7 menit.

Begitu tarian Ranup Lampuan berakhir, tanpa jeda langsung disambung dengan tarian Piasan Raya (pesta besar). Tarian yang juga  diciptakan Yuslizar tahun 1972 ini disuguhkan selama  5 menit. Selanjutnya dilanjutkan dengan tarian Geunta, Geudumbak, Piasan Luah Blang, Troen U Laot, Zapin, Marhaban, Saleum Hikeumah, Phoek Teupen, Likok Pulo, Likok Dara, Guel, Ratep Meusekat, Seudati, Droep Darut, Rapa,I Geleng, Prang Sabil, Saman Gayo dan diakhiri dengan tarian Rampoe.
Hampir seluruh tarian ini merupakan kreasi seni ciptaan almarhum bapak Yuslizar dan Ikhsan Ibrahim yang dilakukan selama 5-10 menit. Para penari melakukan gerak dengan sangat sempurna, meliuk-liuk, berdendang, menghentakkan kaki dan berbagai atraksi lainnya terlihat sangat memukau. Para penonton tidak pernah tahu kalau penari telah bertempur dua hari penuh untuk mendekorasi panggung yang berukuran 8 x 10 meter itu.
Ketika penari menampilkan tari Seudati, gemuruh tepuk tangan dan sorak sorai penontot serta sedikit celotehan bapak-bapak yang berdarah Aceh semakin memperjelas kesempurnaan gerak para penari di atas panggung pagelaran. Di antara 20 tarian, sepertinya seudati adalah tarian yang sangat dinanti-nantikan oleh penonton.

Saya sempat bertanya kepada seorang bapak yang duduk di samping kiri saya yang begitu antusias menyambut penampilan tari seudati.  Menurut beliau, seudati itu tarian yang bisa mengobati rasa rindunya ke kampung halaman. “Dulu ketika saya kecil saya sering diajak ke Ceubo, Pidie oleh Ummi dan Abi saya khusus untuk menonton seudati. Sekarang seudati tidak lagi menjadi reusam ureung Aceh, dia sudah mulai memudar, sudah banyak tarian lain yang muncul di Aceh. Saya bersyukur sekali bisa menonton seudati.

Bukan hanya si bapak yang menyaksikan seudati tanpa berkedip, saya yang bukan penari dan tidak faham sedikitpun tentang tarian juga sangat menikmati Seudati, tarian yang dimainkan oleh 8 orang penari dan dipandu oleh seorang syeh seudati ini benar-benar menunjukkan lenggak penari Aceh. Lembut dan tegas. Syair-syairnya yang dalam sejarahnya merupakan media dawah islamiah dan juga dipakai sebagai media untuk mnyemangati para pejuang dalam melawan Belanda ketika itu membuat saya tidak berkedip.

Saya berharap suatu hari nanti Seudati juga bisa menjadi tarian yang akan mengikuti jejak Saman Gayo, tarian yang mendapat legalitas dari UNESCO. Penari dari sanggar Cut Nyak Dhien telah membuat Ratusan penonton yang ikut menyaksikan piasan ini terpana. Dalam amatan saya, hampir tidak terlihat penonton yang pergi meningglkan ruangan karna merasa bosan atau alasan lainnya. Sepertinya mereka benar-benar menikmati piasan persembahan sanggar CND.
Begitu juga dengan bapak-bapak dari MURI. Tanpa banyak kata dan banyak bahasa mereka hanya dapat berkata, “Luar Biasa dan sangat tidak pantas jika saya tidak mencatat pagelaran Tari Seni Multikultural Aceh yang ditampilkan secara medley ini dalam catatan MURI”. Sebaris kalimat tanpa putus itupun sekaligus menjadi kata-kata  paling berharga dalam sejarah kehidupan sanggar Cut Nyak Dhien.
Di usianya yang ke-37, tepat pukul 23.15 WIB di hari ke-19 bulan Januari 2013 nama besarnya pun resmi diabadikan dalam Museum Rekor Dunia Indonesia. Kalimat terakhir dari juri MURI itu  disambut tepuk tangan meriah oleh para penonton dan juga penari. Penyerahan sertifikat Rekor MURI untuk Pemerintah Aceh, Sanggar Cut Nyak Dhien dan BPD Aceh selaku sponsor sekaligus mengakhiri piasan raya malam pagelaran “Prosesi Adat Intat Linto dan Pagelaran Tari Seni Multikultural Aceh untuk Pemcatatan Rekor MURI dengan Katagori Penampilan Terbanyak oleh Satu Sanggar.

Sertifikat itu juga Menjadi suplemen tersendiri bagi anak-anak sanggar CND. Wajah  penat mereka berganti dengan raut kegembiraan. Melihat mereka bahagia saya juga ikut tersenyum.  Malam itu semua beban hempas ditelan kesuksesan. Sebuah piasan raya tuntas sudah. Tanggung jawab kami selaku penguruspun usai sudah untuk satu gerakan.
Keesokan harinya ketika saya terjaga, sebuah SMS masuk ke hp saya. SMS dari seorang teman di Aceh. “Kak!, Kenapa beritanya (rekor MURI) tidak ada koran lokal?"
SMS itu tidak saya balas, melainkan saya forward kepada teman lainnya. Dua menit kemudian saya mendapat balasan dari teman,“mungkin karena kita tidak memberi amplop kepada wartawannya.”  SMS itupun tidak saya balas dan saya diamkan saja.

Ketika saya tiba di Aceh, saya kembali melihat sms dari seorang teman lainnya, sms yang sama. “Farah!, kenapa acara kalian tidak ada beritanya di media?”. Setelah beristirahat sejenak di rumah tercinta, saya mencoba membalas sms yang baru saja saya dapat.
“Yang harus kita ketahui, penari bukanlah politisi, dia menari dengan jiwa, dia menari demi kreatifitas, bukan demi popularitas. mereka tidak peduli media mau memberitakan atau tidak, orang akan menonton atau tidak, yang penting mereka menari. Lihat saja sejak tahun 1972 sanggar CND berdiri, sejak itulah mereka mulai melanglang buana, menghadiri berbagai pagelaran seni, even interntional dan national membawa nama Aceh ke kancah dunia, tapi pernahkah mereka berkata “kamilah para penari, para seniman ini yang telah memperkenalkan Negeri Ini di mata dunia”!,
Sepertinya, hampir tidak terdengar keangkuhan itu sekalipun. Andai mereka politisi, saya yakin sekali even sebesar ini akan menjadi headline di media mana pun. Banyak kepentingan dan harapan yang mereka sematkan dari rakyat atau pemirsa. Dan satu hal, andai tidak ada penonton dan wartawan yang meliput, poltisi pasti akan membayar masyarakat dan wartawan untuk menyaksikan antraksi mereka. Mereka tidak akan naik panggung tanpa penonton apalagi tanpa pemberitaan yang berarti.

Kondisi itu sangat berbanding terbalik dengan para penari. Ketika saya was-was kalau tidak ada tamu yang akan hadir untuk menonton piasan raya tersebut, para penari sanggar CND  malah santai saja. Mereka bilang," kami tetap akan menari walau tidak ada mata yang menikmati.” 
Pernyataan itu membuat saya belajar lebih banyak akan jiwa dan keiklasan profesi yang  mereka geluti. Bertanya pada diri sendiri, akankah saya bisa seiklas mereka mencitai profesi dan apapun yang saya kerjakan? Sepertinya sulit sekali, karena saya bukan penari atau seniman tapi menjurus pada politisi.
"Hahaha….” Begitulah bunyi sms balasan saya untuk seorang teman di Banda Aceh atas pertanyaannya akan gaung yang tak terdengar, akan gerak yang tak tergambar.
Good luck teman-teman sanggar Cut Nyak Dhien atas rekor MURI yang telah kalian raih. Semoga ke depan akan lebih banyak lagi rekor dan penghargaan lain yang akan kalian dapatkan.

Cut Meutia adalah Sekretaris Sanggar Cut Nyak Dhien.

Source : The Atjeh Post
Author Niel di Wednesday, January 23, 2013 0 komentar
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: Aceh, Culture, Nusantara, Pariwisata, Seni, Sumatera, Unik

Monday, November 26, 2012

Seniman Indonesia-Malaysia akan "unjuk rukun" di Ancol

 
JAKARTA | Seniman Indonesia maupun Malaysia seperti  Titi DJ, Rossa, Inka Christie, Siti Nurhaliza, Amy Search dan Shilla Amzah akan "unjuk rukun" dengan tampil bersama pada konser budaya Indonesia-Malaysia  10 Desember 2012 di stadion MEIS Ancol.

Konser bertema "Ekspresi Karya Gemilang" itu akan diselenggarakan secara gratis.
"Sangat penting untuk menghargai budaya yang menjadi akar tradisional. Kami akan coba eksplorasi budaya Indonesia dan Malaysia,"  kata pihak sponsor yang diwakili Mohd Ghozali bin Yahya dalam konferensi pers di Jakarta, Senin.
Direktur artistik tari konser tersebut, Deny Malik, mengatakan pergelaran itu juga akan menampilkan kolaborasi kesenian mulai dari tarian dan lagu seperti Ronggeng Betawi, tari Kipas Melayu, dan "The Mystery of Kalimantan".

"Akan ada 70 penari yang terlibat dalam kelompok musik etnis. Ada suguhan tari, nyanyi dan aransemen lagu yang berbeda," ujar dia. 

Aransemen musik Etnis
Direktur Musik konser budaya, sekaligus pimpinan orkestra Yusuf Oeblet mengatakanakan melibatkan seluruh alat musik dari berbagai daerah di Indonesia seperti Gondang Batak, Gamelan Jawa dan Bali untuk menghasilkan aransemen lagu yang berbeda dan khas.  

"Semua unsur tarian dan lagu digarap berbeda menggunakan aransemen tradisional," ujar dia. 

"Ini akan menjadi tetabuhan musik nusantara populer. Kami garap perkawinan dua budaya," ujarnya. 

Konser ini juga akan diadakan sekaligus di beberapa kota lainnya seperti di lapangan Batrai Kodam, Pekan Baru pada 12 Desember dan di stadion Lambung Mangkurat, Banjarmasin pada 14 Desember 2012. 
 
Sumber : Antara
Author Niel di Monday, November 26, 2012 0 komentar
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: ASEAN, Culture, Musik, Nusantara, Pariwisata, Seni

Sunday, October 14, 2012

Karnaval Tapis, Satu-satunya di Sumatera

Karnival Krakatau
Marak karnaval budaya sampai juga ke Swarna Dwipa. Di Sumatera, satu-satunya karnaval yang mencuri perhatian adalah Karnaval Tapis di Bandar Lampung. Karnaval ini memang bertujuan mengangkat tapis, kain khas asal Lampung ke panggung nasional maupun internasional.

Pada 2012, Karnaval Tapis digelar untuk kedua kalinya. Perhelatan kedua ini dibarengkan dengan Festival Krakatau yang mencoba mengenalkan wisata alam Gunung Anak Krakatau. Gagasan awal Karnaval Tapis adalah mengenalkan budaya Lampung terutama kain tapisnya. Tetapi demi menambah semarak suasana, turut diundang peserta karnaval dari Jember dan Salatiga.

Karnaval Tapis pada Sabtu (6/10) pekan lalu berlangsung meriah. Setiap kabupaten di Lampung menghadirkan karya-karya terbaiknya. Bahkan, ada pula kabupaten yang menghadirkan peserta dari mancanegara. Semakin menambah semarak suasana adalah keberadaan kereta pusaka Lampung dan gajah-gajah dari Taman Nasional Way Kambas.

Para pengunjung tidak hanya warga Bandar Lampung saja. Banyak yang datang dari Jakarta serta kota-kota besar di Sumatera seperti Palembang, Bengkulu dan Padang. "Saya tidak bisa melewatkan event ini karena memang satu-satunya di Sumatera," kata Chandra, warga Palembang yang khusus datang ke Lampung.

Peragaan busana kain tapis ikut ditampilkan dengan menghadirkan sekitar 20 muli (gadis) cantik asal Lampung. Mereka berlenggak-lenggok dengan gemulai di depan duta besar dari 22 negara.

Dalam karnaval ini, pengunjung dapat menyaksikan penampilan budaya baik busana, musik, hingga topeng ciri khas budaya Lampung. Mereka diarak sepanjang sekitar tiga kilometer di jalan yang menjadi pusat kota Lampung. "Karnaval satu-satunya di Sumatera ini diharapkan membuat budaya Lampung makin dikenal," kata Gubernur Lampung Sjachroeddin ZP.

Sejatinya, Karnaval Tapis ini hanyalah awal untuk lebih mengenalkan Lampung sebagai destinasi wisata yang komplit. Di Lampung, terdapat sejumlah tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi para wisatawan. Misalnya saja wisata surfing di Pantai Tanjungsetia, Kabupaten Lampung Barat, wisata lumba-lumba di Teluk Kiluan, Kabupaten Tanggamus, tempat penangkaran dan objek wisata atraksi gajah jinak Sumatera di Taman Nasional Way Kambas (TNWK) Lampung Timur, serta Gunung Anak Krakatau.

Pergelaran ini juga menunjukkan kepercayaan diri Lampung sebagai tujuan wisata yang relatif mudah dijangkau dari Jakarta. Dengan pesawat udara, Lampung bisa dijangkau dalam 25 menit. Sementara lewat jalan darat bisa dicapai dengan waktu delapan jam, tiga jam di antaranya di kapal ferry. Waktu tempuh pastinya akan makin pendek jika nanti Jembatan Selat Sunda terwujud.

Sumber : Merdeka
Author Niel di Sunday, October 14, 2012 0 komentar
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: Culture, Nusantara, Pariwisata, Seni, Unik

Wednesday, August 29, 2012

Inilah Jadinya Ketika Foto Berkolaborasi dengan Sketsa

Ini adalah suatu karya seni yang sangat tinggi dimana kertas yang bergambarkan mengunakan pensil tulis di gabungkan dengan foto.



























 


sumber
Author Niel di Wednesday, August 29, 2012 0 komentar
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: Aneh, Seni, Unik

Saturday, July 21, 2012

Street Dance 2 (2012) DVDRip HardSub



 
SYNOPSIS :

After suffering humiliation by the crew Invincible, street dancer Ash (Hentschel) looks to gather the best dancers from around the world for a rematch.

INFO
Info: http://www.imdb.com/title/tt1718903/
Release Date:
29 March 2012
Genre:
Drama | Music | Romance
Stars:
Tom Conti, George Sampson and Sofia Boutella
Release Info:
NFO
Subtitle:
Indonesia, English

WATCH TRAILER


DOWNLOAD

FREAKSHARE
OR
SHAREFLARE
OR
RAPIDGATOR
OR
RAPIDSHARE
OR
KONGSIFILES
OR
JUMBOFILES PART 1
JUMBOFILES PART 2
OR
HULKSHARE PART 1
HULKSHARE PART 2
OR
MEDIAFIRE PART 1
MEDIAFIRE PART 2

Author Niel di Saturday, July 21, 2012 0 komentar
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: Download, Hiburan, Movie, Seni

StreetDance 2 (2012) BluRay 1080p 5.1CH x264

Download StreetDance 2 (2012) BluRay 1080p 5.1CH x264 Ganool 
SYNOPSIS :

After suffering humiliation by the crew Invincible, street dancer Ash (Hentschel) looks to gather the best dancers from around the world for a rematch.

INFO
Info: http://www.imdb.com/title/tt1718903/
Release Date:
29 March 2012
Genre:
Drama | Music | Romance
Stars:
Tom Conti, George Sampson and Sofia Boutella
Quality:
BluRay 1080p
Source:
1080p BluRay x264-WEST
Release Info:
NFO
Subtitle:
Indonesia, English

WATCH TRAILER


DOWNLOAD

Bzlink
http://bzlink.us/1cpmsfxwvjcz/ghdstreetdance2bd80.Ganool.com.part01.rar.html
http://bzlink.us/8h4446dfjh3u/ghdstreetdance2bd80.Ganool.com.part02.rar.html
http://bzlink.us/obpwfmt874c2/ghdstreetdance2bd80.Ganool.com.part03.rar.html
http://bzlink.us/vpyg0uyraobr/ghdstreetdance2bd80.Ganool.com.part04.rar.html
http://bzlink.us/hjifqt30gf5f/ghdstreetdance2bd80.Ganool.com.part05.rar.html
http://bzlink.us/xuoje1pm4qyw/ghdstreetdance2bd80.Ganool.com.part06.rar.html
http://bzlink.us/bjrqgieygpwx/ghdstreetdance2bd80.Ganool.com.part07.rar.html
http://bzlink.us/ophqi2rphhun/ghdstreetdance2bd80.Ganool.com.part08.rar.html
http://bzlink.us/mzm2nzx45kk6/ghdstreetdance2bd80.Ganool.com.part09.rar.html

Jumbofiles
http://jumbofiles.com/ty48a9qnpwym
http://jumbofiles.com/bnubrlb9iu9o
http://jumbofiles.com/bi04qa2eykxz
http://jumbofiles.com/0yeliasdj6zz
http://jumbofiles.com/49idg02mgo6y
http://jumbofiles.com/p9ow7re3z96u
http://jumbofiles.com/pva8jz6hrek1
http://jumbofiles.com/alnyrrxru4nn
http://jumbofiles.com/fbok7z0uwmg0


Netload
http://netload.in/dateiAyLGwlNPhT/ghdstreetdance2bd80.Ganool.com.part01.rar.htm
http://netload.in/dateiUiBi1ubhs6/ghdstreetdance2bd80.Ganool.com.part02.rar.htm
http://netload.in/dateid696Vrvtfd/ghdstreetdance2bd80.Ganool.com.part03.rar.htm
http://netload.in/dateiTPYPxbAxuj/ghdstreetdance2bd80.Ganool.com.part04.rar.htm
http://netload.in/datei68wX4QaJOH/ghdstreetdance2bd80.Ganool.com.part05.rar.htm
http://netload.in/dateiRlhBlHopTU/ghdstreetdance2bd80.Ganool.com.part06.rar.htm
http://netload.in/dateiUFuppA0YTb/ghdstreetdance2bd80.Ganool.com.part07.rar.htm
http://netload.in/dateikeCw2WPvsG/ghdstreetdance2bd80.Ganool.com.part08.rar.htm

Uploaded.to
http://ul.to/twyhbtgj/ghdstreetdance2bd80.Ganool.com.part01.rar
http://ul.to/7q3umxyu/ghdstreetdance2bd80.Ganool.com.part02.rar
http://ul.to/w6wkxqz0/ghdstreetdance2bd80.Ganool.com.part03.rar
http://ul.to/upwegfrv/ghdstreetdance2bd80.Ganool.com.part04.rar
http://ul.to/ziuv72y0/ghdstreetdance2bd80.Ganool.com.part05.rar
http://ul.to/lgjcv6f4/ghdstreetdance2bd80.Ganool.com.part06.rar
http://ul.to/6a0i31l4/ghdstreetdance2bd80.Ganool.com.part07.rar
http://ul.to/kd0aemt0/ghdstreetdance2bd80.Ganool.com.part08.rar
http://ul.to/458nohem/ghdstreetdance2bd80.Ganool.com.part09.rar

Rapidshare
http://rapidshare.com/files/826268180/ghdstreetdance2bd80.Ganool.com.part01.rar
http://rapidshare.com/files/2466821850/ghdstreetdance2bd80.Ganool.com.part02.rar
http://rapidshare.com/files/445382101/ghdstreetdance2bd80.Ganool.com.part03.rar
http://rapidshare.com/files/583510420/ghdstreetdance2bd80.Ganool.com.part04.rar
http://rapidshare.com/files/1501125483/ghdstreetdance2bd80.Ganool.com.part05.rar
http://rapidshare.com/files/2764604610/ghdstreetdance2bd80.Ganool.com.part06.rar
http://rapidshare.com/files/1086586987/ghdstreetdance2bd80.Ganool.com.part07.rar
http://rapidshare.com/files/3751989956/ghdstreetdance2bd80.Ganool.com.part08.rar
http://rapidshare.com/files/1872135667/ghdstreetdance2bd80.Ganool.com.part09.rar

Author Niel di Saturday, July 21, 2012 0 komentar
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: Download, Hiburan, Movie, Seni

Friday, June 22, 2012

Tor-Tor Diklaim, Hacker Indonesia Serang Situs Malaysia

Tampilan situs yang di deface oleh hacker Indonesia
JAKARTA | Polemik mengenai klaim terhadap tari Tor Tor dan alat musik Gondang Sambilan dari Sumatera Utara oleh Negara Malaysia menuai respon hebat dari Indonesia. Bukan hanya masyarakat dunia nyata saja, para peretas dunia maya pun pun kini turut unjuk aksi penolakan klaim tersebut.

Sebelumnya, Konsulat Jenderal (Konjen) Malaysia di Medan, Noorlin Othman, telah menjelaskan tidak ada klaim Tor Tor oleh Malaysia. Permasalahan yang terjadi sebenarnya adalah kesalahpahaman dalam mengartikan bahasa, sebagaimana yang dilansir dari kantor berita Malaysia, Bernama.

Kedua budaya tersebut diberitakan akan diakui sebagai salah satu warisan kebangsaaan sehingga keberadaan Tor Tor dan Gondang Sambilan dari Mandailing sejajar dengan kebudayaan lainnya yang tumbuh di Malaysia.

Menurut Othman, rencana ini dilakukan untuk memenuhi permintaan komunitas warga Mandailing di Malaysia yang berjumlah sekira 500 ribu jiwa. Namun, hal itu tidak menghentikan aksi para peretas. Mereka meretas banyak situs Malaysia dan menuliskan pernyataan bahwa Tor Tor adalah milik Indonesia.

Hasil pantauan, Jumat 22 Juni 2012, situs-situs yang diretas tersebut antara lain www.inspin.gov.my, sportwave.my, gworld.com.my, datarecovery-malaysia.com.my, jobsite.my, dan banyak lagi yang lain. Semua situs yang diretas tersebut ditampilkan lewat Twitter melalui hashtag #TorTorOps.

Selain itu, ada juga beberapa situs yang telah pulih seperti semula. Contohnya antara lain www.penerangan.gov.my, ppdrembau.gov.my dan www.toeicmalaysia.com. Meskipun begitu, belum diketahui motif sebenarnya mengenai peretasan ini. Para peretas tersebut juga menandai tindakan itu dilakukan oleh banyak orang. 
 
sumber : okezone
Author Niel di Friday, June 22, 2012 0 komentar
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: Aneh, Hacking, Internet, Nusantara, Seni, Teknologi

Wednesday, June 20, 2012

Linkin Park - Living Things (Full Album 2012)


Tracklist Linkin Park - Living Things (CD FULL Album 2012)

1. Linkin Park - Lost in the Echo

2. Linkin Park - In My Remains

3. Linkin Park - Burn It Down

4. Linkin Park - Lies Greed Misery

5. Linkin Park - I’ll Be Gone

6. Linkin Park - Castle of Glass

7. Linkin Park - Victimized

8. Linkin Park - Roads Untraveled

9. Linkin Park - Skin to Bone

10. Linkin Park - Until It Breaks

11. Linkin Park - Tinfoil

12. Linkin Park - Powerless
Download here
Author Niel di Wednesday, June 20, 2012 1 komentar
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: Download, Hiburan, Musik, Seni

Monday, June 18, 2012

Sejarah Mandailing di Malaysia

adat ,mandailing

Di Malaysia, mereka disebut Melayu. Di Indonesia, mereka disebut Batak.

Publik di Indonesia kembali diributkan dengan upaya Malaysia mempatenkan Gordang Sambilan dan tari Tor-tor khas Batak Mandailing. Upaya Malaysia ini tidak ahistoris, karena mereka memiliki komunitas Mandailing yang kuat di negeri itu.

Menurut Abdur-Razzaq Lubis, seorang pakar Mandailing di Malaysia,  orang-orang Mandailing di Semenanjung Melayu datang dari daerah Sumatera Utara yang berbatasan dengan Sumatera Barat. Mereka eksodus di masa Perang Paderi di abad 19 dulu. Sebagai pengikut Paderi, mereka direpresi kolonial Belanda sehingga terpaksa bermigrasi ke luar dari kampungnya menuju Malaysia.

Dalam makalah berjudul "Mandailing-Batak-Malay: A People Defined and Divided" yang dipresentasikan dalam Konvensi Internasional Cendekiawan Asia di Kuala Lumpur, Agustus 2007, Lubis menyatakan warga keturunan Mandailing ini merantau ke Malaysia dan Singapura.

Istilah Mandailing sendiri ditemukan dalam Nagarakertagama, sebuah epik yang ditulis di zaman Majapahit sekitar tahun 1365. Mandailing disebutkan sebagai salah satu daerah di bawah kekuasaan Majapahit.

Lubis menyebutkan, ada spekulasi Mandailing berasal dari kata Minangkabau "Mande Hiliang" yang berarti "Ibu Hilang". Jadi menarik, karena Minangkabau bersistem matrilineal, sementara Mandailing hari ini bersistem patrilineal.

Di Nagari Pagaruyung, salah satu negeri tertua di Minangkabau, "Mandahiliang" merupakan salah satu dari tujuh jorong. Mandahiliang juga menjadi salah satu suku (semacam marga) di Minangkabau.

Kedekatan Mandailing dengan Minangkabau ini juga tercermin di perantauan Malaysia. Di semenanjung, orang-orang Mandailing ini awalnya hidup di Negeri Sembilan, satu dari sembilan kerajaan di Malaysia. Raja Negeri Sembilan ini merupakan keturunan raja Pagarruyung di Minangkabau. Mereka bekerja sama erat, selain karena berdekatan kampung, juga sama-sama pengikut Islam yang taat.

Sejarah Pemberontakan

Di Malaysia, orang-orang Mandailing ini dikenal sebagai pembuat masalah. Perang Pahang yang terjadi pada 1857-1863 pecah karena aksi orang-orang Mandailing ini. Bahkan, setelah Perang Selangor, Sultan Abdul Samad mengeluarkan keputusan menyatakan orang Mandailing sebagai tukang onar yang harus dienyahkan sehingga mereka diusir keluar dari negeri itu.

Awalnya, di bawah administrasi kolonial Inggris, Mandailing dikategorikan sebagai "Melayu Asing" lalu menjadi "Melayu Sumatera" dan kemudian "Melayu Mandeling" dan lama-lama menjadi "Melayu" saja. Tahun 1921, istilah Mandailing benar-benar hilang, dilebur ke "Melayu" namun istilah "Orang Aceh", "Orang Batak" dan "Orang Jawa" tetap ada. Kondisi berbeda terjadi di Indonesia, administrasi kolonial justru memasukkan "Mandailing" sebagai bagian dari Batak.

"Sejarah imperialis dan proses pembangunan bangsa telah berdampak pada orang Mandailing dan penyebaran mereka sehingga terbagi atas dua etnis dan identitas budaya; di Indonesia, Mandailing adalah Batak-Mandailing dan di Malaysia, mereka Melayu," kata Lubis.

Gordang Sambilan di Hari Kemerdekaan

Penerimaan Mandailing ke dalam Melayu membuat mereka benar-benar diakui eksistensinya. Dalam artikel Lubis yang lain, "Mandailing-Islam Across Borders" pada tahun 2004, jumlah orang Mandailing di Malaysia lebih dari 30 ribu orang. Mereka tersebar di sejumlah negara bagian seperti Perak, Selangor dan juga Kuala Lumpur, Ibukota Malaysia.

Di perantauan, orang-orang Mandailing membawa kebudayaan mereka. Salah satu yang unik adalah Gordang Sambilan atau Sembilan Gendang.

Di Selangor, orang-orang Mandailing ini berhasil melobi kerajaan untuk menjadikan Gordang Sambilan sebagai alat musik resmi kerajaan. Tahun 2001, Pesta Pulang Pinang di Penang, secara resmi dibuka dengan Gordang Sambilan dan puncaknya, Gordang Sambilan dimainkan di peringatan puncak Hari Kemerdekaan Malaysia pada 31 Agustus 2002. (umi) 

Sumber : [Vivanews]
Author Niel di Monday, June 18, 2012 0 komentar
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: ASEAN, Culture, Nusantara, Sejarah, Seni, Unik

Tuesday, June 12, 2012

Komplek Makam Malikulsaleh dan Hamzah Fansyuri Segera Dipugar


JAKARTA -  Komplek Makam Malikulsaleh di Aceh Utara dan Makam Syekh Hamzah Fansyuri di Desa Obok, Kota Subulussalam, segera  dipugar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

"Komplek Makam Malikulsaleh dan makam Hamzah Fansyuri sudah masuk dalam program kegiatan kami dan akan dibangun tahun depan," kata Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wiendu Nuryanti saat diterima Wakil Ketua MPR RI, Ahmad Farhan Hamid di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (12/6/2012).

Menurut Wamen Bidang Kebudayaan itu, pemerintah menganggarakan Rp10 miliar untuk pembangunan cagar budaya Malikulsaleh.

Dalam pertemuan itu, selain mebicarakan rencana pemugaran kamwasan Kerajaan Samudra Pasai dan makam Hamzah Fansyuri, Farhan Hamid juga mengengigatkan Pemerintah tentang revitalisasi tempat pengasingan Soekarno di Ende, Nusa Tenggara Timur.

"Saya menyampaikan hal ini sebagai pesan khusus dari Ketua MPR Bapak Taufik Kiemas yang tak bisa hadir dalam pertemuan ini," kata Farhan Hamid. Wakil Ketua MPR dikabarkan dalam keadaan kurang sehat.

Saman dan Didong

Secara khusus Wamen Bidang Kebudayaan  menyampaikan rencana penyelenggaraan "Saman Summit" di Jakarta. Tari Saman yang telah ditetapkan oleh Unesco sebagai warisan kebudayaan dunia, menurut Wamen akan dipertunjukan kepada pablik dalam suatu kegiatan terpadu.

"Saya ikut hadir pada sidang penetaoan saman sebagai warisan budaya dunia di Bali. Itu tarian luar biasa. Wakil-wakil negara saat itu dijari menari saman oleh bupati Gayo Lues," cerita Wamen Wiendu.

Sementara Farhan Hamid menyampaikan rencana pihaknya menggelar pertunjukan didong jalu atau didong tanding di Gedung MPR.

"Didong adalah kesenian yang berlangsung satu malam suntuk, sama seperti wayang," kata Farhan Hamid.

Disebutkan, saman, didong merupakan wujud dari kekayaan  kebudayaan Indonesia, karenanya pemerintah harus memberi  perhatiaan, tambah Farhan Hamid. [Serambi Indonesia]
Author Niel di Tuesday, June 12, 2012 0 komentar
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: Aceh, Culture, Pariwisata, Sejarah, Seni, Tokoh

Monday, June 11, 2012

In Picture : Nita Chang Model Cantik Asal Taiwan




































Sumber
Author Niel di Monday, June 11, 2012 0 komentar
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: ASIA, Hiburan, LifeStyle, Seni
Older Posts Home
Subscribe to: Posts (Atom)

Search

Translate

Berita Terbaru

Labels

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Arsip Blog

Fanspage

[tutup]

Total Pageviews

Anonymous Aceh. Ethereal theme. Powered by Blogger.